Miris, Jumlah Penderita HIV/AIDS di Kudus Tahun 2019 Meningkat Tajam

oleh -210 Dilihat

Kudus, isknews.com – Jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Kabupaten Kudus mengalami peningkatan cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Data yang di catat oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, penanganan penderita penyakit HIV/AIDS tahun 2018 adalah sebanyak 48 kasus. Namun pada tahun 2019 kemarin angka tersebut telah melonjak tajam menjadi 154 kasus.

Hal itu terungkap saat digelar agenda rapat Konsultasi Publik tentang Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Kudus Tahun 2021 di pendopo kabupaten setempat, Kamis (06/02/2020).

Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Sam’ani Intakoris, didampingi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kudus, Sudjatmiko dan Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset daerah (BPPKAD) Kudus, Eko Djumartono. Sedang publik yang hadir LSM, media massa dan sejumlah stakeholder lain yang ada di Kota Kretek.

Dalam paparannya Kepala Bappelitbangda Kudus, Sudjatmiko menyebutkan, jumlah kasus penyakit menular dari tahun 2015 hingga 2019 fluktuatif dan cenderung mengalami kenaikan.

“Terutama penemuan penderita HIV/AIDS dari 37 kasus di tahun 2015 menjadi 154 kasus pada tahun 2019, seluruh kasus tuntas tertangani,” ujarnya.

Program HIV/AIDS diarahkan untuk menemukan penderita HIV sedini mungkin agar segera dapat dilakukan penanganan untuk menurunkan dan
memutuskan mata rantai penularan (infeksi baru) dengan target capaian
terhadap kelompok risiko tinggi atau populasi tinggi sebanyak 16.620
sasaran di tahun 2019.

Berdasarkan faktor risiko, 75 persen kelompok heteroseksual, 19 persen kelompok lelaki suka lelaki (LSL), tiga persen kelompok biseksual, dan tiga persen faktor lainnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus sendiri telah berkomitmen melaksanakan program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Komitmen tersebut disampaikan Plt Bupati HM Hartopo saat membuka Rapat Koordinasi komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kudus, akhir 2019 lalu.

“Targetnya, zero infeksi baru, zero kematian akibat AIDS, dan zero diskriminasi terhadap penderita AIDS,” tambahnya.

Sementara, Koordinator Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Kasih Kabupaten Kudus, Eni Mardiyanti menyatakan, temuan peningkatan angka kasus penderita HIV/AIDS di Kudus tidak menjadikan dirinya kaget.

“Itu artinya pada tahun 2019 kemarin kinerja petugas lapangan dengan leading sector Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus cukup baik. Sebaliknya meningkatnya temuan kasus tersebut sebagai akibat belum berjalannya program pencegahan,” ujar Eni yang ditemui media ini usai kegiatan di Pendopo tersebut.

Anggaran untuk sosialisasi penyakit menular ke masyarakat termasuk
masalah HIV/AIDS sangat minim. Tahun 2019 sebesar hampir Rp 2 miliar,
tetapi pada 2020 ini justru mengalami penurunan.

“Tahun ini anggaran pencegahan hanya sekitar Rp 1 miliar,” terangnya.

Berdasar catatan KDS Kasih Kudus, jumlah kumulatif orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) sejak 2008 hingga 2019 sebanyak 1.151 penderita/
kasus.

Khusus 2019 terdapat 154 kasus, sebanyak 22 penderita meninggal
dunia. Penderita terbanyak laki- laki sebanyak 98 orang dan perempuan
56 orang. Tahun lalu, ODHA yang terdampingi sebanyak 121 orang
penderita.

“Paling rentan terjangkit HIV/AIDS yaitu mereka yang berusia antara 25
tahun hingga 49 tahun, serta di atas 50 tahun,” katanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.