Tradisi Gantingi Kembali Digelar di PG Rendeng Pasca Revitalisasi Mesin Giling

oleh -177 kali dibaca
Suasana temu penganten tebu sebagai penanda awal buka giling PG Rendeng, Selasa, 10/05/2022 (Foto: YM)

Kudus, isknews.com –Wajah-wajah ceria tergurat pada manajemen, karyawan, petani tebu dan masyarakat sekitar Pabrik Gula Rendeng Kudus. Bagaimana tidak, setelah sempat tak beroperasi giling selama dua tahun akibat adanya program revitalisasi dan peremajaan mesin giling produksi pabrik gula. Kini PG Rendeng kembali giling yang dijadwalkan akan dimulai pada tanggal 15 Mei 2022 mendatang.

Masa peremajaan mesin yang menyita waktu, bahkan sempat terjadi gejolak unjuk rasa oleh karyawannya terkait kepastian kesiapan operasional pabrik. Namun kini Tradisi temu penganten tebu kembali digelar oleh manajemen PG Rendeng Kudus, sekaligus menjadi penanda bahwa Pabrik Gula dibawah PT Perkebunan Nusantara IX tahun ini mulai bangkit beroperasi dengan dimulainya musim giling tahun 2022, Selasa (10/05/2022).

Tradisi unik yang sering disebut juga sebagai prosesi selamatan giling atau dikenal sebagai Gantingi ini menjadi salah satu tradisi turun temurunbyang terus dilakukan setiap mengawali musim giling. Prosesi temu penganten tebu mulai dilaksanakan sekitar pukul.08.30 WIB. Tradisi diawali dengan serombongan yang membawa sejumlah batang tebu yang dihiasi balon dan kertas krep warna warni.

Rombongan bergerak dari arah seberang selatan jalan PG Rendeng. Rombongan yang diiringi kesenian barongan kemudian masuk ke areal PG Rendeng dan disambut layaknya penganten oleh jajaran manajer dan karyawan PG Rendeng.

Di antara batang-batang tebu yang diiring terdapat dua batang tebu yang diperankan sebagai penganten. Penganten tebu pria diberi nama Bagus Setio Raharjo sementara penganten tebu wanita bernama Roro Gendis Ayu.

Tebu-tebu penganten yang diarak tersebut merupakan tebu pilihan dari perkebunan tebu yang ada di Kudus.

Setelah prosesi serah terima, tebu-tebu penganten tersebut kemudian diarak menuju mesin giling PG Rendeng. Dengan iringan musik dan kesenian barongan, dua tebu itu akan diserahkan kepada pejabat pabrik dan dilemparkan ke mesin giling.

Selain dua tebu itu, turut diarak dan diletakkan ke mesin penggiling pula tebu-tebu pengiring yang berjumlah puluhan.

Pada tahun ini sendiri, tebu pengantin pria berasal dari perkebunan tebu Desa Gribig di Kecamatan Gebog, Kudus, dan pengantin perempuan berasal dari perkebunan tebu Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Menurut panitia pelaksanaan Wiyono, tradisi ini untuk melestarikan tradisi budaya yang sudah ada sejak zaman dulu. Selain itu, tradisi tersebut juga dilakukan untuk meminta kelancaran pada Tuhan Yang Maha Esa atas giling tebu.

“Dulu sempat ada festival-festivalnya, cuma sekarang hanya tradisi mantenan ini saja dan syukuran untuk meminta selamatan dan kelancaran giling saja,” katanya, Selasa (10/05/2022).

Wiyono menyampaikan, proses pemilihan tebu manten sendiri tidak bisa sembarangan. Ada sejumlah kriteria yang harus terpenuhi bila sebuah batang tebu dijadikan manten tebu.

“Ada syarat misalnya tingginya harus empat meter, rendemennya berapa juga, jadi dipilih yang paling baik dari yang terbaik,” pungkasnya.

Acara manten tebu sendiri akan ditutup dengan acara wayang kulit semalam suntuk yang bakal dihelat malam ini di PG Rendeng. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.