Tinggi Tingkat Kesembuhan Pasien TBC di Kudus 88,6 Persen, Masih Dibawah Target Nasional

oleh -334 Dilihat
Staf Program Mentari Sehat Indonesia (MSI) Amiruddin Siregar bersama Kepala DKK Kudus dr Andini Aridewi usai konferensi pers dengan wartawan terkait target optimalisasi penemuan kasus dan Komitmen Penanggulangan TBC, Selasa (13/12/2022)(Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kader Mentari Sehat Indonesia (MSI) Kudus bersama Dinas Kesehatan Kabupaten dan pimpinan sejumlah rumah sakit serta faskes menggelar kegiatan Pernyataan Bersama Optimalisasi Penemuan Kasus dan Komitmen Penanggulangan TBC di Kabupaten Kudus di Hotel Griptha, Selasa (13/12/2022).

Dikatakannya bahwa tingkat kesembuhan pasien atau success rate penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kudus pada tahun 2022 terbilang tinggi yaitu mencapai 88,6 persen. Capaian ini bahkan mendekati target success rate penyakit TBC yang ditentukan nasional yaitu sebesar 90 persen.

“Keberhasilan pengobatan bagi pasien TBC di Kabupaten Kudus itu mencapai 88,6 persen, artinya sudah mendekati target Nasional,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Andini Aridewi saat memimpin konferensi pers dihadapan sejumlah awak media.

Dirinya menjelaskan, keberhasilan ini didukung oleh adanya keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pihak-pihak di bidang kesehatan, dinas terkait di Pemkab Kudus juga turut andil dalam penanggulangan dan penanganan penyakit TBC.

“Kolaborasi ini merupakan implementasi rencana aksi daerah (RAD) untuk sengkuyung bersama dalam penangulangan TBC. Tidak hanya faskes saja, tapi Pemkab juga dilibatkan, seperti Bappeda, pihak swasta hingga kader-kader MSI (Mentari Sehat Indonesia),” paparnya.

Ia menerangkan, target temuan kasus TBC di Kabupaten Kudus pada tahun 2022 yaitu 2143 kasus. Sedangkan, saat ini DKK Kudus sudah menemukan 1977 kasus TBC positif.

“Target temuan itu memang harus ditingkatkan mendekati estimasi yang ada. Artinya bagaimana kita berupaya kalau ada kasus harus melakukan investigasi kontak menemukan kasusnya lagi supaya tidak semakin meluas,” tuturnya.

Pihaknya menyebut, upaya preventif dan penanganan terus dilakukan seluruh pihak. Mulai dari kegiatan promotif pencegahan penyakit TBC hingga menyediakan alat pendeteksi sampai pemantauan pasien penderita TBC di Kudus.

“Di Kudus sendiri sudah ada Perbup terkait RAD penanggulangan TBC. Ada juga Perda untuk pencegahan dan pengendalian penyakit,” ungkapnya.

Andini menyebutkan, ada tujuh rumah sakit umum (RSU) dan dua rumah sakit ibu dan anak (RSIA) yang sudah bisa memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan penyakit TBC. Kemudian, tambahnya, 19 puskesmas di Kudus juga sudah menjadi satelit penanganan TBC di Kota Kretek.

“Selain itu, DKK Kudus juga sudah melakukan MoU dengan 117 klinik dan dokter praktek mandiri dalam penanganan TBC. Jadi masyarakat bisa memeriksakan TBC di faskes terdekat dari rumahnya,” katanya.

Amiruddin Siregar selaku Staf Program Mentari Sehat Indonesia (MSI) Kudus menyampaikan, pihaknya memang turut membantu menanggulangi TBC di wilayah setempat. Yakni dengan cara melakukan investigasi kontak kasus TBC melalui kader-kader MSI.

“Kader MSI hanya membantu investigasi kontak atau tracing ke rumah pasien TBC. Ketika ada indikasi suspect baru nanti kami laporkan ke puskesmas,” ujarnya.

Selanjutnya, pihak puskesmas akan merujuk ke faskes yang memiliki alat pendeteksi penyakit TBC. Jika memang positif, puskesmas akan memberitahu kader MSI supaya bisa melakukan investigasi kontak lebiu lanjut.

“Kader MSI sudah ada hampir di seluruh puskesmas yang ada di Kudus. Setiap puskesmas mimiliki 1-2 kader MSI,” pungkasnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.