Dampak Corona, Produsen Jahe Olahan di Kudus Alami peningkatan Permintaan

oleh -183 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Selain jahe merah di pasar tradisional yang kini banyak diburu warga, produk olahan jahe juga menjadi ikut laris manis di tengah isu merebaknya virus corona karena mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Pelaku UMKM Gemah Ripah, Khosi’atun ‎(38) menjelaskan, ‎jika sebelumnya hanya memproduksi dua kilogram jahe setiap harinya.

Jahe olahan dalam kemasan produk UMKM di Kudus yang kini juga ikut laris akibat isu Virus Corona (Foto: YM)

Jitun, sapaannya bisa memproduksi serbuk minuman jahe hingga dua kali lipat karena tingginya permintaan‎.

“Sudah seminggu ini permintaannya naik, jadi sekarang saya buatnya sampai empat kilogram setiap hari,” ujar dia.

Dari bahan baku satu kilogram ‎jahe, dia bisa menghasilkan 10 bungkus minuman serbuk. Sehingga totalnya dia bisa menjual sedikitnya 40 bungkus minuman serbuk jahe per hari.

“Satu bungkusnya saya jual Rp 25 ribu, biasanya saya antar langsung ke rumah,” ujar dia.

‎Tingginya permintaan itu, kata dia, sudah mendongkrak sedikit harga jahe dari yang semula Rp 50 ribu menjadi Rp 60 ribu per kilogram.

Namun, wanita yang memberdayakan petani jahe di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu tidak terdampak imbasnya.

“Karena saya beli langsung dari petani di sekitar rumah, makanya harganya mungkin di pasar naik. Saya masih tetap sama saja,” ujarnya.

Sementara itu, Wati (55) pedagang Pasar Kliwon Kudus menjelaskan, harga jahe masih cenderung stabil tidak ada kenaikan yang terlalu tinggi.

“Masih sama, harganya sekitar Rp 55 ribu sampai Rp 65 ribu. Ada jahe biasa atau jahe merah,” jelas dia.

Menurut Wati, ketersediaan jahe di kiosnya juga relatif cukup dan tidak kesulitan memperoleh pasokan.

“Masih ada sekitar 10 kilogram di sini, kalau habis baru nanti saya belanja lagi,” ujar dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.