Harga Bagus, KTNA Tetap Desak Pemerintah Naikkan Gabah Kering Ideal di Angka Rp 5.300 Per Kg

oleh

Kudus, isknews.com – Jelang berakhirnya Masa Tanam (MT) 1 di medio Maret ini sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus, para petani sudah mulai memanen produk hasil pertaniannya.

Di kawasan Kecamatan Undaan bagian selatan seperti Desa Lambangan, Kalirejo, Wonosoco, Berugenjang Kutuk dan Desa Undaan Kidul sejumlah petani kini sedang melakukan pemanenenan hasil sawah mereka.

Sedang di kawasan Kecamtan Undaan bagian utara diperkirakan baru pertengahan April mendatang. Harga panen di awal MT I ini terpantau cukup bagus.

Koordinator Federasi Perkumpulan Petani Pengguna Air (FP3A) sistem Kedungombo wilayah Kecamatan Undaan, Akrab mengatakan, di Undaan ini terdapat sekitar 5.000 hektare sawah siap panen MT I tahun ini.

Produksi hasil panen mulai melimpah dengan harga gabah kering panen (GKP) di pasaran berada di atas harga patokan pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.700.

TRENDING :  Petani Cabai Bahagia, Harga di Tingkat Petani Sedang Bagus & Tinggal Hitung Keuntungan
Sejumlah petani Undaan sedang melakukan panen hasil sawahnya (Foto: YM)

“Harga gabah cukup bagus karena petani panen ketika sawah tidak ada genangan banjir, meski curah hujan di Kudus masih cukup tinggi,” ujarnya, Jumat (06/03/2020).

Berdasar pantauan di lapangan, harga gabah mencapai Rp 5.300 per kilogram dari hasil panen menggunakan mesin pemotong dan perontok combaine.

Sedang pemotongan tradisional dan perontok gabah mengunakan mesin sederhana harganya sekitar Rp 4.600 per kilogram. Pihaknya berharap, harga pasaran tetap stabil hingga tutup panen MT I tahun ini.

Menurutnya, panen menggunakan mesin combaine terutama ukuran besar lebih menguntungkan karena gabah lebih bersih dan penyusutan hanya sekitar 10 persen.

Sedang dengan cara manual padi yang rontok lebih banyak dan kondisi gabah kurang bersih.

“Harga gabah dipanen dengan mesin combaine lebih tinggi, selisih antara Rp 500 hingga Rp 700 perkilogram dibanding dengan mesin perontok manual,” ungkapnya.

TRENDING :  Harga Gabah Di Blora Alami Kenaikan

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kudus, Hadi Sucahyano. Harga gabah saat ini tidak terlalu jelek karena masih berada di atas HPP GKP.

“Namun demikian harga terbaik mestinya ada di kisaran minimal Rp 5.500 per kilogram,” ujar dia.

Pihaknya tidak ingin harga gabah yang ada sekarang dimainkan oleh para tengkulak sehingga bisa menyebabkan harga jatuh di bawah HPP.

Dikatakan, HPP GKP sebesar Rp 3.700 per kilogram sudah terlalu rendah, sehingga ketika harga jauh di atas HPP, Bulog tidak mampu melakukan penyerapan.

KTNA telah mendesak pemerintah pusat agar segera menaikkan HPP GKP, minimal di angka Rp 5.300 per kilogram.

Pihaknya kemudian menyoroti peran Bulog ke depan semakin berat dan dilematis.  Di satu sisi Bulog memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan.

TRENDING :  Komunitas Lemah Subur : Arang Sekam Kebal Hama dan Patogen

“Namun di sisi lain juga harus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan internalnya agar tetap bisa bertahan,” terangnya.

Selama ini, Bulog berusaha melakukan pengadaan gabah dan beras sebanyak- banyaknya. Tak hanya untuk mengamankan stok pangan, tetapi juga berperan dalam pengelolaan bantuan sosial (bansos).

“Namun sejak Oktober 2018, bansos tidak ada lagi dan diganti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di mana pengadaan beras dapat berasal dari luar atau non Bulog,” tutur dia.

BPNT merupakan bantuan pangan dari pemerintah yang diberikan kepada
Kelompok Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya.

“Kami berharap BPNT dapat diambilkan dari Bulog,” pintanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :