Stop Berpikir Radikalisme Untuk Kehidupan Lebih Baik

oleh -460 Dilihat

Kudus, isknews.com – Education Social & Studies Center bersama Djarum Foundation untuk kali pertama menggelar talk show bertemakan “Stop Berpikir Radikalisme Untuk Kehidupan yang Lebih Baik”.

Acara yang dilaksanakan di gedung rektorat STAIN Kudus itu mengundang 200 mahasiswa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari perwakilan kampus yang ada di Kudus, diantaranya, STAIN Kudus, Universitas Muria Kudus, Stikes Cendekia utama dan lainnya.

Muhtarom selaku panitia mengatakan, “Stop Berpikir Radikalisme Untuk Kehidupan yang Lebih Baik” menjadi tema yang menarik dengan hadirnya narasumber yang asyik, diantaranya Kisbiyanto ketua Ketua Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU), Subhan perwakilan dari kepolisian, Selanjutnya hadir Saiful Mujab dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus, dan Muhtarom selaku Direktur sekaligus memberikan materi.

Paham radikal dan terorisme dapat diantisipasi penyebarannya melalui penguatan pemahaman generasi muda terkait bahaya yang diakibatkan oleh paham tersebut. “Sebab itulah diadakan acara talk show ini,” Jelasnya

“Pelaku paham radikal dan terorisme selalu men­jadikan generasi muda se­bagai sasaran untuk di­tarik sebagai anggota, kemudian dikorbankan. Menurut se­jum­lah penelitian, usia yang di­nilai rentan untuk di­rekrut adalah 17 sampai 27 tahun sekitar usia mahasiswa” kata Muhtarom

Ia mengatakan, generasi muda pada usia tersebut memang relatif masih ren­tan, karena masih dalam proses mencari jati diri. Hal itulah yang dimanfaatkan pelaku paham radikal dan te­roris untuk merekrut me­reka.

“Karena itu, harapannya, kita ber­sama harus membentengi generasi muda ini dengan pema­ha­man yang betul ten­tang ra­dikalisme dan tero­risme agar mereka tidak terpedaya. Jangan sampai mereka nanti menganggap tindakan men­curi harta orang tua adalah halal un­tuk pergerakan radi­kal. Ja­ngan nanti mereka sampai ber­pendapat me­rampok har­ta orang lain adalah ha­lal untuk mencapai tujuan mereka,” ingatnya.

Namun menurutnya, upa­­ya untuk membentengi generasi muda itu tidak bisa ha­nya dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saja. Meskipun ba­nyak program dan kegiatan yang telah digagas, tetapi itu hanya merupakan tambahan pemahaman bagi generasi muda dan pihak terkait.

“Yang utama adalah ke­ta­­hanan keluarga, pen­di­dikan dan pemahaman itu harus dimulai dari keluarga ke­mudian baru ditambah de­ngan pengetahuan lain seperti sosialisasi yang di­lakukan pemerintah,” ka­tanya.

Ia berpendapat, jika ke­ta­hanan keluarga tidak ada, maka generasi muda yang rentan untuk bergabung dengan gerakan berbasis paham radikal akan terus ada. Selain itu, peran pe­rempuan menurutnya juga sangat mutlak diperlukan.

“Meskipun sebagai se­orang pekerja, tetapi wanita cendrung lebih memiliki waktu untuk mendidik anak. Karena itu, peran wa­nita yang membentengi anaknya dari paham radikal juga sangat dibutuhkan,” katanya.

Senada dengan Rofiatul al adawiyah, Mahasiswi Fakultas Tarbiyah yang juga aktif dalam Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mengaku sangat tertarik dengan acara ini, karenanya, lanjut Rofiatul, “Acara ini bisa memberikan kefahaman terkait radikalisme bagi generasi muda khususnya bagi kaum berpendidikan di perguruan tinggi, kaum intelektual yang sewaktu waktu bisa dimasuki faham radikal,” Ujarnya (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.