Kudus, isknews.com – Education Social & Studies Center bersama Djarum Foundation untuk kali pertama menggelar talk show bertemakan “Stop Berpikir Radikalisme Untuk Kehidupan yang Lebih Baik”.
Acara yang dilaksanakan di gedung rektorat STAIN Kudus itu mengundang 200 mahasiswa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari perwakilan kampus yang ada di Kudus, diantaranya, STAIN Kudus, Universitas Muria Kudus, Stikes Cendekia utama dan lainnya.
Muhtarom selaku panitia mengatakan, “Stop Berpikir Radikalisme Untuk Kehidupan yang Lebih Baik” menjadi tema yang menarik dengan hadirnya narasumber yang asyik, diantaranya Kisbiyanto ketua Ketua Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU), Subhan perwakilan dari kepolisian, Selanjutnya hadir Saiful Mujab dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus, dan Muhtarom selaku Direktur sekaligus memberikan materi.
Paham radikal dan terorisme dapat diantisipasi penyebarannya melalui penguatan pemahaman generasi muda terkait bahaya yang diakibatkan oleh paham tersebut. “Sebab itulah diadakan acara talk show ini,” Jelasnya
“Pelaku paham radikal dan terorisme selalu menjadikan generasi muda sebagai sasaran untuk ditarik sebagai anggota, kemudian dikorbankan. Menurut sejumlah penelitian, usia yang dinilai rentan untuk direkrut adalah 17 sampai 27 tahun sekitar usia mahasiswa” kata Muhtarom
Ia mengatakan, generasi muda pada usia tersebut memang relatif masih rentan, karena masih dalam proses mencari jati diri. Hal itulah yang dimanfaatkan pelaku paham radikal dan teroris untuk merekrut mereka.
“Karena itu, harapannya, kita bersama harus membentengi generasi muda ini dengan pemahaman yang betul tentang radikalisme dan terorisme agar mereka tidak terpedaya. Jangan sampai mereka nanti menganggap tindakan mencuri harta orang tua adalah halal untuk pergerakan radikal. Jangan nanti mereka sampai berpendapat merampok harta orang lain adalah halal untuk mencapai tujuan mereka,” ingatnya.
Namun menurutnya, upaya untuk membentengi generasi muda itu tidak bisa hanya dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saja. Meskipun banyak program dan kegiatan yang telah digagas, tetapi itu hanya merupakan tambahan pemahaman bagi generasi muda dan pihak terkait.
“Yang utama adalah ketahanan keluarga, pendidikan dan pemahaman itu harus dimulai dari keluarga kemudian baru ditambah dengan pengetahuan lain seperti sosialisasi yang dilakukan pemerintah,” katanya.
Ia berpendapat, jika ketahanan keluarga tidak ada, maka generasi muda yang rentan untuk bergabung dengan gerakan berbasis paham radikal akan terus ada. Selain itu, peran perempuan menurutnya juga sangat mutlak diperlukan.
“Meskipun sebagai seorang pekerja, tetapi wanita cendrung lebih memiliki waktu untuk mendidik anak. Karena itu, peran wanita yang membentengi anaknya dari paham radikal juga sangat dibutuhkan,” katanya.
Senada dengan Rofiatul al adawiyah, Mahasiswi Fakultas Tarbiyah yang juga aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mengaku sangat tertarik dengan acara ini, karenanya, lanjut Rofiatul, “Acara ini bisa memberikan kefahaman terkait radikalisme bagi generasi muda khususnya bagi kaum berpendidikan di perguruan tinggi, kaum intelektual yang sewaktu waktu bisa dimasuki faham radikal,” Ujarnya (AJ)










