Rektor UMK Targetkan Penambahan 50 Guru Besar, Perkuat Ekosistem Akademik

oleh -98 Dilihat
Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si., menegaskan komitmen kampus dalam meningkatkan jumlah guru besar sebagai bagian dari penguatan kualitas akademik. Hal itu disampaikannya saat diwawancarai pada Senin (13/4/2026), usai pengukuhan guru besar di Auditorium UMK.

Menurutnya, pengukuhan Prof. Dr. Drs. Muh. Syafei, M.Pd. sebagai guru besar menjadi tonggak penting bagi UMK dalam menjaga dan meningkatkan predikat akreditasi unggul yang telah diraih.

Hari ini UMK kembali mengukuhkan guru besar. Ini menjadi kapital penting bagi kami untuk terus tumbuh dan mempertahankan keunggulan, baik dari sisi mutu maupun kualitas akademik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam roadmap pengembangan institusi, UMK menargetkan penambahan hingga 50 guru besar dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, setiap tahunnya diharapkan mampu melahirkan sekitar 5 hingga 10 profesor baru.

Target ini kami dorong dari internal, karena potensi dosen di UMK cukup besar, terutama dari kalangan lektor kepala yang produktif,” jelasnya.

Untuk mendukung percepatan tersebut, UMK telah membentuk unit layanan pengembangan karier dosen sejak tiga tahun terakhir. Unit ini secara khusus menangani proses pengajuan jabatan fungsional, sehingga kenaikan pangkat dosen dapat berjalan lebih terarah.

Kalau ada dosen yang puluhan tahun tidak naik jabatan, itu menjadi evaluasi bersama. Artinya tata kelola harus diperbaiki. Kami ingin semua dosen memiliki kepastian karier,” tegasnya.

Darsono menyebut, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Banyak dosen yang berhasil naik dari asisten ahli menjadi lektor, hingga lektor kepala. Ia menyebut kondisi ini sebagai “masa panen” dari pembenahan sistem yang telah dilakukan.

Lebih lanjut, peningkatan jumlah guru besar diyakini akan berdampak besar terhadap ekosistem akademik kampus. Dengan ekosistem yang kuat, proses diseminasi keilmuan akan berjalan lebih baik dan pada akhirnya meningkatkan kualitas lulusan.

Kalau ekosistem akademik baik, maka kualitas pembelajaran juga meningkat. Dampaknya, lulusan akan lebih siap dan mampu berkontribusi di masyarakat,” ungkapnya.

Selain penguatan sumber daya manusia, UMK juga tengah bersiap menghadapi tantangan perkembangan kecerdasan buatan (AI) di dunia pendidikan. Darsono menegaskan, kampus harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan esensi pembelajaran.

Perguruan tinggi harus familiar dengan AI, tidak hanya dalam penggunaan, tetapi juga dalam pengendalian untuk menjaga kualitas,” katanya.

Saat ini, UMK sedang mengkaji regulasi serta menyiapkan instrumen untuk mengontrol penggunaan AI, khususnya dalam penulisan karya ilmiah seperti skripsi. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah penggunaan sistem pelacakan kesamaan (similarity), meski diakui belum sepenuhnya mampu mendeteksi penggunaan AI.

AI ini berbeda, karena hasilnya bisa beragam tergantung pada prompt. Ini yang menjadi tantangan dalam pengawasannya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai kehadiran AI tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Sebagai produk manusia, teknologi tersebut justru harus dimanfaatkan secara bijak sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

Kuncinya adalah bagaimana manusia memposisikan AI sebagai instrumen, bukan sebagai yang utama,” tegasnya.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, UMK optimistis mampu menjaga kualitas akademik sekaligus mencetak lulusan yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan zaman. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :