
Kasi Pengkajian Koleksi Muskitnas Isnudi mengatakan, kedatangannya tidak membawa barang-barang peninggalan Kartini, karena di Museum Kartini sudah banyak dipamerkan. Akan tetapi tidak banyak yang dinarasikan oleh karenanya kami hadirkan pemikiran tokoh tersebut. Hal itu didasari bahwa ide dan semangat juang melalui pendidikan adalah titik tolak perjuangan Kartini. “Pameran ini menyasar kawula muda untuk mengenalkan pemikiran tokoh emansipasi itu,” katanya.
Isnudi menambahkan, banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikirian Kartini, diantaranya pandangannya tentang poligami. Saat masih kecil, diceritakan Kartini tidak menyukai adat tersebut, namun pada akhirnya ia menjadi bagian dari adat itu. Disamping itu diceritakan pula kegigihannya dalam mencapai cita-cita.
Kartini sempat akan memasuki sekolah kedokteran, namun hal itu urung karena sistem pendidikan yang tak memihak perempuan. Pada waktu itu, sekolah kedokteran tidak menerima siswa perempuan, sehingga keinginannya kandas. “Untuk memasuki pameran tersebut pengunjung tidak dikenakan biaya. Muskitnas juga menyediakan pemandu yang akan mengungkap terkait sisi lain Kartini,” imbuhnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Bupati Jepara Sholih mengapresiasi pameran tersebut. Dalam keterangan tertulisnya mengatakan, agar pameran tersebut dapat meningkatkan kebanggaan masyarakat dan pada akhirnya memberi semangat nasionalisme kepada pemuda.
Seperti diketahui, Kartini yang lahir pada 21 April 1879 itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya terhadap hak asasi perempuan.Akhirnya, hari lahir Kartini diperingati oleh bangsa indonesia sebagai hari Kartini. (ZA)










