Meretas Batas Patriarki: Suara dan Ketahanan Perempuan

oleh -140 Dilihat
Ilustrasi by Dhiya

Oleh: Dhiya’ Almirra Azzahra (24.E2.0013)
Mahasiswi Magister Sains Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata.

Perempuan bukan objek kasihan, tetapi subjek perubahan yang memiliki daya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Di tengah kehidupan masyarakat yang masih dibayangi oleh sistem patriarki, perempuan sering kali menjadi sasaran hinaan, penilaian merendahkan, dan berbagai bentuk diskriminasi sosial. Sayangnya, ini bukan sekadar persoalan budaya, melainkan juga soal ketahanan psikologis yang terancam.

Hinaan yang diterima perempuan, baik dalam ruang privat maupun publik, bisa meninggalkan luka yang mendalam. Trauma semacam ini berisiko melemahkan semangat, kepercayaan diri, dan bahkan membahayakan kesehatan mental.

Namun, di balik semua itu, ada satu kekuatan yang tak boleh diabaikan: resiliensi. Sebuah kemampuan untuk bertahan dan bangkit kembali dari keterpurukan mental dan sosial. Bagi perempuan, resiliensi bukan pilihan, tetapi kebutuhan untuk bisa tetap hidup bermartabat.

Psikolog Reivich dan Shatté (2002) menyebut bahwa resiliensi adalah faktor penting dalam menghadapi tekanan kehidupan. Mereka merumuskan tujuh keterampilan utama yang harus dimiliki individu untuk bisa melewati masa-masa sulit.

Resiliensi tidak hadir dengan sendirinya. Ia dibentuk dari berbagai proses, mulai dari pengalaman pahit, dukungan sosial, coping yang sehat, hingga kemampuan memberi makna atas penderitaan.

“Resiliensi bukan hanya kekuatan batin, tetapi juga hasil dari lingkungan yang mendukung.”

Perempuan yang hidup di tengah tekanan budaya patriarki kerap dianggap lemah jika memilih pendidikan tinggi atau jalur karier. Padahal, justru dengan pendidikan dan kemandirian ekonomi, perempuan bisa memperkuat posisi sosialnya dan berkontribusi nyata bagi lingkungan.

Dalam penelitian Sakina dan Danuri (2017), budaya patriarki di Indonesia masih menempatkan perempuan pada posisi subordinat, terutama dalam ranah domestik. Perempuan yang mengambil peran publik sering kali dianggap menyimpang dari norma sosial.

Sayangnya, masih banyak stigma terhadap perempuan yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang Magister, apalagi sambil berkarier. Mereka dianggap ‘melawan kodrat’ atau terlalu ambisius. Padahal, setiap individu memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang.

Pandangan ini tak jarang datang dari lingkungan terdekat: keluarga, tetangga, bahkan rekan kerja. Karena itulah, membangun resiliensi menjadi upaya penting untuk menepis tekanan semacam ini dengan kepala tegak, tanpa membalas dengan amarah.

Resiliensi perempuan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan, tetapi justru menyadari situasi yang ada sambil tetap memilih untuk berproses menuju pemulihan.

Dukungan sosial sangat berperan dalam memperkuat resiliensi perempuan. Ketika keluarga, komunitas, atau institusi memberikan ruang aman dan menghargai pilihan perempuan, maka peluang untuk bangkit dan berkembang jadi semakin besar.

“Dukungan adalah bahan bakar utama dalam membangun resiliensi perempuan.”

Selain itu, kemampuan coping juga penting. Perempuan perlu memiliki cara sehat dalam mengelola stres dan tekanan sosial. Misalnya melalui journaling, kegiatan spiritual, konsultasi psikologi, hingga berkegiatan dalam komunitas positif.

Desmita (2012) dalam bukunya Psikologi Perkembangan menjelaskan bahwa individu yang mampu mengembangkan mekanisme coping adaptif akan lebih siap dalam menghadapi tekanan, termasuk tekanan sosial berbasis gender.

