FK Undip Turun ke Kudus, Bekali Nakes Hadapi Kusta dan Kegawatdaruratan Kulit

oleh -15 Dilihat
Dr. dr. Renni Yuniati, Sp.DVE, Sub Sp.DT, M.H. saat menyampaikan materi edukasi penanganan kusta kepada tenaga kesehatan dan kader dalam kegiatan pengabdian masyarakat FK Undip di DKK Kudus, Rabu (6/5/2026). (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) turun langsung ke Kabupaten Kudus melalui program pengabdian masyarakat dengan membekali tenaga kesehatan (nakes) dan kader dalam menghadapi kasus kusta serta kegawatdaruratan kulit yang masih menjadi tantangan di lapangan.

Kegiatan yang digelar di Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus pada Rabu, 6 Mei 2026 ini menyasar programer kusta puskesmas, dokter umum, hingga kader kesehatan. Program ini mengusung pendekatan terpadu untuk mempercepat eliminasi kusta sekaligus meningkatkan kemampuan penanganan kasus darurat dermatologi di layanan kesehatan tingkat pertama.

Tim dari Bagian Dermatologi dan Venereologi FK Undip menghadirkan tiga fokus utama, yakni peningkatan kapasitas penanganan kusta melalui metode blended learning, penguatan kompetensi dokter umum dalam menghadapi kegawatdaruratan kulit, serta edukasi penyakit kulit menular di masyarakat.

Ketua Bagian Dermatologi dan Venereologi FK Undip, dr. Buwono Puruhito, Sp.DVE, M.Biomed, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan langsung akademisi di lapangan menjadi langkah penting agar ilmu yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat konkret bagi masyarakat. Ia juga menyebut pemberdayaan tenaga kesehatan dan kader sebagai kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Kepala DKK Kudus, Dr. dr. Abdul Hakam, M.Si.Med, Sp.A, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang berdampak besar terhadap kualitas pelayanan kesehatan di daerah.

Dengan adanya pelatihan ini, ia optimistis kemampuan deteksi dini kasus kusta akan meningkat, sekaligus mempercepat penanganan pasien di tingkat pelayanan dasar. Pihaknya juga menyatakan komitmen untuk mendukung keberlanjutan program serupa di masa mendatang.

Dalam sesi edukasi kusta, para peserta mendapatkan pembaruan pengetahuan terkait tatalaksana penyakit yang masih kerap diselimuti stigma di masyarakat. Materi disampaikan oleh Dr. dr. Renni Yuniati, Sp.DVE, Sub Sp.DT, M.H., yang menekankan bahwa tantangan utama penanganan kusta saat ini bukan pada pengobatan, melainkan stigma sosial yang membuat pasien enggan berobat.

Ia menjelaskan, banyak penderita kusta yang baru datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami kondisi serius akibat menyembunyikan penyakitnya. Oleh karena itu, edukasi tidak hanya menitikberatkan aspek medis, tetapi juga strategi komunikasi untuk menghapus stigma di tengah masyarakat.

Selain tenaga kesehatan, kader juga dibekali peran penting sebagai ujung tombak di lapangan. Mereka dilatih melakukan penemuan kasus aktif, mendampingi pasien sebagai pengawas minum obat, serta memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak mudah menular setelah ditangani.

Sementara itu, pada sesi kegawatdaruratan dermatologi, dokter umum mendapatkan pembekalan terkait penanganan kasus darurat kulit yang sering dipicu oleh pengobatan mandiri. Materi disampaikan oleh Dr. dr. Puguh Riyanto, Sp.DVE, Sub Sp.Ven.

Ia menyoroti maraknya praktik konsumsi obat tanpa pengawasan medis yang berpotensi memicu reaksi alergi berat seperti Sindrom Stevens-Johnson hingga Toxic Epidermal Necrolysis. Melalui pelatihan ini, dokter umum dibekali kemampuan penanganan awal yang cepat serta penentuan rujukan yang tepat.

Kader kesehatan juga diberikan pemahaman mengenai tanda bahaya pada kulit, seperti lepuhan luas atau pembengkakan setelah konsumsi obat. Hal ini penting agar masyarakat segera diarahkan ke fasilitas kesehatan dan tidak melakukan penanganan mandiri yang berisiko.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai penatalaksanaan penyakit kulit menular yang umum terjadi di lingkungan padat penduduk. Materi ini disampaikan oleh Dr. dr. Radityastuti, Sp.DVE, Subsp.DA, FINSDV, FAADV.

Ia menjelaskan bahwa penyakit seperti skabies, infeksi jamur, dan pioderma kerap ditemukan di lingkungan dengan kepadatan tinggi, termasuk pondok pesantren. Dengan jumlah ratusan ponpes di Kudus, potensi penularan penyakit kulit menjadi perhatian serius.

Melalui edukasi tersebut, tenaga kesehatan dan kader didorong untuk aktif menerapkan upaya pencegahan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta melakukan penanganan awal yang tepat untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Program pengabdian masyarakat ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem penanganan penyakit kulit yang lebih terintegrasi. Kolaborasi antara FK Undip dan DKK Kudus diharapkan mampu memperkuat jejaring layanan kesehatan dari tingkat spesialis hingga komunitas.

Dengan sinergi lintas sektor yang terus diperkuat, Kabupaten Kudus diharapkan dapat menjadi percontohan dalam upaya eliminasi kusta dan penanganan kegawatdaruratan kulit secara komprehensif di Indonesia. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :