Sambut Dunia Industri Kawasan Nasional Melalui Revitalisasi SMK Penyelarasan Kejuruan

oleh -802 Dilihat

Kudus, isknews.com – Dalam rangka meningkatkan kualitas SMK dalam hal kebekerjaan dan daya saing lulusan, Direktorat Pembinaan SMK melalui Subdit Penyelarasan Kejuruan dan Kerjasama Industri mengadakan workshop “Revitalisasi SMK Penyelarasan Kejuruan” di Hotel Hom Kudus, Minggu (5/11/17).

SMK NU Ma’arif Kudus mengajak 42 SMK mitra untuk bekerjasama dengan 70 perusahaan atau industri besar di kawasan nasional. Focus Group Discussion (FGD) digelar menjadi 7 kelompok diskusi, diantaranya BKK, Teknik Permesinan, Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Teknik Instalasi, Sepeda Motor, Kendaraan Ringan dan Tata Busana. Hal itu dikatakan Penanggung jawab program Beny Yulianto, kepada awak media.

Dijelaskan Beny, Tujuan diadakan acara tersebut adalah penyelarasan kurikulum industri dan kurikulum sekolah, endingnya nanti diharapkan siswa tidak canggung saat memasuki dunia kerja. “Pada dasarnya kita ditunjuk direktorat menjembatani SMK-SMK mitra, mempersiapkan anak-anak didik ke dunia industri,” tegasnya

Saat ini baru 30 persen terkait penyerapan tenaga kerja lulusan SMK di industri nasional. Diharapkan setelah adanya penyelarasan kurikulum SMK dan Industri, nantinya ada peningkatan dan mencapai target 60 persen setiap kelulusan. Ditambahkan, Nantinya juga ada program magang ke Jepang untuk siswa maupun guru. Selain itu, belajar langsung ke industri secara bergantian.

Pengembangan soft skill siswa juga bagian dari penyelasaran kurikulum, diharapkan saat memasuki dunia kerja, siswa telah mampu dan lolos psikotes, “karena hal itu telah diterapkannya penyelarasan soft skill disekolah sehingga industri telah mampu menerima kualitas siswa,” tandasnya

Mereka diajarkan terbiasa disiplin dan tanggung jawab layaknya di lingkungan kerja. Beny mencontohkan, jika ada siswa yang mematahkan alat praktek, maka dia cukup menggantinya dengan kerja lembur seharga alat tersebut, jadi tidak dalam bentuk barang atau uang.

Ditambahkan, dari hasil-hasil kompetensi siswa, untuk lulusan dari SMK di Kabupaten Kudus saat ini ternyata belum masuk ke kawasan industri nasional. Bisa dikatakan baru sekitar 10 persen. Menurutnya ada banyak pertimbangan, “Siswa takut untuk kerja di luar kota/propinsi, atau sebaliknya dikarenakan orang tua yang khawatir dengan anaknya karena terpisah jarak,” bebernya (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.