Paling Terdampak, Puluhan Kru Armada Bus Pariwisata Kudus Berdoa Bersama Agar Corona Segera Berlalu

oleh

Kudus, isknews.com – Puluhan armada bus pariwisata di Kudus baik yang berskala medium maupun jenis elf atau hi-ace, oleh para pemilik, pengemudi maupun kru di parkir berjajar sepanjang jalan Panjang Lingkar Utara, Penganjaran, Kec. Bae, Kudus, tak jah dari lokasi SPBU Peganjaran.

Puluhan armada bus Pariwisata dan para awak kendaraan diparkir berjajar disepanjang jalan lingkar utara Peganjaran bae Kudus (Foto: YM)

Mereka adalah anggota paguyuban pengusaha dan pekerja Bus Pariwisata New harmony Kudus. Kehadiran mereka ditempat tersebut menurut juru bicara para pekerja Bus Pariwisata Achwan, sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi pandemi Corona yang menyebabkan terhentinya usaha jasa transportasi yang selama ini digelutinya.

TRENDING :  Deadline 11 Februari, Berdiri Diatas Tanah Negara, 13 Bangunan di KM 7 Jalan Kudus-Jepara Harus Dibongkar
Otobus dari Paguyuban New harmony Kudus memarkirkan kendaraan dan memansai mesin di sepanjang jalan tak jauh dari SPBU Peganjaran bae Kudus (Foto: YM)

Menurut Achwan yang juga pemilik Perusahaan Otobus Simatupang Trans, sektor transportasi wisata yang dikelolanya ini paling merasakan dampak terburuk dengan adanya wabah covid-19.

“Kami disini hanya dalam rangka merenung dan berdo’a bersama dengan kawan-kawan senasib, sekaligus memanasi mesin kendaraan yang sudah hampir 3 Bulan tak beroperasi,” kata Achwan, Senin (11/05/2020) malam.

Berdo’a bersama berharap virus corona segera berlalu dan mereka kembali dapat mencari nafkah (Foto: YM)

Penutupan obyek wisata dan imbauan untuk tidak ke tempat keramaian demi mencegah penyebaran corona (covid-19) membuat kami harus mengandangkan armada.

“Padahal, momen sebelum datangnya Ramadhan dan libur sekolah ini merupakan waktunya para pemilik perusahaan otobus panen rezeki,” terang pemilik armada Bus medium dan bus mini ini.

TRENDING :  Kolam Pemancingan di Sendang Jodo Terabaikan
Acara itu mereka sebut Manasi Bus Bersama (Foto: YM)

Berbagai order jelang bulan puasa terutama wisata ziarah dan berbagai acara keluar kota terpaksa dibatalkan. Bahkan permasalahan tak berhenti di situ saja, bayang-bayang setoran cicilan ke perusahaan leasing juga menghantui para pengusaha PO ini.

Dengan kondisi seperti ini, banyak armada yang dikandangkan, akibatnya membuat pemasukan tidak ada.

“Rata-rata pada pusing. Bayangkan saja, setiap armada yang baru dipastikan tidak beli tunai. Angsuran per bulan per bus bisa mencapai Rp 15 juta, ada yang lebih,” katanya.

TRENDING :  Pemilihan Mas dan Mbakyu Duta Wisata Masuki Tahap Tes Wawancara

Seharusnya, menurut Wawan panggilan akrab Achwan, pada bulan-bulan seperti saat ini, satu armada bus dalam satu bulan bisa memperoleh uang minimal diangka Rp 20 juta.

“Jika dikalikan selama 3 bulan nganggur, satu bis saja, maka tiga bulan ini kita kehilangan Rp 60 Juta,” kata Wawan.

Sementara sejumlah pengusaha mengaku masih memberikan uang saku bagi para kru otobusnya yang kini nganggur.

Mereka berharap agar pihak leasing maupun bank memberi toleransi berupa penangguhan pembayaran angsuran bus. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :