Parade dan Bazar Budaya Komaku UB Hidupkan Nuansa Kudus di Universitas Brawijaya Malang

oleh -695 Dilihat
Suasana Kirab
Forum Daerah Komunitas Mahasiswa Kudus Universitas Brawijaya (Forda Komaku UB) saat menggelar parade, busana adat, dan bazar kuliner khas Kudus (Foto: istimewa/Komaku)

Malang, isknews.com – Langit Malang tampak cerah ketika aroma soto dan jenang mulai menyeruak di lingkungan Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (18/10/2025). Di tengah keramaian acara tahunan Kampung Budaya, sekelompok mahasiswa asal Kudus menampilkan harmoni antara tradisi dan kebanggaan daerah mereka.

Adalah Forum Daerah Komunitas Mahasiswa Kudus Universitas Brawijaya (Forda Komaku UB) yang hari itu sukses menghidupkan nuansa Kudus di tanah rantau lewat parade, busana adat, dan bazar kuliner khas.

Sehari penuh, Forda Komaku UB menjadi salah satu bintang di antara puluhan komunitas daerah yang tampil. Mereka berpartisipasi di tiga agenda utama, yakni Lomba Gemilang Busana Adat, Parade Budaya, dan Bazar Kebudayaan.

“Tujuan kami bukan sekadar ikut serta, tapi menghadirkan pengalaman budaya Kudus yang utuh—dari visual, rasa, hingga nilai filosofinya,” ujar Firda Nuzula, peserta lomba busana adat.

Pada sesi parade, sepuluh mahasiswa Komaku berjalan anggun dengan formasi rapi. Satu penampil mengenakan busana adat Kudus sebagai pusat perhatian, sementara sembilan lainnya tampil dengan paduan atasan putih dan jarik khas daerah, menghadirkan kesan elegan dan harmonis.

Stand Forda Komaku UB di arena Bazaar Kebudayaan Universita Brawijaya yang menghidangkan Soto Kudus dan Jenang Kudus menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi (Foto: istimewa/Komaku)

“Kostum ini kami bawa bukan sekadar untuk tampil, tetapi untuk bercerita tentang identitas Kudus, filosofi kerja, dan kebanggaan kami sebagai mahasiswa asal Kudus,” tutur Firda.

Langkah-langkah mereka mengalun seirama dengan iringan musik tradisional. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap gerakan yang menyimbolkan perpaduan antara semangat muda dan warisan budaya.

Di sepanjang rute kampus, warna dan simbol Kudus terasa hidup—mengingatkan akan kekayaan budaya yang tak lekang oleh waktu.

Tak kalah menarik, antusiasme publik memuncak di area bazar kebudayaan. Stand Forda Komaku UB menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi. Dua kuliner utama, Soto Kudus dan Jenang Kudus, menjadi magnet sejak siang hingga malam.

Sementara minuman khas bernama Jellyblood es sirup Agung asli Kudus dengan biji selasih, jelly, dan perasan jeruk nipis—menjadi pilihan segar pengunjung yang penasaran.
“Saya tertarik ke stand Komaku karena ingin tahu rasa khas Kudus. Soto Kudusnya enak banget, gurih dan aromatik. Jenangnya legit dan langsung jadi favorit saya,” ungkap Nasywa Putri, pengunjung asal Padang.

Selama satu hari penuh, lebih dari 60 porsi soto dan 170 potong jenang terjual habis. Tak hanya soal rasa, penataan stand Komaku juga mencuri perhatian. Miniatur Menara Kudus, kain batik, replika proses pembuatan kretek, dan label menu bergaya lokal menjadi dekorasi yang memperkuat nuansa Kudus di tengah suasana kampus modern.

Bagi tim internal Komaku Berbudaya yang mempersiapkan acara, momen ini menjadi puncak perjalanan reflektif selama satu bulan. Ketua Umum Forda Komaku UB, Fahri Nuril Fikri, menuturkan bahwa partisipasi ini sekaligus menjadi penanda satu tahun perjalanan organisasi di UB.

“Partisipasi kami di Kampung Budaya bukan hanya ajang tampil, tapi bukti bahwa budaya Kudus bisa hidup di mana pun, selama ada semangat untuk mengenalkannya. Semua panitia bekerja keras, berlatih, dan saling dukung hingga akhirnya bisa tampil maksimal,” ujar Fahri.

Senja di Malang menutup perayaan itu dengan senyum lebar para anggota Komaku. Mereka berfoto bersama di depan stand, mengabadikan keberhasilan memperkenalkan budaya Kudus di tanah rantau.
Bagi mereka, bukan sekadar soal acara, tetapi bagaimana identitas Kudus bisa dibawa dan dirasakan oleh banyak orang di lingkungan akademik yang beragam.

Dari satu hari di Kampung Budaya, publik Universitas Brawijaya diajak melihat, mencicipi, dan memahami pesan budaya di balik setiap simbol yang dihadirkan.

Komaku UB berhasil membuktikan bahwa menjadi mahasiswa rantau bukan berarti meninggalkan akar, melainkan membawa pulang cerita tentang daerah dengan cara yang indah dan berkesan. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.