Hadapi Inflasi Dampak Kenaikan BBM, Ini Skema Antisipasi TPID Kudus

oleh -667 kali dibaca
Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah yang juga Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, Dr Samani Intakhoris (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Menghadapi kemungkinan terjadinya inflasi akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi khususnya jenis Pertalite yang isunya akan diketok pada waktu dekat ini. Ketua harian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Kudus yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus Samani Intakoris menyebut, sesuai arahan Bupati pihaknya telah menyusun skema penanganan untuk mencegah terjadinya inflasi berlebih akibat hal tersebut.

Dampak dari kenaikan tersebut dikhawatirkan sebabkan pula naiknya harga bahan pokok hingga jasa moda transportasi, yang kemudian menurunkan daya beli di masyarakat. Pemerintah daerah bersama semua pihak terkait akan terus berupaya menstabilkan harga.

Sejumlah kesiapan telah pihaknya susun bersama, diantaranya yakni, mulai dari rencana pengendalian harga dengan menggelar operasi pasar. Hingga monitoring untuk memastikan ketersediaan stok barang dalam keadaan cukup dan dengan harga yang wajar.

”Ini adalah langkah awal yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan kenaikan harga nanti, sesuai arahan bupati, kami akan mencoba semaksimal mungkin mencegah daya beli di masyarakat menurun karena kenaikan harga di sejumlah bahan pokok,” kata Samani, Jumat (26/08/2022).

Meski begitu Samani meyakini, Kabupaten Kudus masih cukup aman dari inflasi berlebih tersebut. Mengingat Kudus merupakan jalur sutra perdagangan dan memiliki lumbung padi sendiri. Sehingga ketahanan dan ketersediaan pangannya diyakini masih cukup aman.

”Memang dalam inflasi yang paling utama harus diantisipasi adalah sektor pangan karena ini sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-harinya, Dinas Perdagangan nanti bisa segera menggelar operasi pasar bilamana harga sudah mulai tidak wajar,” pungkasnya.

Dirinya mengimbau pada masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau pembelian berlebih. Bilamana akan terjadi kenaikan harga barang di salah satu komoditas bahan pokok.

Hal tersebut dikhawatirkan akan memicu inflasi yang berlebih dan akan mempengaruhi sektor perekonomian di Kabupaten Kudus. Sehingga diharapkan, masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan pada satu atau dua komoditas barang.

”Pencegahan kenaikan harga di sektor pangan adalah yang sedang fokus kami lakukan, sesuai arahan bupati, kami akan mencoba semaksimal mungkin mencegah daya beli di masyarakat menurun karena kenaikan harga di sejumlah bahan pokok,” kata dia.

Selain tidak melakukan panic buying, Samani juga mengajak masyarakat Kudus untuk sedikit lebih berhemat. Pembelian-pembelian sekunder yang dirasa bisa ditunda, sebaiknya tidak dilakukan terlebih dahulu.

Masyarakat, lanjut Samani, juga bisa membantu mengendalikan inflasi dengan cara menabung, berinvestasi, atau malah membuka lapangan kerja baru.

”Memang nanti dampaknya akan pada sektor nonpangan, tapi kami akan selalu mengupayakan agar inflasi ini tidak berlebihan atau di atas ambang wajar,” pungkasnya.

Bagan sketsa upaya penaganan dampak inflasi apabila terjadi kenaikan BBM oleh ketua TPID Kudus Samani Intakhoris (Foto: istimewa)

Sebagai informasi, pemerintah akan menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Kenaikan tersebut kemudian dikhawatirkan mengerek semua harga bahan pokok hingga jasa moda transportasi, yang kemudian menurunkan daya beli di masyarakat dan terjadilah inflasi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus sendiri menyebutkan, tingkat inflasi tahun kalender pada bulan Desember 2021 hingga bulan Juli 2022 kemarin adalah sebesar 4,41 persen.

Sementara tingkat  tahun ke tahun pada bulan Juli 2022 terhadap Juli 2021 lalu adalah sebesar 5,54 persen.   Angka tersebut, terbilang cukup tinggi untuk ukuran Kabupaten Kudus.

Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, siap menggunakan alokasi anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) guna mengendalikan inflasi di daerah. Anggaran tersebut akan digunakan ketika inflasi melebihi batas wajar.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus sendiri menyebutkan, tingkat inflasi tahun kalender pada bulan Desember 2021 hingga bulan Juli 2022 kemarin adalah sebesar 4,41 persen. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.