Kudus, isknews.com – SMP 1 Gebog Kudus mengadakan pelatihan ecoprint selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 17–19 Juni 2025, yang dipusatkan di halaman indoor sekolah. Kegiatan ini menyasar seluruh siswa kelas 7 dan 8, yang dibagi dalam 80 kelompok, dengan masing-masing kelas menghasilkan lima karya ecoprint berupa taplak meja.
Kepala SMP 1 Gebog, Endang Siwi, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk mengisi waktu jeda sebelum penyerahan rapor, “Class meeting sudah selesai, jadi dari pada anak-anak gabut, kami adakan kegiatan yang bisa menumbuhkan kreativitas dan produktivitas mereka,” ungkapnya.
Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun sebelumnya yang menghasilkan berbagai produk turunan ecoenzym, seperti sabun mandi, shampo, sabun cuci tangan, deterjen, dan pembersih lantai. Tahun ini, siswa kembali dilibatkan dalam pembuatan produk kreatif melalui teknik ecoprint, yaitu mencetak motif alami dari daun dan bunga pada kain.
“Kami mengundang instruktur khusus untuk membimbing siswa membuat batik ecoprint. Dalam prosesnya, siswa memanfaatkan tanaman sekitar seperti daun mangga muda, jati, kelengkeng, dan kenikir. Ini tidak hanya kreatif, tapi juga ramah lingkungan,” kata Endang.

Menurutnya, teknik ecoprint dipilih karena relatif sederhana dan efisien. Kain diberi pola daun, dilapisi plastik, lalu digulung dan dikukus hingga motif tercetak alami. Produk yang dihasilkan akan menjadi inventaris sekolah dan bukti nyata kreativitas siswa.
Endang berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan siswa. “Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu secara teori, tetapi juga bisa praktik, bahkan memiliki nilai jual dari hasil karyanya,” imbuhnya.
Dengan adanya pelatihan ini, pihak sekolah berharap siswa lebih peka terhadap potensi lingkungan sekitarnya serta semakin percaya diri dalam berkarya dan berinovasi.

Instruktur pelatihan, Nunung Noor Khamimah (48), menyambut antusias semangat siswa dalam mengikuti tiap tahap pelatihan. Ia mengatakan bahwa para siswa sangat antusias saat memilih motif dan bereksperimen dengan berbagai jenis daun. “Kami senang bisa berbagi ilmu dan membuka ruang kreativitas bagi anak-anak,” ujarnya.
Salah satu peserta, Alin dari kelas 8E, mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. “Seru banget! Motifnya macam-macam, kami sekelompok pakai daun mangga dan kenikir. Ternyata bisa jadi kain yang cantik,” ujarnya dengan semangat. (AS/YM)









