Kudus, isknews.com – Setelah gelar sarasehan perkoian nasional di Pendopo Pemkab Kudus beberapa waktu lalu, para pelaku usaha perikanan dan komunitas ikan hias se Kabupaten Kudus melaksanakan sarasehan dan dialog yang difasilitasi oleh Dinas Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Sabtu (16/12/17).
Acara yang juga dihadiri Sekdakab Noor Yasin dan Hary Martono, motivator wirausaha dilaksanakan di aula gedung dinas tersebut,
Noor Yasin, Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, dalam sambutannya menyampaikan, program dinas tidak hanya bidang tanaman dan pertanian, tetapi juga perikanan dan peternakan. Setelah tanaman pangan ditata kini fokus pada perikanan.

“ Saya mendukung pembangunan showroom ikan hias di BBI Margorejo. Ini sangat jadi istimewa. Sebab pelaku usaha ikan hias itu tumbuhnya karena hobi. Sehingga ada ikatan batiniah namun bisa menjadi sumber ekonomi ,” kata Noor Yasin dihadapan ratusan undangan.
Saya yakin, lanjutnya, Dinas Pertanian dan Pangan mampu memberikan fasilitasi pembinaan, penyuluhan dan pendampingan, ketersediaan bibit dan pengembangann lainnya. Kemudian mendorong adanya expo atau pameran, sehingga Kudus akan semakin banyak dikenal sebagai pusat produksi ikan hias.
“ Namun itu semua cukup berat apabila tidak dilakukan bersama-sama. Oleh karena itu sekarang kami mengajak untuk semua pelaku usaha komunitas ikan hias dan pelaku usahanya untuk bersinergi dengan dinas. Supaya kemajuan dan harapan cepat tercapai. Sehingga ini untuk mewujudkan masyarakat semakin sejahtera ,” lanjutnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Catur Sulistiyanto mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 mendatang pihaknya akan melakukan pembangunan lokasi gedung BBI Margorejo menjadi shoow room ikan hias.
Tempat ini selain menjadi untuk pusat pengembangan ikan hias juga sebagai edukasi warga dan disatukan dengan program wisata desa Margorejo Kecamatan Dawe.
“ Para pelaku usaha dari komunitas ikan hias ini menempatinya akan gratis. Nanti akan disiapkan tempat-tempat sesuai dengan produksinya ,” terangnya.
Bahkan, akan mengakomodir keluhan dari komunitas ikan hias terkait dengan sarana pengiriman yakni mobil yang dilengkapi dengan oksigen untuk menyuplai ikan ketika diperjalanan.
“ Untuk spesifikasinya masih kita diskusikan dengan teman-teman komunitas ikan hias seperti apa. Sebab mobil ini pasti berbeda dengan spesifikasi mobil dinas yang dipergunakan untuk mengangkut daging di RPH Kudus ,” urainya.
Wibowo dari komunitas petani lele, berharap agar mendapat pendampingan dari dinas terkait dengan peningkatan kualitas SDM untuk budidaya ikan lele dan ikan konsumsi lainnya.
Hal ini berdasarkan kondisi di lapangan bahwa banyak pelaku usaha ikan lele hanya sekedar punya minat namun tidak dibekali dengan keahlian budidaya. Sehingga jarang berhasil mendapatkan hasil yang bagus dan menguntungkan.
Hal senada juga diungkapkan perwakilan dari komunitas ikan hias Ulamsari. Pihaknya berharap adanya pelatihan budidaya ikan hias dengan ilmu terbaru dan sekaligus belajar ke kota lain.
“ Kami menyadari kualitas SDM kami cukup terbatas. Naik supaya meningkatkan keahlian dan wawasan mungkin dinas bisa mengadakan untuk diklat kemudian kunjungan ke tempat atau kota lain. Kita dengan komunitas ikan hias jenis lain berangkat bersama dengan dinas ,” cetusnya.
Dijelaskan oleh Catur, pihaknya sudah menyiapkan program-program pelatihan untuk peningkatan kualitas SDM para petani ikan jenis konsumsi.
“ Selain diklat atau pelatihan, nanti juga dilanjutkan dengan sekolah lapang atau mengunjungi para petani ikan yang sudah berhasil dan menerapkan teknologi terbaru. Jadi bisa langsung melihat penerapan teori di kelasnya. Saya berharap para pelaku usaha jenis konsumsi berkoordinasi dengan bidang perikanan yaa ,” jelasnya. (YM)











