Kudus, isknews.com – Khawatir akan melumpuhkan jalan Pantura dan setelah mendengar himbauan sejumlah pihak termasuk dari kepolisian, akhirnya peserta unjuk rasa damai para pengemudi truk yang menuntut revisi Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) terkait over dimension, over load (ODOL) berangkat bersama-sama dengan menggunakan bus, Jumat (11/93/2022).
Seperti diketahui hari ini ribuan sopir truk dari berbagai daerah di Jawa Tengah menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Jawa Tengah Jalan Pahlawan Kota Semarang. Diperkirakan ada sebanyak 1.000 armada truk dan mobil komando direncanakan akan diturunkan bersama 2.000 peserta aksi unjuk rasa Undang-undang tersebut memuat aturan muat dan ukuran kendaraan yang selama ini dirasa meresahkan sopir truk dalam bekerja.
Menurut penanggungjawab Gerakan Sopir Jawa Tengah, Anggit Putra Kiswantoro, tercatat peserta aksi unjukrasa damai yang ikut ke Semarang adalah sebanyak sekitar 250 sopir truk dari Kudus, Jepara dan Pati. Sebagian besar mereka memarkirkan kendaraannya di garasi atau di parkir disekitar jalan lingkar sebelah selatan terminal induk, Jati Kudus.
“Karena khawatir menimbulkan kemacetan, makanya kami memberangkatkan menggunakan bus,” ujar dia.
Aksi besar-besaran yang digelar hari ini merupakan puncak penyampaian aspirasi dan merupakan hasil kesepakatan rapat dengan Gerakan Sopir Jawa Tengah, Serangkaian kegiatan telah dimulai sejak kemarin Rabu (9/3) hingga puncaknya di Gubernuran hari ini, Jumat (11/3). Dia berharap, aspirasinya terkait RUU Over Dimension dan Over Load (ODOL) dapat didengarkan Gubernur Jawa Tengah untuk menyampaikan ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
“Jika tidak didengarkan, kami akan menggelar aksi lebih besar lagi ke RI satu,” ujarnya.
Sementara itu, Saiful Anam (35) warga Dawe, Kudus, melakukan gerakan mogok nasional dan ikut aksi ke Semarang.
Saiful bersama rekan-rekannya berangkat menuju ke Semarang untuk meminta agar RUU ODOL dibatalkan.
“Saya sama rekan-rekan sopir ini berangkat naik bus, truknya diparkir di rumah,” jelas dia.
Saiful memilih tidak membawa truk untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan di jalan raya.
“Daripada macet, ini saya sepakat ikut aksi naik bus saja,” ujarnya.
Adapun muatannya yang berisi makanan ringan yang harusnya dikirim ke Palembang terpaksa ditunda dulu.
“Ya pemilik barang sudah mengerti, sementara pengiriman chiki ke Palembang ditunda dulu,” ujar dia.
Kapolres Kudus, AKBP Wiraga Dimas Tama mengimbau kepada sopir truk agar tetap menjaga kesehatannya karena masih dalam masa pandemi.
Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Wiraga Dimas Tama, menjelaskan, sopir truk telah sepakat untuk mengendarai bus dalam melakukan aksi di Kota Semarang.
“Itu kesepakatan antar sopir, dan disediakan sebanyak empat bus untuk mengangkut mereka,” terangnya, saat ditemui di Jalan Halmahera Kudus, Jumat (11/3/2022).
Menurut Kapolres Kudus, kendaraan bus yang dipakai tersebut harapannya tidak menyebabkan kemacetan di jalan raya.
Dia mengimbau, tidak ada lagi aksi menutup akses jalan yang menyebabkan kemacetan dan mengganggu pengendara lain.
“Kami imbau sopir truk ini tetap menjaga kesehatan, keselamatan dan tidak ada aksi tutup jalan,” ujar dia.
Pasalnya, akibat kemacetan yang terjadi pada hari Kamis sore kemarin sejumlah mobil ambulans terganggu.
“Karena kemacetan kemarin ada beberapa ambulans juga jadi terhambat,” ujar dia.
Koordinator Lapangan Kudus, Wahidil Munir, kemacetan itu ditimbulkan karena terjadi miss komunikasi.
Pihaknya tidak berencana untuk menutup akses Jalan Pantura Kudus, namun hanya ingin memperlambat arus kendaraan.
“Dari kami tidak menginginkan untuk menutup akses jalan kemarin, hanya memperlambat arus. Tapi terjadi miss komunikasi,” ujar dia. (YM/YM)










