Kudus, isknews.com – Di tengah tantangan ketahanan pangan dan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional, ribuan anggota ‘Aisyiyah Kabupaten Kudus berkumpul dalam Tabligh Akbar Milad ke-108 di Crystal Building Universitas Muhammadiyah Kudus, Minggu (11/05/2025).
Kegiatan ini mengangkat tema besar “Memperkokoh Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Thayyibah Menuju Ketahanan Nasional”, yang menggarisbawahi kontribusi konkret ‘Aisyiyah di sektor pertanian dan pemberdayaan keluarga.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kudus, Eny Alifah Kurnia, dalam pidato miladnya menegaskan bahwa tema Milad ke-108 sangat sejalan dengan cita-cita pemerintahan Presiden Prabowo untuk mewujudkan swasembada pangan.
Ia menekankan pentingnya penguatan produktivitas lahan dan pemanfaatan lumbung pangan di desa sebagai solusi ketahanan nasional.
“Gerakan ‘Aisyiyah ini merupakan bagian dari ajaran teologi Al-Maun yang diperjuangkan oleh KH Ahmad Dahlan. Kita tidak sekadar membaca dan menghafal ayat, tapi juga mengamalkannya melalui pengentasan kemiskinan dan kebodohan,” ujar Eny.
Ia juga mengingatkan bahwa perempuan berkemajuan menurut Islam harus mampu berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang rahmatan lil-‘alamin.
Dalam konteks ketahanan pangan, Eny mengajak seluruh anggota untuk memulai dari pekarangan rumah dengan menanam sayur, buah, dan umbi-umbian.
“Anggota Aisyiyah diharapkan untuk terus mengamalkan tujuh karakter perempuan berkemajuan: iman dan takwa, taat beribadah, akhlak karimah, berpikir tajdid, bersikap wasatiyah, amaliah sholihah, serta sikap inklusif,” pesannya.
Sementara, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, KH Noor Muslikan, dalam sambutannya menekankan agar seluruh cabang dan ranting ‘Aisyiyah menjadikan Qaryah Thayyibah sebagai basis gerakan,.
“Untuk berkhidmah dalam membangun ketahanan pangan sebagai bentuk amal saleh,” tuturnya.
Tabligh Akbar juga menghadirkan H. Jumari, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, yang dalam pengajiannya menyoroti pentingnya amal kebaikan berdasarkan Al-Qur’an, serta keutamaan sikap kepemimpinan yang bijak dan dermawan.
“Aisyiyah sejak awal menjadi pilar penting dalam gerakan Muhammadiyah, karena kehadirannya sangat dibutuhkan. Maka, perempuan ‘Aisyiyah harus memberikan karya nyata, bukan hanya kata-kata,” tegas Jumari.
Ia juga menekankan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengayomi, dermawan, serta mampu memandang sesama secara positif. Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi landasan untuk terus menjadi perempuan berkemajuan yang memberi kebermanfaatan bagi umat.
Sebelumnya, mewakili Bupati Kudus, Kepala Kesbangpol, Muhammad Fitrianto, memberikan apresiasi atas kontribusi nyata ‘Aisyiyah dalam pembangunan daerah.
“Perjalanan panjang ‘Aisyiyah telah memberikan kontribusi besar terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Program pemberdayaan kader yang dilakukan juga sangat sukses, dan kami berharap ‘Aisyiyah terus bersama-sama membangun Kudus menuju masyarakat yang Sejahtera, Harmoni, dan Taqwa,” ujarnya. (YM/YM)










