TMMD, Satgas Suluh Warga Cegah Radikalisme Dan Terorisme NKRI

oleh -384 Dilihat
Kudus, isknews.com – Tim Satgas TMMD Reguler Ke 98 Kodim 0722/Kudus Tahun Anggaran 2017, terus gencar melaksanakan kegiatan program non fisik terhadap masyarakat Desa Kandangmas. Dalam rangka mencegah munculnya radikalisme dan terorisme, di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kodim 0722/Kudus bersama dengan Kesbangpol Kabupaten Kudus menggelar kegiatan dengan format penyuluhan. Minggu (09/04/17).
Pasiter Kodim 0722/Kudus Kapten Inf Heru Cahyono dan H. Irawan, SH Kasi Ideolagi wasbang dari Kesbangpol Kabupaten Kudus, menjadi narasumber dalam penyuluhan pencegahan Radikalisme yang bertempat dirumah tokoh Agama H. Masmuri, RT 06/01 Dukuh Sekandang Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Negara Indonesia merupakan negara multi kultural, artinya terdiri dari berbagai suku, ras, budaya dan agama. Berdasarkan hal tersebut, ada kemungkinan banyak permasalahan yang timbul di masyarakat, salah satunya adalah munculnya kelompok radikal dan terorisme.
Pasiter menyampaikan, bahaya radikalisme terhadap kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. ” Kita semua menyadari bahwa Negara Indonesia terbentuk dari berbagai suku dan agama. Hal itu merupakan suatu potensi jika dikelola dengan baik, namun jika itu salah dalam pengelolaannya, maka akan menimbulkan suatu permasalahan, yang bisa untuk menghacurkan Negara ini, ” ungkapnya.
Selanjutnya, dirinya mengatakan bahwa para pahlawan sudah berjuang dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya membangun untuk Negara ini. Mereka rela berjuang tanpa pamrih, kita saat ini tinggal meneruskan untuk membangun negara dengan berdasarkan Pancasila.
Apabila ada yang ingin merubah Pancasila dengan ideologi lain, itu tidak boleh terjadi dan harus kita lawan bersama-sama. “ Membela Negara ini bukan hanya tanggung jawab TNI dan Polri saja, akan tetapi semua warga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas Kapten Heru.
Bahaya radikalisme dan terorisme menurut H. Irawan, SH. Kasi Ideologi Wasbang Kesbangpol, saat ini sangat mengkhawatirkan, karena bisa mengorbankan dirinya untuk menghancurkan, dan mengancam jiwa banyak orang.
Bagi para terorisme dan radikalisme hal ini dianggap sebagai resiko dari jihad, tetapi harusnya mereka berpikir kembali berapa banyak nyawa yang tidak bersalah akan melayang. Justru mereka akan mendapat dosa lebih banyak dibanding pahala yang didapat, serta cara ini tidak dibenarkan dalam agama Islam maupun agama lain.
Ada beberapa efek negatif yang ditimbulkan dari gerakan radikalisme dan terorisme, antara lain: Pertama, kerugian ekonomi, dimana sarana dan prasara pendukung aktivitas jalannya perekonomian menjadi rusak dan hancur. Sarana jalan dan gedung yang digunakan aktivitas perdagangan tidak bisa berfungsi lagi. Kedua, menghancurkan Nasionalisme bangsa.
Adanya gerakan ini sudah tentu akan menghancurkan nasionalisme bangsa, dimana yang akan menjadi korban adalah saudara mereka sendiri. Hal ini jelas akan menimbulkan suatu perpecahan, sehingga akan menghancurkan nasionalisme bangsa. Langkah yang tepat untuk mencegah gerakan radikalisme dan terorisme adalah, mengajarkan kepada para pemuda untuk saling menghormati, menerima antar perbedaan serta untuk saling menyayangi agar jiwa nasionalisme semakin tinggi, bukannya malah diajarkan peperangan.
Jika alasan karena berjihad, maka berjihad bisa dilakukan dengan banyak tindakan yang positif, seperti melakukan pembangunan di berbagi seluruh bidang, tanpa harus meracuni pikiran anak bangsa. Mereka adalah generasi penerus yang harus diberikan contoh yang baik, yaitu saling rukun dan gotong-royong bukan malah melakukan penyerangan.
Yang dilakukan oleh para teroris akan menyebabkan anak bangsa dengan tidak langsung berpikir keras. Anak muda pemikirannya masih susah terkendali sehingga jika ada yang melakukan penyerangan, mereka sering terpancing emosi untuk melakukan penyerangan balik. Hal inilah yang menjadi kekuatiran terhadap para generasi penerus selanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kasi Ideologi wasbang, mengajak kepada masyarakat untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI, dan perkaya wawasan keagamaan. Selain itu juga tetap waspada terhadap adanya provokasi, hasutan dan pola rekrutmen teroris baik dilingkungan masyarakat maupun dunia maya. Kemudian jadikan keluarga sebagai tempat konsultasi dan diskusi setiap gejala yang mencurigakan.
Terakhir, laporkan setiap gejala maupun tindakan yang mencurigakan kepada aparat baik TNI/Polri. Sementara H.Masmuri menuturkan, terorisme dan radikalisme yang melakukan jihad dengan kekerasan tentu akan mencoreng nama Islam. Islam yang sebenarnya itu agama yang penuh kasih sayang, tidak kaku serta peduli terhadap sesama, bukan seperti terorisme yang tidak mau menerima perbedaan.
Islam yang sebenarnya itu agama yang penuh kasih sayang, tidak kaku serta peduli terhadap sesama, bukan seperti terorisme yang tidak mau menerima perbedaan. ” Bahwa terorisme memang banyak timbul dan lahir dari Islam. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa Islam yang mereka anut merupakan Islam yang tidak benar paham maupun alirannya.” tambahnya.
Secara terpisah Kepala Desa Kandangmas H.Sofwan, menghimbau, dan mengajak semua masyarakat untuk bisa turut menciptakan situasi yang kondusifitas dan kebersamaan, untuk persatuan antar Agama guna menangkal Radikalisme, demi suksenya TMMD Reguler ke 98 Kodim 0722/Kudus dalam membangun masyarakat Desa Kandangmas.

No More Posts Available.

No more pages to load.