Kudus, ISKNEWS.COM – Pelaksanaan program tentara manunggal membangun desa (TMMD) reguler ke-98 di Kandangmas, Kecamatan Dawe, secara resmi ditutup oleh Danrem 073/MKT Kolonel Infantri Yosept Roberth Giri, Kamis (04/05/2017).

Upacara penutupan yang dilaksanakan di Lapangan Desa Kandangmas berlangsung sangat meriah. Warga yang hadir menyaksikan menyambut hangat atas hasil pelaksanaan TMMD reguler ke 98 tahun ini. Penutupan ditandai dengan pemukulan pengembalian peralatan kerja, dilanjutkan pemukulan kentongan yang dipimpin langsung Kolonel Infantri Joseph Robert Giri.
Pelaksanaan TMMD reguler ke-98 yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmiko pada 05 April 2017 lalu. Program tersebut melibatkan sebanyak 150 personel TNI gabungan. Satgas yang tergabung dalam TMMD yang terdiri dari Kodim 0722/Kudus, Yon Arhanudse-15 Semarang, Denzibang, TNI AL Lanal Semarang, Polres Kudus, RST Kartika Husada Kudus, warga masyarakat Desa Kandangmas serta pemuda Karang Taruna.
Dalam kesempatan itu Robert Giri membacakan amanat tertulis Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono, yang kembali mengingatkan terlaksananya TMMD ini karena dilandasi semangat kemanunggalan TNI bersama rakyat untuk membangun daerah.
Kebersamaan yang di tunjukkan, lanjutnya, merupakan merupakan refleksi dari kemanunggalan yang hakiki antar segenap komponen bangsa. Sehingga dengan hal itu dapat mengatasi berbagai persoalan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
”Selama satu bulan lamanya pihak yang terlibat dalam pelaksanaan TMMD reguler ke 98 ini, bekerja keras dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Kebersamaan seperti inilah yang merupakan inti kemanunggalan TNI dengan rakyat, sehingga dapat meneruskan roh perjuangan bangsa yang wajib untuk dipelihara,” ujarnya.
Mulyono juga sangat mengapresiasi kepada Gubernur, Bupati, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan TMMD. Disampaikannya, program TMMD sudah ada sejak 1980 dengan sebutan Abri Masuk Desa (AMD). Setelah melalui berbagai evaluasi dan penyempurnaan, program TMMD terus diselenggarakan secara intensif dengan lingkup kerja sama yang semakin luas dengan kementerian-kementerian terkait.
”Hal ini dilakukan agar program TMMD semakin memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih tepat,” imbuhnya. Dia menambahkan, sebelumnya TMMD berlangsung dua kali dalam setahun, namun mulai 2017 ditambah menjadi tiga kali setahun. Tujuannya, selain sebagai bentuk kepedulian TNI dalam membantu akselerasi program pembangunan di wilayah sulit terjangkau, juga sebagai salah satu upaya untuk melestarikan budaya luhur bangsa Indonesia yang menjadi makna inti dari Pancasila yaitu Gotong Royong.
Melalui pelestarian budaya gotong royong, katanya, diharapkan dapat semakin membentengi diri potensi disintegrasi yang dipicu oleh sentimen perbedaan dan sikap intoleransi. Dia berpesan, agar para prajurit dapat menjaga semangat kebersamaan dan kemanunggalan TNI-Rakyat. (MK)











