
Blora, isknews.com (Lintas Blora) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Dinas Sosial Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A), sedang mendata penyandang disabilitas (penyandang cacat fisik dan mental) yang tersebar di 16 kecamatan (295 desa/kelurahan).
“Masih terus didata melalui lurah/kades, maka kami minta bantuan ke kawan-kawan camat,” tandas Kepala Dinsos P3A Kabupaten Blora, Sri Handoko.
Menurut mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), bahwa pendataan warga disabilitas atau penyandang cacat fisik dan mental (bisa juga gabungan cacat keduanya) menjadi sangat penting, agar Pemkab selalu siap dengan angka yang akurat.
“Iya masih terus kami data, sementara ini warga penyandang sebanyak 2.829 orang,” jelas Sri Handoko.
Saat sebanyak itu, kata mantan Camat Kota Blora, terdiri disabilitas fisik daksa (799 orang), netra (353 orang), bisu tuli (334 orang). Disabilitas mental, mental (35 orang), grahita (346 orang), laras (305 orang), dan ganda (98 orang), sehingga totalnya 2.270 orang.
Untuk anak, lanjutnya, disabilitas fisik daksa (180 orang), netra (25 orang), bisu tuli (89). Disabilitas karena mental (9 anak), grahita (162 anak), laras (33 anak), dan ganda 61 anak, jumlah semuanya terdata ada 559 anak.
“Kami sedang ajukan bantuan dana ke Pemkab (APBD Perubahan 2017) untuk disabilitas, maka perlu data yang terinci,” tambahnya
Sri Handoko menambahkan, data yang kini masuk ke Dinsos P3A tentua akan berubah, selain karena pendataan masih terus berjalan, bisa juga penyandang disabilitas bertambah dan berkurang, bisa karena sembuh, atau dengan bantuan medis.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 60 orang penyandang cacat datang dari berbagai desa di kabupaten paling timur di Jateng untuk menerima bantuan kaki/tangan palsu dari donatur asal Jakarta. Bantuan diserahkan Kepala Bappeda H. Sutikno Slamet di kantornya.
Terpisah Ketua Difabel Blora Mustika (DBM) M. Abdul Ghofur menjelaskan, di 16 kecamatan se-Blora saat ini komunitasnya (DBM) baru tercapai 525 orang anggota cacat fisik, terbanyak di Kecamatan Banjarejo, Kunduran, dan Ngawen.
Koordinator lapangan (Korlap) yayasan Peduli Tuna Daksa Jakarta, Said, menjelaskan bahwa kegiatan kemanusiaan ini mendapat dukungan dari PT Asuransi Sequies Life, dan telah menyerahkan 11.000 lebih kaki/tangan palsu warga Indonesia.
“Sudah 11.000 bantuan kami salurkan, dan di Jateng saja telah disalurkan 5.100 alat bantu warga difabel, khususnya kaki dan tangan palsu,” jelasnya. (**)









