Sekolah Rusak di Kudus Terdampak Banjir dan Longsor, Bupati Siapkan Skema Perbaikan

oleh -481 Dilihat
Kondisi Bangunan di salah satu Sekolah Rusak di Kudus. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Dampak cuaca ekstrem yang memicu banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus turut mengganggu sektor pendidikan. Sejumlah bangunan sekolah dilaporkan mengalami kerusakan, sehingga Pemerintah Kabupaten Kudus menyiapkan skema khusus untuk percepatan perbaikan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana tersebut.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan bahwa penanganan kerusakan sekolah akan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan. Saat ini, pemkab masih melakukan pendataan dan inventarisasi di lapangan.

“Untuk sekolah yang mengalami kerusakan ringan akan kita tangani melalui anggaran perawatan yang sudah dialokasikan tahun ini. Sedangkan untuk kerusakan berat, nanti kita kaji terlebih dahulu,” ujar Sam’ani, Sabtu (17/1/2026).

Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, tercatat sedikitnya 58 sekolah terdampak banjir dan longsor. Dari jumlah tersebut, dua sekolah mengalami kerusakan bangunan cukup signifikan.

Dua sekolah yang mengalami kerusakan yakni SD 1 Pladen di Kecamatan Jekulo dan SD 2 Japan di Kecamatan Dawe. Kerusakan di SD 1 Pladen terjadi pada bagian atap dan plafon teras ruang kelas yang ambrol akibat hujan deras dengan intensitas tinggi pada Minggu (11/1/2026).

Sementara itu, SD 2 Japan terdampak longsor yang mengakibatkan kerusakan pada pondasi bangunan sekolah. Hingga saat ini, penanganan belum dilakukan dan masih menunggu keputusan lanjutan dari dinas terkait.

“Jika kerusakan masuk kategori berat dan tidak memungkinkan dibiayai dari anggaran perawatan, maka bisa kita pertimbangkan menggunakan dana Tidak Terduga (TT),” imbuhnya.

Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, menjelaskan bahwa kerusakan ringan seperti plafon dan atap masih dapat ditangani melalui anggaran perawatan rutin yang bersumber dari APBD 2026.

“Tahun ini alokasi anggaran perawatan rutin kurang lebih sebesar Rp 3,5 miliar dan akan difokuskan untuk perbaikan atap serta plafon,” jelas Anggun.

Untuk kerusakan pondasi bangunan di SD 2 Japan, lanjut Anggun, diperlukan kajian teknis lebih lanjut karena menyangkut struktur bangunan.

“Kalau pondasi harus dilakukan pembongkaran struktur. Jadi nanti akan kita lihat tingkat kerusakannya, dan bila memang mendesak bisa dialokasikan melalui anggaran perbaikan reguler,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan seluruh pihak sekolah agar segera melaporkan setiap kejadian kerusakan akibat bencana hidrometeorologi, guna mencegah potensi risiko yang membahayakan keselamatan siswa.

“Hujan masih berpotensi turun dengan intensitas tinggi. Kami minta sekolah tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kerusakan,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.