Tak Disangka, Lahan Kosong Disulap Jadi Kebun Gizi di Kudus

oleh -508 Dilihat
kebun gizi di kudus
Foto: Kebun Gizi yang berada di Desa Kramat, Selasa (17--07-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Tak disangka, lahan sempit di tengah kawasan perkotaan ini, dapat disulap menjadi sebuah kebun gizi. Lahan kosong yang terletak di Jalan Kramat ini, Kota, Kudus kini mulai dihiasi dengan bola warna-warni yang menggantung indah di atas tanaman apotik hidup dan sayuran.

Tak ayal keberadaan kebun gizi di kudus ini, sedikit banyak berkontribusi dalam mensupplai kebutuhan gizi dan pangan masyarakat sekitar. Pasalnya, warga Kramat diperbolehkan untuk memetik sayuran, lombok, daun kelor dan tanaman obat yang ada di kebun tersebut.

“Sebagai feedbacknya, warga sekitar dapat memberikan sumbangan sampah. Sampah non-organik yang terkumpul nantinya akan kami jual sebagai pengganti biaya perawatan dan operasional di kebun gizi,” kata Ketua PKK Desa Kramat, Faela Sofa, pada Selasa (17-07-2018).

Mengingat untuk pengelolaan dan perawatan kebun tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sofa, sapaan akrabnya, menjelaskan uang hasil sumbangan sampah itu digunakan untuk pembayaran air PAM, pupuk dan biaya perawatan tanaman.

Tak Disangka, Lahan Kosong di Kramat Disulap Jadi Kebun Gizi
Foto: Kebun Gizi yang berada di Desa Kramat, Selasa (17–07-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

“Kebun gizi tersebut, kini dirawat oleh dua orang warga sekitar yang dibiayai dari sumbangan sampah dari masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan sebenarnya kebun gizi ini dibangun di tahun 2017, sebagai salah satu syarat dalam lomba Desa, yang mana waktu itu Desa Kramat di tunjuk untuk mewakili kecamatan Kota.

“Salah satu syaratnya waktu itu, menyertakan rumah sehat dan pemanfaatan pekarangan rumah. Waktu itu, terpikir membuat sebuah kebun di tengah kawasan perkotaan. Dan terciptalah kebun gizi ini,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai keinginan untuk mengembangkan kebun gizi sebagai agrowisata, Sofa mengaku tidak pernah terpikirkan untuk melakukan hal tersebut. Karena, tanah yang digunakan sebagai kebun gizi tersebut bukanlah tanah milik Desa, melainkan tanah warga.

“Ada warga yang berkenan menyumbangkan tanahnya untuk dimanfaatkan sebagai kebun seperti ini saja, saya sudah bahagia dan berterimakasih sekali,” tuturnya.

Istri Kepala Desa Kramat ini juga menceritakan, jika beberapa waktu silam saat harga cabai sempat melonjak tinggi. Dan kebetulan waktu itu, cabai di kebun sedang berbuah semua. Sehingga masyarakat sekitar sedikit tertolong dengan adanya kebun gizi tersebut.
“Sayangnya ini lagi musim kemarau, sehingga beberapa tanaman di kebun mulai kering. Meskipun begitu, hingga kini sejumlah warga masih memanfaatkan tanaman yang ada disana,”. pungkasnya. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.