Muncul Parkir Bus Liar Diluar TBK, Paguyuban Ojek Pertanyakan Ketegasan Dishub Kudus

oleh -2,174 kali dibaca
Sejumlah bus wisata ziarah Makam Sunan Kudus yang parkir disejumlah area rumah makan yang ada di ruas jalan Museum Kretek Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Sejumlah lahan parkir di arena kompleks Rumah Makan di kawasan sekitar Jalan Museum Kretek, Getas Pejaten, Jati, Kudus diduga menjadi lahan parkir liar bagi sejumlah bus wisata yang akan berziarah mengunjungi Makam Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus beberapa bulan kebelakang ini.

Hal tersebut disampaikan oleh pengemudi ojek motor yang tergabung dalam Paguyuban Ojek Bakalankrapyak, pihaknya menemukan adanya bus peziarah tidak parkir di Terminal Bakalankrapyak dan atas hal tersebut, mereka mengaku kehilangan banyak pendapatan.

Ketua Paguyuban Ojek Bakalankrapyak Kudus, Ulung Suharto mengatakan bahwa bus peziarah yang tidak parkir di dalam terminal sudah terjadi seja pandemi covid beberapa tahun kemarin hingga saat ini. Parkir liar bus peziarah sering mereka temukan di Jalan Museum Kretek turut Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.

Setidaknya setiap hari, ada sekitar bahwa hampir setiap hari sekitar 2-3 dan bisa sampai 8-12 bus setiap Minggu yang parkir di lokasi tersebut dengan membawa rata-rata 100 orang peziarah.

“Jadi sini (parkir) sepi, sana membludak. Perhari di sana bisa sekitar 2 dan 3 hingga 12 bus perminggu, terus penurunannya (peziarah) di Jalan Kiai Telingsing, tidak di Terminal Bakalankrapyak,” ungkap Ulung selepas berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Taman Parkir dan Terminal Bakalankrapyak, hingga pihak kepolisian sektor Kota Kudus, Senin (30/10/2023).

Sebelumnya, Ulung mengatakan bahwa koordinasi dengan dinas terkaityakni Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus sudah pihaknya lakukan, terkait ketegasan agar bus peziarah parkir di Terminal. Namun penindakan tegas belum juga dilaksanakan oleh Dishub.

“Dari rapat yang sudah dilaksanakan, disepakati bahwa bus boleh parkir di luar, tapi penurunan peziarah harus di Terminal Bakalankrapyak, tapi ternyata sampai saat ini belum ada pendidikan sama sekali, ternyata penurunannya tidak di sini,” terang Ulung.

Dampak dari bus peziarah yang tidak diturunkan di terminal juga dirasakan tukang ojek lainnya. Andrian mengaku, selama banyak bus peziarah mulai parkir di luar, ia mengaku pendapatannya menurun banyak.

“Penurunan hampir lima puluh persen lebih,” katanya.

Ia pun meminta, lokasi yang menyediakan parkir untuk bus peziarah untuk ditutup agar bus peziarah parkir hanya di terminal. Sebab jika semakin dibiarkan, Andrian mengatakan bahwa terminal semakin sepi dan pendapatan akan terus berkurang.

“Ojek Bakalankrapyak sangat sangat dirugikan sekali adanya parkir liar,” ucapnya.

Lebih lanjut, ketika keinginan para tukang ojek ini tidak diindahkan dinas terkait, ia akan terus memperjuangkan hak-hak rekan-rekan tukang ojek hingga para pedagang yang ada di area terminal yang merasa dirugikan adanya bus yang tidak menurunkan peziarah di terminal.

Sementara itu, Ketua Rombongan Peziarah dari Gresik yang tidak memarkirkan bus di terminal, Nanang mengatakan bahwa pihaknya ditawari pihak rumah makan untuk parkir di lokasinya. Untuk kemudian dari rumah makan, para peziarah akan dijemput angkot dan diantarkan ke Makam Sunan Kudus.

“Beliau (pengelola rumah makan) menawarkan makan prasmanan dan parkir di sana. Saya tidak tahu kalau ternyata di dalam perjalanan ada masalah di sini,” katanya.

Nanang pun mengaku bahwa memarkirkan bus di rumah makan baru dilakukannya tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya, ia dengan membawa rombongan selalu memarkirkan bus di terminal dan menurunkan para peziarah yang bersamanya di terminal.

Dengan adanya kebijakan ini, Nanang langsung mengikuti peraturan yang ada. Sebanyak 8 bus yang sebelumnya di parkir di rumah makan, sekitar pukul 12.00 WIB langsung dimintanya untuk ke terminal dan menjemput rombong peziarah yang bersamanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus, Nugroho, berjanji segera menindaklanjuti keluhan ojek Menara Kudus. Nantinya, rombongan bus peziarah harus masuk ke Terminal Bakalankrapyak. Kemudian setelah itu para peziarah baru ke rumah makan yang dituju.

“Tidak boleh ada penyediaan moda transportasi yang lain dari ruman makan. Rumah makan hanya sebagai rest area dan hanya sebagai tempat makan, bukan tempat penurunan penumpang,” tegas Nugroho usai berdialog dengan perwakilan tukang ojek Menara Kudus dan pihak Satlantas Polres Kudus.

Nugroho mengaku Dishub segera melakukan pengawasan. Jika ditemukan angkutan kota yang melanggar trayek dan tidak mengangkut peziarah ke Terminal Bakalan Krapyak, Dishub segera melakukan tindakan tegas.

“Kami sudah melakukan pembuatan Surat Keputusan (SK) sebagai dasar petunjuk teknis (juknis) penindakan. Setelah SK-nya keluar akan kita lakukan penindakan sesuai dengan apa yang ada di SK pengelolaan transportasi kawasan Menara,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.