Dukung Program 100 Hari Bupati, Kelurahan Purwosari Kudus Luncurkan 5 Inovasi Layanan dan Sosial

oleh -280 Dilihat
Plt. Lurah Purwosari, Muchlisin (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com — Warga Kelurahan Purwosari, Kota Kudus, menunjukkan semangat kemandirian dan gotong royong dengan meluncurkan lima inovasi pelayanan dan sosial yang seluruh pembiayaannya bersumber dari masyarakat sendiri. Inisiatif ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Kudus periode 2025–2030.

Diprakarsai oleh seluruh elemen masyarakat melalui rembuk warga, inovasi tersebut adalah Pelita Sari, Gradasi, Gerbank Atas, Proklimasari, dan Sekat. Tak satu pun dari kegiatan ini menggunakan dana APBD, melainkan hasil kolaborasi dan partisipasi warga Purwosari.

“Kami ingin membuktikan bahwa masyarakat bisa mandiri, berdaya, dan berkontribusi untuk mendukung pembangunan daerah. Semua ini kami lakukan demi tujuan bersama: Purwosari Kuat, Kudus Sehat,” ujar Plt. Lurah Purwosari, Muchlisin, Selasa (29/04/2025).

Pelita Sari, akronim dari Pelayanan Informasi dan Tata Administrasi Purwosari, menjadi inovasi pertama yang memungkinkan warga mengakses layanan administrasi secara daring tanpa terikat waktu kerja kantor. Warga cukup mengakses website layanan tersebut, dan berbagai kebutuhan administrasi akan dilayani secara online.

Dengan demikian, pelayanan menjadi lebih inklusif, efisien, dan menjawab kebutuhan masyarakat modern yang serba cepat serta tidak selalu bisa datang langsung ke kantor kelurahan.

Di bidang lingkungan, hadir inovasi Gradasi (Gerakan Donasi Sampah Purwosari), hasil sinergi antara Karang Taruna dan masyarakat umum. Lewat penyediaan tempat pemilahan sampah mandiri, gerakan ini menargetkan pengelolaan sampah plastik yang tidak hanya mengurangi pencemaran, tapi juga bernilai ekonomi.

Selain mengurangi volume sampah ke lingkungan, Gradasi juga membuka ruang edukasi bagi pelajar sekolah tentang pentingnya memilah dan mendaur ulang sampah.

Adapun Gerbank Atas atau Gerakan Bank Sampah Atasi Stunting, menjadi inovasi yang memadukan pengelolaan sampah rumah tangga dengan gerakan sosial. Dana dari hasil pengelolaan sampah akan dikumpulkan dan disalurkan untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting, dengan digerakkan oleh kader Posyandu lokal.

Gerakan ini mengintegrasikan antara masalah lingkungan dan kesehatan anak, sehingga penanganan stunting tidak semata bergantung pada program bantuan dari pemerintah.

Berbasis kolaborasi anak muda, Proklimasari lahir sebagai hasil sinergi Karang Taruna Bhakti Nusa, PKK, dan Posyandu. Gerakan ini menampung aktivitas positif generasi muda melalui kegiatan ketahanan pangan seperti menanam sayuran, beternak, dan pengelolaan bank sampah.

Proklimasari juga menjadi ruang kreativitas pemuda dalam mewujudkan kemandirian pangan, sekaligus menjaga semangat kolaboratif lintas usia dan lembaga masyarakat di kelurahan.

Inovasi terakhir, Sekat (Sedekah Jumat), menyasar warga pra-sejahtera dengan memberikan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, dan telur secara rutin setiap Jumat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga memupuk kebiasaan berbagi yang dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Muchlisin menambahkan bahwa seluruh inovasi ini diharapkan memperkuat identitas Purwosari sebagai kelurahan yang aktif, peduli, dan berdaya saing.

“Tujuan akhirnya adalah menjadikan Purwosari dikenal sebagai wilayah yang tangguh, inklusif, dan siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan Kudus Sehat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kemitraan antara masyarakat, perangkat kelurahan, dan lembaga swadaya masyarakat dalam menjaga kesinambungan inovasi-inovasi tersebut.

Selain mempercepat capaian program 100 hari kerja kepala daerah, keberhasilan ini menjadi model replikasi bagi kelurahan-kelurahan lain di Kabupaten Kudus.

Banyak pihak menilai bahwa inovasi warga Purwosari mencerminkan model pembangunan berbasis komunitas yang efektif, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari program, tetapi dari keterlibatan nyata warganya.

Langkah berani warga Purwosari ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat bisa dijalankan secara nyata, asalkan ada kemauan bersama dan semangat gotong royong yang kuat. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.