Kudus, ISKNEWS.COM – Beberapa tahun belakangan ini, urban farming menjadi sebuah tren di masyarakat Kudus. Sejumlah daerah di Kota Kretek ini, kini sudah disulap menjadi lahan pertanian dengan prinsip hidroponik.
Tidak dipungkiri, menurunnya jumlah petani, urbanisasi dan keterbatasan lahan pertanian menjadi permasalahan serius dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan adanya gebrakan urban farming, diharapkan dapat mengatasi permasalahan pangan yang ada.
Dinas Pertanian dan Pangan Kudus melalui Budiyono, dalam pelatihan urban farming yang dilakukan di Kantor BPP Mejobo mengatakan, kedepannya program ini tidak hanya untuk memaksimalkan lahan yang ada disekitar rumah. Lebih dari itu, urban farming bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan bahkan menjadi perekonomian masyarakat.
“Dengan urban farming ini, ibu-ibu rumah tangga tidak perlu lagi berbelanja sayur, karena sudah bisa memetiknya dari sendiri di rumah. Jika hasilnya berlebih, bisa dijual untuk tambahan penghasilan. Bahkan jika digeluti secara serius, bisa dijadikan sebagai lahan pekerjaan,” katanya pada Kamis (10-07-2018).
Narasumber lain dalam pelatihan ini, Rofiq, menjelaskan cara bercocok tanam dengan sistem hidroponik secara detail disertai dengan praktek penyiapan lahan hingga pemasangan peralatan.
“Lahan pekarangan sebaiknya dimanfaatkan sebagai wahana menyalurkan hobi, termasuk hobi menanam sayur. Dengan begitu, akan muncul rasa bangga bisa memanen dan mengkonsumsi sayuran yang ditanam sendiri,” ungkapnya.
Karsono, narasumber lain juga mengungkapkan kualitas yang dihasilkan dari tanaman hidroponik ini memiliki kualitas yang lebih baik. Karena kebersihannya lebih terjamin dan terbebas dari pestisida. Selain itu, ia mengungkapkan keuntungan memiliki lahan hidroponik dirasakan saat harga bahan pokok naik. Maka mereka tidak akan merasakan dampaknya.
Karsono menjelaskan, pola tanam di pekarangan rumah ada tiga yakni tanam di sisi rumah, belakang rumah dan pagar rumah. Untuk daerah dibelakang rumah baiknya ditanam dengan tanaman yang tinggi namun tidak memiliki akar besar. Tujuannya untuk penghijauan dan tidak merusak pondasi rumah.
Untuk tanaman sisi rumah, lanjutnya, sebaiknya digunakan untuk menanam obat-obatan, sayuran dan bumbu-bumbuan. Sedangkan untuk tanaman pagar hendaknya ditanami tanaman yang cepat tumbuh, banyak cabang, kuat dan lebat, tanah pangkas dan bermanfaat banyak.
Nor Hudha Ahmada, kebagihan menyampaikan teknik budidaya vertikultur hidroponik ini adalah cara terbaik bercocok tanam di darah perkotaan. Keunggulannya yakni hemat lahan, tidak menggunakan pestisida dan lebih efisein. Produktifitas dari metode ini lebih tinggi karena tidak mengenal musim.
“Dan yang pasti dan disukai generasi zaman now adalah tidak kotor terkena tanah, pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga. Itu kan memang khas generasi muda sekarang, nanam tapi tidak kotor dan hasilnya cepat,” cetus Hudha.
Imbuhnya, “Media tanam hidroponik, selain pipa-pipa untuk tumbuhnya tanaman adalah tandon nutrisi yang bisa berupa box kontainer plastik atau ember. Alas untuk media tanam menggunakan rockwool sehingga tidak memerlukan tanah.“
Untuk tandon nutrisnya, jangan membeli yang bening atau transparan, sebab kalau terkena sinar matahari maka kandungan nutrisi akan berkurang. Jadi kalau punya tabungnya bening, sebaiknya dicat pada bagian luarnya. Kalau untuk perkiraan biaya media tanam dengan lahan minimal seperti untuk praktik ini sekitar Rp 1 Juta – 1,5 juta. Tergantung merk pipa masing-masing.
Yunarheni, pengurus PKK desa Jepang, setelah mengikuti pelatihan ini, ia sangat tertarik untuk mengembangkan metode ini di rumahnya. Menurutnya, hidroponik menjadi suatu bentuk pertanian modern yang sederhana dan produktif bagi ibu rumah tangga. (NNC/WH).










