Jepara, ISKNEWS.COM – Seni ukir Jepara, yang selama puluhan tahun menghidupi masyarakat seperti berada diujung takdirnya. Sebab para pewaris budaya kota ini, tidak banyak yang berminat meneruskan warisan leluhurnya. Akibatnya, kini mulai dikeluhkan semakin langkanya perajin ukir usia muda. Hal ini disampaikan Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara, Hadi Priyanto, dalam Focus Group Discussion, “Merawat Seni Ukir Jepara”, Senin (23-4-2018) di Gedung Ratu Shima Jepara.
“Kondisi ini, cukup menimbulkan kecemasan akan masa depan seni ukir Jepara,” kata Hadi.
Kekhawatiran ini, telah muncul tahun 1995 saat SMIK Negeri Jepara yang memiliki jurusan kerajinan kayu, logam tekstil dan keramik berubah menjadi SMK N 2 Jepara. “Tahun 2014, sekolah ini membuka jurusan seni ukir. Namun gagal, tidak mendapatkan ijin Kemendikbud. Saat ini, siswa terpaksa kembali ke program studi desain dan produksi kriya kayu,” kata dia.
Dikatakannya, pelestarian alamiah lewat keluarga perajin, serta tradisi nyantrik di brak-brak kecil, sudah miskin peminat. “Alasannya, seni ukir tidak memberikan jaminan masa depan yang layak,” kata Hadi.
Hal ini juga dibenarkan oleh Anas Purwanto, dari Komunitas Ukir di Jepara. Dikatakan Purwanto, para perajin ukir, seperti yang berada di wilayah Suwawal Kecamatan Mlonggo, dan juga Kuwasen Kecamatan Jepara, mulai beralih bekerja di industri garmen yang lebih menggiurkan. “Karena penghasilan dari garmen lebih banyak, mereka rela menjual peralatan ukirnya,” kata dia. (ZA/WH)






