Ratusan Anak di Kudus Terjangkit Suspect Campak, DKK Pastikan Situasi Masih Terkendali

oleh -505 Dilihat
Ilustrasi Penyakit campak. (Foto: Generated By AI)

Kudus, isknews.com — Ratusan kasus suspect campak ditemukan di Kabupaten Kudus sepanjang 2025 hingga awal 2026. Meski jumlahnya mencapai ratusan kasus, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus memastikan kondisi tersebut masih dalam batas terkendali dan belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Berdasarkan laporan DKK Kudus per 13 Maret 2026, total terdapat 464 kasus suspect campak. Dari jumlah itu, sebanyak 257 kasus dialami pasien laki-laki dan 207 kasus pada perempuan.

Subkoordinator Surveilans dan Imunisasi DKK Kudus, Aniq Fuad, mengatakan tren kasus pada Maret 2026 justru mulai menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Untuk bulan Maret ini kasusnya sudah mulai menurun. Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama terkait pentingnya imunisasi, perbaikan gizi anak, serta menjaga lingkungan yang sehat,” ujarnya saat dihubungi, Senin (16/3/2026).

Dari sisi pemeriksaan laboratorium, tercatat sebanyak 464 sampel telah dikirim untuk pengujian. Dari 60 sampel yang sudah diperiksa, sebanyak 31 dinyatakan positif dengan tingkat positivity rate sekitar 6,68 persen.

Fuad menjelaskan, salah satu faktor yang memicu meningkatnya kasus suspect campak adalah menurunnya cakupan imunisasi pada masa pandemi COVID-19. Pada periode tersebut, banyak anak yang tidak memperoleh imunisasi lengkap, terutama vaksin Measles Rubella (MR).

Pada masa COVID-19 memang banyak anak balita yang status imunisasi MR-nya belum lengkap karena keterbatasan layanan vaksinasi saat itu,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, DKK Kudus telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan program kejar imunisasi bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap.

Sasaran utama program tersebut adalah anak usia di bawah lima tahun serta siswa sekolah dasar, khususnya kelas 1 dan kelas 3, melalui kegiatan imunisasi di sekolah maupun fasilitas layanan kesehatan.

Kami melakukan kejar imunisasi untuk anak di bawah lima tahun serta anak sekolah agar status imunisasinya bisa segera lengkap,” katanya.

Selain upaya imunisasi, DKK Kudus juga menekankan pentingnya deteksi dini gejala campak oleh orang tua. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam yang disertai munculnya ruam atau bercak merah pada kulit.

Namun demikian, pihaknya mengakui masih ada masyarakat yang menyepelekan gejala awal penyakit tersebut sehingga terlambat membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Kadang masyarakat menganggap enteng gejala awal. Biasanya baru datang ke fasilitas kesehatan setelah kondisinya cukup berat. Ini yang terus kami edukasi agar segera memeriksakan diri saat muncul gejala awal,” terangnya.

DKK Kudus juga memastikan layanan pengobatan campak di fasilitas kesehatan pemerintah diberikan secara gratis. Hingga saat ini, kasus suspect campak yang tercatat di Kudus juga tidak menimbulkan kematian.

Alhamdulillah untuk angka kematian nol, dan pelayanan pengobatan di rumah sakit untuk kasus campak juga gratis,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau para orang tua yang memiliki anak usia di bawah 59 bulan agar memastikan anaknya mendapatkan imunisasi MR lengkap sesuai jadwal.

Harapan kami orang tua bisa memastikan anaknya mendapatkan imunisasi MR lengkap, karena ini langkah paling efektif untuk mencegah campak,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.