Jelang Idul Adha, Perajin Pisau ini Banjir Permintaan

oleh -389 Dilihat

Kudus, isknews.com – Permintaan pisau dapur di sentra pandai besi dan logam Desa Hadipolo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, meningkat hingga capai kisaran 200 persen sejak sebulan terakhir atau menjelang Hari Raya Idul Adha 1438 H atau biasa disebut lebaran haji yang jatuh pada Jumat, (1/9/17).

Sahri, salah satu pelaku usaha industri aneka kerajinan alat dapur dan pertanian di sentra hasil logam Hadipolo Kudus, Rabu (30/8/17) mengatakan, pedagang besar yang menjadi pelanggannya memesan pasokan pisau dapur lebih banyak dibanding item produk pandai besi yang dihasilkan.

“Yang paling banyak dipesan adalah jenis golok atau bendo, buat nyembelih hewan saat perayaan kurban. Selain itu ada juga berang, cincang daging, kapak iris tulang dan pisau untuk iris kulit kambing” kata Sahri, yang juga Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) 2 Desa, Hadipolo Jekulo dan Tenggeles Mejobo.

“Kalau saya tidak bisa merinci penambahan volume (permintaan) itu, tapi memang beberapa pekan terakhir permintaan pisau lebih banyak dibanding biasanya, 1 bulan mulai terasa dan kira-kira 2 pekan mulai rame pesanan,” kata Sahri yang mengaku telah merintis usaha ini sejak tahun 2000 an.

 

 

Selain jenis golok, pesanan pisau dapur yang berukuran lebih kecil juga mengalami peningkatan. “Untuk memotong dan mengiris daging di rumah kan biasanya pakai yang kecil. Kalau lebaran Qurban seperti ini kadang sampai kewalahan melayani pesanan,” kata dia yang mengaku saat ini mempunyai 8 karyawan.

Untuk harga, menurut Sahri, cukup bervariasi, tergantung jenis dan ukuran bendo yang dipesan. Dijelaskannya, bendo atau golok panjang 60-65 untuk memotong kambing harganya berkisar Rp150 ribu – Rp200 ribu.

Sementara, golok untuk memotong sapi atau kerbau harganya lebih mahal lagi. Berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp350 ribu.
“Selain ukuran dan kerumitan model, jenis besi yang menjadi bahan dasar bendo atau golok juga turut menentukan harga,” ucapnya.

Menurut Sahri, pada hari-hari biasa ia rata-rata mendapat pesanan bendo paling banyak adalah 20 bilah. Sementara, jelang Idul adha, ia bisa mendapat pesanan bendo antara 30 – 40 bilah sehari.

“Permintaan dari pemesan yang juga pedagang besar langganan kami biasanya berubah-ubah, tergantung tren kebutuhan rumah tangga saat itu. Bulan ini kebetulan permintaan paling banyak pisau sehingga kami juga menambah volume produksi (pisau),”kata Sahri disela-sela mengedukasi siswa SMK Assa’idiyah yang selama beberapa hari belajar tentang hasil logam ditempatnya.

Sahri selain menjadi perajin golok dan pisau, juga menerima jasa asah benda tajam tersebut. Harga untuk mengasah pisau atau golok juga bervariasi. “Jasa asah antara Rp5.000 – Rp15.000, dijamin tajam,” tutur Sahri, yang saat ini juga menjadi sekretaris di Klaster logam Bapeda Kudus.

Selain pisau dapur, industri rumahan milik Sahri juga memproduksi beberapa peralatan lain, seperti pisau gergaji untuk memanen padi, golok, sabit hingga cangkul. Sahri mengaku terkadang juga melayani pesanan perangkat rumah tangga dan alat dapur ringan lainnya.

Disinggung soal kendala awal menekuni usaha ini, tidak adanya relasi dan belum ada penentuan harga khusus yang dipatok. Selain itu, waktu itu membuat barang dengan model yang sama dan belum ada variasi maupun inovasi. Alhamdulillah, mulai terasa ada perubahan saat mengikuti pameran di PRPP Semarang tahun 2005 an. Sejak itulah, relasi, ide pemasaran dan inovasi model pisau mulai bermunculan. “Selama menekuni usaha ini, bahan baku masih aman dan tidak ada kendala,” pungkasnya (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.