Warga Payaman Anggap Pembangunan Embung Solusi Banjir di Wilayahnya

oleh -333 kali dibaca
Wrga Payaman saat menerima bantuan sembako dari anggota dewan, berharap pemkab Kudus bangun embung di wilayahnya (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Banjir kembali menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Begitu halnya dengan Desa Payaman Kecamatan Mejobo dan Desa Karangrowo Kecamatan Undaan.

Dalam rangka mengunjungi kawasan yang menjad daerah pemilihannya, angoota Komisi D DPRD Kudus, Sandung Hidayat mengatakan dirinya akan mengusulkan pembangunan embung pada Pemkab Kudus melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang(PUPR).

“Tahun lalu sudah pernah ada pembahasan mengenai wacana tersebut. Tapi kami belum tahu kelanjutannya, nanti akan kami follow-up,” ungkap politisi partai Gerindra ini saat menggelar kegiatan bakti sosial pembagian sembako bagi korban banjir di Dukuh Karanganyar, Desa Payaman, Senin (01/02/2021).

Menurutnya, pembuatan embung ini akan membawa dampak besar bagi sektor pertanian di Kecamatan Mejobo dan Undaan.

Pasalnya pada musim penghujan embung bermanfaat untuk menampung air limpasan sungai dan menyelamatkan permukiman penduduk dari banjir. Sementara di musim kemarau, air embung pastiya dibutuhkan untuk irigasi sawah.

“Selain itu, saya rasa biaya pembuatan embung tidak begitu besar. Soalnya tanah di sekitar Sungai Juwana merupakan lahan mati yang harganya murah,” tuturnya

Inisiatif Sandung ini merupakan serapan usulan warga yang jengah dengan situasi banjir di wilayahnya yang nyaris selalu menimpa wilayahnya setiap tahun.

“Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Kudus bisa membangunkan embung untuk mencegah bancana ini,” katanya.

Sementara itu Eko Prasetyo, 43 tahun, petani warga Dukuh Karanganyar Desa Payaman mengaku sudah jengah dengan musibah banjir yang terjadi setiap kali hujan lebat datang. Walau air banjir tidak serta merta mematikan aktivitas warga.

Namun, air banjir yang menggenangi permukiman warga dan area persawahan membuat petani maupun peternak merugi.

“Di kawasan permukiman banjir tidak begitu dalam, paling sekitar 5 sampai 40 sentimeter. Banjir di sini dampak terbesarnya di area persawahan,” katanya.

Ia mengaku sawah di Dukuh Karanganyar, Desa Payaman tak ubahnya lahan mati. Sebab kelangsungan hidup tamanan di sana sangat bergantung dengan kondisi air di Sungai Jeratun.

“Setahun hanya ditanami sekali. Itupun kalau berhasil, kalau padi terendam banjir dan puso ya tidak menghasilkan apa-apa,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Kudus bisa membuatkan embung di tepi Sungai Jeratun. Selain untuk irigasi sawah warga, embung tersebut diharapkan dampat menampung limpasan air dari Sungai Jeratun hingga tidak membanjiri permukiman warga. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.