Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Produktifitas garam di Kabupaten Jepara hingga Agustus ini belum mencapai 50 persen dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya di Agustus ini produksi mencapai 10 ribu ton, maka tahun ini baru sekitar 4800 ton. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Jepara Wasiyanto, baru-baru ini.
Menurut Wasiyanto, anomali cuaca yang kadang masih turun hujan menyebabkan produktifitas garam tidak maksimal. Sejak tahun lalu, memang cuaca sering menjadi kendala sehingga produksi menurun. Kondisi ini yang menjadikan stok garam beberapa waktu lalu menipis dan memicu harganya untuk naik.
Sementara untuk harga, katanya, memang terus mengalami penurunan. Saat ini, harga garam sekitar Rp. 180-250 ribu tiap tombongnya. “Harga memang turun, lantaran stok yang mulai banyak karena panen dan hal-hal lainnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Wasiyanto menambahkan, pihaknya memang tidak bisa berbuat banyak untuk meningkatkan produktifitas garam. Menurutnya, tahun ini bantuan geomembran memang tidak dianggarkan. Tahun ini bantuan untuk petani garam hanya bantuan jalan produksi di Desa Surodadi Kecamatan Kedung senilai sekitar Rp.200 juta. “Yang khusus untuk garam memang baru bantuan untuk jalan produksi. Untuk geo membran mungkin bisa dianggarkan tahun berikutnya,” jelasnya.
Sementara itu, petani garam Lafiq meminta pemerintah menutup sementara keran impor. Menurutnya, impor garam menjadi sebab turunnya harga komoditas tersebut. Meskipun ia tak menampik saat ini sebagian besar petani memang sedang memanen produk laut itu.
“Saat sedang berlimpah garam para tengkulak bebas menentukan harga. Hal itu karena mereka punya keleluasaan memilih antara garam yang bagus dan garam yang berkualitas rendah. Ini juga berpengaruh pada penentuan harrga jual,” ujarnya.
Lafiq melanjutkan, jika setelah terjadi penurunan harga seperti ini, biasanya akan terjadi penurunan terus menerus. Hal itu karena sedang panen garam kedua ada permainan harga dari tengkulak. “Dengan adanya impor, tentu permintaan dari perusahaan ke petani berkurang lantaran mereka lebih memilih garam impor. Untuk itu kita minta impor garam dihentikan dulu,” pungkasnya. (ZA)