Yang tak kalah penting adalah kemampuan untuk memaknai pengalaman hidup secara positif. Di sinilah kekuatan perempuan terlihat: mereka mampu mengubah luka menjadi pelajaran, dan penderitaan menjadi pijakan untuk tumbuh.

Dengan memaknai pengalaman buruk secara konstruktif, perempuan bisa membangun ketahanan psikologis jangka panjang. Ini menjadi modal penting untuk tetap produktif, berdaya, dan berkontribusi.

Penelitian Fajrina (2012) tentang remaja putri korban kekerasan seksual juga menunjukkan bahwa makna hidup dan dukungan sosial menjadi faktor utama yang membentuk resiliensi pada perempuan.

Resiliensi tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga memberi inspirasi pada perempuan lain. Ia menular, ia menguatkan. Satu perempuan yang berani bangkit bisa mendorong ratusan perempuan lain untuk ikut melangkah maju.

Kita sering mendengar kisah perempuan yang sukses menghadapi tantangan berat dalam hidupnya. Mereka menjadi bukti nyata bahwa ketangguhan bukanlah milik satu gender, tetapi bisa dibangun oleh siapa pun, termasuk perempuan.

Namun, membangun resiliensi perempuan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab kolektif. Masyarakat harus mulai menciptakan ruang sosial yang inklusif, bebas diskriminasi, dan menghargai keberagaman pilihan hidup.

Budaya patriarki yang telah mengakar selama puluhan tahun harus mulai dikikis dengan cara membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan gender.

Munasaroh (2022) dalam kajiannya menyebut bahwa keberlanjutan pembangunan tidak akan pernah tercapai jika masih ada kekerasan berbasis gender dan ketidaksetaraan peran dalam keluarga dan masyarakat.

Institusi pendidikan, organisasi masyarakat, hingga tempat kerja harus menghapus budaya seksisme yang halus maupun terang-terangan. Sebab, kualitas SDM—bukan gender—yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan seseorang.

“Kualitas SDM yang baik, tanpa melihat gender, akan membawa perubahan positif bagi organisasi dan masyarakat.”

Perempuan berpendidikan tinggi atau yang memilih karier profesional bukanlah ancaman, melainkan potensi besar. Semakin banyak perempuan hebat dalam organisasi, semakin besar peluang pertumbuhan dan inovasi yang dihasilkan.

Resiliensi juga menjadi kunci penting dalam mendorong perempuan agar tidak menyerah ketika sistem belum berpihak. Ketangguhan mental akan menuntun pada inovasi dan keberanian mengambil peran strategis dalam masyarakat.

Ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh, maka lahirlah generasi yang lebih terbuka, toleran, dan beradab. Perempuan bukan hanya mendidik anak, tetapi juga turut membentuk masa depan bangsa.

Resiliensi adalah proses panjang. Ia bukan hanya tentang menjadi kuat, tetapi tentang tetap lembut meski dunia sering kali keras. Tentang tetap memberi meski sering tak dihargai. Tentang tetap berdiri meski kerap dijatuhkan.

Dalam konteks pembangunan bangsa, perempuan yang resilien adalah aset strategis. Mereka tidak hanya mengangkat diri mereka sendiri, tapi juga keluarga, komunitas, dan generasi penerus.

Kisah resiliensi perempuan juga mencerminkan harapan bagi masa depan. Harapan bahwa perempuan Indonesia dapat berdiri sejajar, berkarya, dan dihormati dalam segala ranah kehidupan.

Oleh karena itu, mari kita ubah cara pandang terhadap perempuan. Mari kita hentikan cibiran terhadap perempuan yang berjuang. Sebaliknya, mari kita dukung, beri ruang, dan percayai mereka.

“Ketika satu perempuan dikuatkan, satu masyarakat akan tercerahkan.”

Dan ketika seluruh perempuan diberdayakan, maka bangsa ini akan melangkah menuju masa depan yang lebih adil dan bermartabat. Karena resiliensi perempuan bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang menciptakan perubahan yang berkelanjutan.


Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili kebijakan redaksi secara keseluruhan.

KOMENTAR SEDULUR ISK :