Kudus, isknews.com – Hujan kiriman dari wilayah hulu sungai yang terjadi sejak awal Januari 2026 masih memicu genangan di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus. Akibatnya, hingga Jumat (23/1/2026) pukul 17.00 WIB, sebanyak 2.009 jiwa dari 790 kepala keluarga (KK) tercatat belum dapat kembali ke rumah dan masih bertahan di berbagai titik pengungsian.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak 9 Januari 2026 menyebabkan peningkatan debit air sungai yang kemudian meluap dan menggenangi permukiman warga, lahan persawahan, serta akses jalan. Ketinggian genangan dilaporkan berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi saat ini masih didominasi banjir meskipun kondisi secara umum mulai menunjukkan perbaikan.
“Untuk kondisi terkini, wilayah terdampak tersisa di empat kecamatan dan sembilan desa atau kelurahan. Sebagian warga sudah kembali ke rumah, namun masih ada yang belum bisa beraktivitas normal karena genangan air belum sepenuhnya surut,” ujarnya.
Pada awal kejadian, banjir tercatat melanda tujuh kecamatan dan 38 desa atau kelurahan dengan jumlah terdampak mencapai 22.503 KK atau 70.543 jiwa. Hingga pembaruan terbaru, jumlah tersebut menurun menjadi 4.073 KK atau 12.399 jiwa.
Meski mengalami penurunan, dampak banjir masih cukup signifikan. BPBD mencatat sebanyak 2.675 rumah masih terdampak, 2.890 hektare lahan persawahan tergenang, tujuh fasilitas ibadah, serta 25 fasilitas pendidikan turut mengalami dampak. Sementara itu, 2.009 jiwa hingga kini masih berada di pengungsian.
Selain banjir, pada fase awal bencana juga terjadi tanah longsor di tiga kecamatan dengan total 135 titik, yang mengakibatkan 34 rumah terdampak dan satu korban meninggal dunia. Cuaca ekstrem sempat melanda lima kecamatan, namun hingga saat ini tidak terdapat laporan kejadian baru.
BPBD Kabupaten Kudus mencatat masih terdapat 15 titik lokasi pengungsian aktif, di antaranya Aula DPRD Kudus, Balai Desa Gulang, Kantor DPC PAN, dan Gedung Muslimat NU Loram Kulon. Dari 23 dapur umum yang sempat beroperasi, kini hanya beberapa yang masih aktif seiring menurunnya jumlah pengungsi.
Eko mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dan peningkatan debit air sungai. Ia menegaskan BPBD bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan dan siaga 24 jam guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana lanjutan. (AS/YM)










