Badai Ismoyo Bantah Spekulasi Penyebaran Covid-19 Varian Delta Berawal dari Kudus

oleh -946 kali dibaca

Kudus, isknews.com –  Covid-19 varian B1617.2  atau yang disebut juga dengan varian Delta, oleh sejumlah pihak  disebut bersumber dari penularan di Kudus. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Badai Ismoyo, menegaskan bahwa sebetulnya kasus varian Delta itu tidak hanya di Kudus saja. Spekulasi itu menurutnya tidak benar.

“Nyatanya sekarang sudah ada dibeberapa kabupaten/kota lainnya. Hanya saja, secara kebetulan saat terjadi kasus melonjaknya kasus Covid usai lebaran kemarin, Kudus menjadi sorotan. Hal ini karena kasus lonjakan Covid-19 langsung dilakukan tracing dan pengiriman data speciment virus ke laboratorium dengan cepat, itu termasuk speciment saya dan isteri saya yang ikut diperiksa,” kata Badai Ismoyo, disela – sela acara Serbuan Vaksin Nasional yang berlangsung di halaman parkir GOR Djarum Jati, Sabtu (26/06/2021).

Prinsipnya menurut dia, pihaknya akan memberikan data yang sebenarnya, sehingga pengungkapan kasus Covid di Kudus agar cepat tertangani dengan menyeluruh. Termasuk dalam melakukan 3T (Testing, Tracing, Treatment) saat melonjaknya kasus Covid usai lebaran lalu, Kudus melakukan secara masif. Karena semakin banyak yang diketahui kasus Covid maka akan semakin cepat dalam melakukan tindakan.

“Memang dengan data terbuka itu angka kasus di Kudus menjadi tinggi, tapi dengan diungkap begitu akan diketahui wilayah-wilayah yang perlu memperoleh konsentrasi untuk menekan penyebaran Covid-19 di wilayah tersebut, makanya tidak seperti di daerah lain, data yang tersaji di Kudus sesuai dengan yang di terima oleh Dinas Kesehatan Provinsi,”

Memang dari hasil uji spesimen yang dikirim ke UGM maupun Litbangkes, hasilnya mayoritas adalah terpapar varian Delta. Sangat tidak pas bila Kudus dituding sebagai penyebar varian Delta. Karena di Jawa Tengah saat mudik lalu, kan banyak kabupaten/kota yang menjadi sasaran mudik. Untuk Kudus sendiri kan tidak sebanyak kabupaten tetangga dengan kehadiran pemudik. Cuma yang terdengar dengan keras adalah Kudus saat kasus Covid lalu,” kata Badai.

Dikatakan olehnya, selama ini dari pelacakan yang dilakukan terhadap para penderita Covid-19 yang terpapar varian Delta tidak ada yang kontak dengan para TKI atau TKW. Begitu pula untuk perdagangan juga tidak ada yang berhubungan dengan India yang disebut – sebut sebagai asal mula varian Covid -19 itu.

“Sampai saat ini memang belum ditemukan darimana sumber varian Delta yang terjadi di Kudus. Dari 28 hasil spesimen yang positip terpapar varian Delta serta 34 spesimen lainnya, sudah dilakukan trecking. Bahkan saya dan istri saya juga termasuk spesimen yang merupakan positip varian Delta. Selama 14 hari kebelakang saya tidak kemana – mana, hanya dari rumah ke kantor dan tidak pernah bepergian ke luar kota. Itupun saya masih terpapar varian Delta, begitu pula trecking yang dilakukan kepada pasien lainnya, hampir sama dengan yang saya alami ,” ujar Badai.

Selama ini untuk kegiatan vaksinasi di Kudus, rata – rata per hari 5.000 masyarakat sudah divaksinasi. Yakni melalui 19 puskesmas yang tersebar di 9 kecamatan. Harapannya, seluruh warga Kudus dapat selesai dilakukan vaksinasi.  Bila perintahnya untuk usia 18 tahun keatas divaksin, maka kebutuhan vaksin di Kudus mencapai 1,3 juta vaksin untuk dosis 1 dan dosis 2.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Badai Ismoyo (Foto: YM)

“Dari data di Disdukcapil Kudus, untuk jumlah warga yang berusia 18 tahun ke atas sebanyak 664.666 jiwa. Dan sampai saat ini kami masih menggunakan vaksin Sinovac dan belum menggunakan vaksin yang baru itu,” kata Badai Ismoyo.

Sasaran vaksinasi yakni nakes, pelayan publik, lansia, masyarakat rentan serta masyarakat umum terdapat 664.666 orang. Untuk dosis 1 sudah tercapai sebanyak 85.517 orang (12,9%). Sedangkan untuk dosis 1 baru tercapai 33.188 orang (5%). (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.