Satu Lagi Guru SMP 3 Jekulo Gugur Akibat Covid-19, Ketua PGRI Instruksikan Perketat Prokes

oleh -373 kali dibaca
Ketua PGRI Kudus, Ahadi Setiawan (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan, mengakui satu lagi anggotanya seorang guru di SMP 3 Jekulo Kudus, hari ini meninggal setelah sempat dirawat dan dinyatakan terkonfirmasi covid -19. Sehingga tenaga pengajar di SMP Negeri yang berada dipaling timur Kudus itu kini menjadi empat orang.

Menindaklanjuti temuan kasus penyebaran covid-19 di lingkungan sekolah di Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan, mengaku berduka yang sangat mendalam dan menginstruksikan semua pihak lebih memperketat penerapan protokol kesehatan (Prokes) di lingkungan sekolahnya.

“Mereka semua kawan baik dan seperjuangan kami, dengan dedikasi tinggi yang telah di darma baktikan sebagai tenaga pendidik,” ungkap pria yang akrab disapa Wawan, Kamis (03/12/2020).

Upaya itu untuk mendukung program pemerintah terkait penanganan covid-19 dan percepatan perubahan menjadi zona hijau.

‘’Kalau sudah menjadi zona hijau, kita bisa kembali beraktivitas seperti dulu kala,’’ ujar Wawan yang juga kepala sekolah SMP N 1 Kudus.

Penerapan prokes, sambung Wawan, harus disesuaikan dengan anjuran dari Pemerintah, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M). Jangan malah bertindak sebaliknya yakni menyepelekan protokol kesehatan, yang akan menimbulkan dampak yang cukup besar.

’Jangan main-main dengan virus,’’ tegasnya.
Menurutnya, sampai saat ini pihaknya mengaku sudah mendapat empat laporan tentang guru yang meninggal dunia karena terpapar covid-19.

Guna memutus rantai penularan virus korona, Wawan juga menginstruksikan agar setiap sekolah di Kudus ada Tim Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Tim tersebut untuk memantau penerapan prokes di sekolah, baik guru maupun siswa yang datang ke sekolah.  

‘’Saya berahap pihak sekolah bisa menjaga prokes, sehingga bisa menjadi teladan bagi masyarakat,’’ tandas dia.

Menanggapi kebijakan pemerintah tentang pembelajaran tatap muka yang akan digelar per 1 Januari 2021 mendatang, Wawan menilai, kebijakan itu perlu dipertimbangkan kembali. Sebab kebijakan dari pemerintah atau Satgas Covid-19, merupakan penentu resiko penyebaran virus korona di tanah air.

’Jika akan melaksanakan pembelajaran tatap muka, setidaknya ada izin dari wali murid. Itu untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Aziz Achyar, yang dihubungi terpisah membenarkan, Ada satu guru lagi (meninggal dunia hari ini), hasilnya terkonfirmasi positif Corona laki-laki, punya penyakit penyerta.

“Diagnosisnya COVID-19 tapi punya penyakit penyerta. Iya ada satu tambah jadi empat guru,” kata dia, Kamis (3/12/2020).

Aziz mengatakan bahwa guru tersebut masuk dirawat di RSUD Kudus sejak tanggal 26 November 2020. Kemudian dia menjalani tes swab pada 27 November 2020 dengan hasil positif terpapar virus corona.

“26 November 2020 tanggal masuk dirawat di RSUD Kudus, kemudian 27 November 2020 dites swab hasilnya positif. Tanggal 28 dites lagi hasilnya positif (terkonfirmasi positif virus Corona),” lanjut Aziz.

Aziz mengatakan, pihaknya sudah melakukan tracing kontak erat. Kata dia ada sebanyak 43 karyawan di SMPN tersebut yang dites swab. Namun hasilnya belum keluar.

“Ada 43 karyawan dites swab, hasilnya belum keluar,” papar Aziz. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.