Kudus, isknews.com – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah bersama Komisi E DPRD Jawa Tengah menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk E Makaryo pada Jumat, 23 Mei 2025, di Iron Café, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai peluang kerja, serta mekanisme dan prosedur ketenagakerjaan kepada masyarakat.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Arif Wahyudi, dalam paparannya menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih menjadi hambatan bagi para pencari kerja, yakni diskriminasi usia dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Ia menyebut bahwa perbedaan standar usia di setiap perusahaan telah menciptakan ketidakadilan dalam dunia kerja.
“Perlu ada penyelarasan standar usia agar masyarakat yang memiliki potensi tetap bisa mendapatkan kesempatan kerja, tidak semata-mata dibatasi oleh umur,” tegas Arif, yang juga menjabat sebagai pengurus di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Pengusaha Indonesia (Kapindu).
Menurutnya, penting bagi perusahaan untuk mengikuti semangat inklusivitas dalam perekrutan. Arif mengaku telah menyuarakan isu ini ke berbagai forum internal dunia usaha. “Rekan-rekan di Apindo dan Kapindu sudah sepakat pentingnya rekrutmen tanpa diskriminasi usia. Tinggal yang belum tergabung saja yang perlu pendekatan lebih lanjut,” jelasnya.
Kegiatan E Makaryo ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jateng dalam menurunkan angka pengangguran dan memperluas akses informasi ketenagakerjaan, terutama di daerah-daerah yang tingkat penganggurannya masih tinggi.
Namun, Arif juga menekankan bahwa selain persoalan diskriminasi usia, rendahnya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi faktor penghambat serapan tenaga kerja. Ia mencontohkan sebuah kasus di Brebes, di mana sebuah pabrik membuka 17 ribu lowongan, namun hanya 4 ribu yang terserap karena minimnya minat dan keterampilan kerja formal.
“Ini jadi alarm penting bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan vokasi. Sekolah-sekolah kejuruan harus menyesuaikan jurusan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujarnya. Ia menyebut bidang seperti kuliner, otomotif, dan fesyen sebagai contoh sektor yang saat ini banyak dibutuhkan, namun belum banyak ditanggapi oleh lembaga pendidikan.
Arif berharap, program seperti E Makaryo bisa memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah dalam menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih adil, adaptif, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.






