150 Tokoh Agama Kudus Ikuti Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Bersama Anggota MPR Musthofa

oleh -244 Dilihat
Suasana sosialisasi 4 pilar bersama tokoh agama di Kudus oleh HM Musthofa anggota DPR dari Fraksi PDIP (Foto: istimewa)

KUDUS – Di era digital, tantangan yang kita hadapi saat ini tidak lagi satu arah, melainkan banyak arah termasuk melalui media sosial karenanya hal itu harus segera diimbangi dengan berbagai pendidikan karakter.

Dimulai dari tataran tingkat keluarga sendiri, yakni misalnya dalam memanfaatkan media sosial dengan benar dan memberikan pemahaman agar tidak menjadi konsumen dan produsen berita-berita hoax, ujaran kebencian dan perilaku perilaku dan ujaran yang mengarahkan kepada budaya intoleransi.

Hal itu disampaikan oleh anggota MPR RI Dr HM Musthofa saat pelaksanaan sosialisasi 4 Pilar MPR RI kepada 150 perwakilan tokoh agama Kabupaten Kudus di Aula Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati Kudus, Jumat (19/05/2023) pagi.

Menurutnya, sekarang ini banyak sekali pidato atau ceramah sang tokoh bisa dengan mudah di rekam dan di edit lalu dipotong-potong sesuai keinginannya dan secara masif sengaja disebar luaskan kepada masyarakat luas, dan akhirnya menjadikan berita sesat.

“Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang plural dan beraneka ragam seperti Indonesia, peranan tokoh masyarakat, tokoh Agama sangat strategis. Hal ini karena bisa menjadi kekuatan perekat bangsa. Sehingga tokoh masyarakat bisa bersinergi dengan pemerintah baik pusat dan daerah, menangkal informasi tak berdasar tersebut,” kata Anggota MPR dari PDI Perjuangan ini.

Ditekankannya, kecanggihan teknologi seperti, internet dan media sosial harus disikapi dengan bijak. Jadikan semua kecanggihan teknologi itu untuk mempermudah kita dalam mencari dan menambah ilmu pengetahuan serta wawasan dan yang terpenting untuk memperoleh manfaat disisi keuangan.

“Kabupaten Kudus punya kultur Gusjigang (Bagus Akhlaknya, Pintar Ngajinya dan Pandai Berdagang). Mari kita bimbing anak-anak kita menjadi generasi yang pintar membaca peluang di media-media sosial di internet, jangan sampai terbalik menjadi malas karena diperbudak oleh teknologi,” kata dia.

Sementara itu Hendro Satrimo tokoh Masyrakat dari Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengusulkan untuk bisa di buatkan suatu aplikasi tentang apa itu Pancasila dan juga penjelasannya beserta contoh-contoh perilaku dilapangan atau dalam kehidupan sehari-hari.

“Sehingga kami bisa memanfaatkan aplikasi tersebut untuk memberikan penjelasan-penjelasan implementasi dari Pancasila tersebut, sekaligus memanfaatkan tekhnologi yang berkembang pesat saat ini,” usulnya.

Menurutnya, perlu memperbanyak kegiatan sosialisasi 4 pilar kebangsaan kepada seluruh elemen masyarakat tak hanya toma dan toga. Tapi perlu ditingkatkan kegunaan dan kemanfaatannya bagi publik melalui perbaikan dan pembaharuan model sosialisasi yang dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya tenaga pendidik, dikarenakan agar paham betul akan makna dari Pancasila dan UUD-45.

“Empat pilar merupakan satu kesatuan gagasan yang terintegrasi bagi bangsa ini yang perlu dipahami secara harfiah, makna dan diamalkan melalui tindakan atau prilaku keseharian kita. Hal ini juga dimaksud agar mampu menghadapi infiltrasi budaya asing dan kebebasan masyarakat dalam kontek radikalisme,” ujar Hendro.

Para tokoh masyarakat berharap, seyogyanya disetiap lingkungan masyarakat juga ada forum-forum kegiatan yang bertujuan membangun pesan-pesan moral yang positif, guna terhindar dari berita-berita yang tidak jelas asal usulnya.

“Perkembangan dunia digital sangat membantu sekali, tetapi alangkah baiknya dapat diguanakan dengan cara yang positif dan mendapatkan manfaat yang baik,” tandasnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.