“Ngonten Patiayam 2025”, Disbudpar Kudus Dorong Generasi Muda Melek Sejarah dan Digital

oleh -863 Dilihat
Ilustrasi pembuatan video konten oleh para pelajar (Isknews.com)

Kudus, isknews.com – Di tengah derasnya arus konten digital, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus mencoba cara unik untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Melalui lomba video bertajuk “Ngonten Patiayam 2025”, pelajar SMA/SMK/MA di Kudus diajak beradu kreativitas dalam mempromosikan potensi sejarah dan budaya Museum Situs Purbakala Patiayam lewat karya konten yang menarik dan edukatif.

Kegiatan ini digelar di Museum Situs Purbakala Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. Lomba tersebut menjadi bagian dari upaya Disbudpar untuk menggabungkan edukasi sejarah dengan semangat era digital, agar situs bersejarah Patiayam semakin dikenal generasi muda.

Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Disbudpar Kudus, Sudarman, mengatakan Patiayam menyimpan jejak masa prasejarah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan dan budaya Indonesia. Penemuan fosil hewan purba seperti stegodon, elephas, dan bahkan homo erectus menjadi bukti kuat bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu titik penting penelitian arkeologi di Pulau Jawa.

“Selama ini Patiayam dikenal sebagai kawasan purbakala, tapi belum banyak anak muda yang benar-benar mengenal kekayaan sejarahnya. Melalui lomba ngonten ini, kami ingin menghadirkan sejarah dengan cara yang lebih segar dan kekinian,” ujar Sudarman, Senin (13/10/2025).

Lomba Ngonten Patiayam 2025 berlangsung sejak 1 hingga 31 Oktober 2025, dan terbuka bagi seluruh pelajar SMA, SMK, MA, dan sederajat di Kabupaten Kudus. Peserta dapat mendaftar melalui tautan yang disediakan oleh panitia lomba dari Disbudpar Kudus.

Dalam petunjuk teknis lomba, peserta diberi kebebasan untuk mengeksplorasi segala potensi Museum Patiayam, mulai dari koleksi fosil, nilai sejarah, hingga daya tarik wisata. Video berdurasi 1–2 menit wajib memiliki resolusi minimal HD (1280×720), serta bebas dari unsur SARA, kekerasan, pornografi, dan politik.

“Anak muda sekarang sangat dekat dengan dunia digital. Kalau dulu promosi museum dilakukan lewat pameran atau brosur, sekarang cukup dengan video berdurasi satu menit yang bisa viral di media sosial,” tambahnya.

Disbudpar menyiapkan hadiah total jutaan rupiah bagi tiga karya terbaik. Juara I akan membawa pulang Rp 3.300.000, Juara II Rp 2.800.000, dan Juara III Rp 2.300.000.

Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya lokal serta menumbuhkan kesadaran bahwa sejarah bisa dikemas secara kreatif dan menginspirasi.

“Melalui cara mereka bercerita, kami yakin para peserta bisa memandang Museum Patiayam bukan sekadar tempat fosil, tapi sebagai sumber inspirasi untuk berkarya,” pungkas Sudarman. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.