Bawaslu Kudus Rangkul Banyak Ormas Dan Komunitas, Libatkan Dalam Pengawasan Partisipatif

oleh

Kudus, isknews.com – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Kudus menggandeng berbagai elemen masyarakat dan komunitas, untuk meningkatkan pengawasan partisipatif. Hal itu dilakukan karena intensitas masa kampanye makin tinggi dan keterbatasan sumber daya pengawas sampai tingkat bawah yang masih perlu di pertajam.

“Hingga hari ini tercatat sudah 13 ormas dan komunitas yang telah kami libatkan dalam sosialisasi pengawasan partisipatif masyarakat, utamanya pada sosialisasi anti politik uang,” kata Ketua Bawaslu Kudus Wahibul Minan, usai memberangkatkan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Kudus, yang berparade mengibarkan panji “Tolak Politik Uang” di sepanjang jalan-jalan di Kudus, pagi tadi, Minggu (31/03/2019).

Malam sebelumnya yang berlangsung hingga pagi dini hari, Bawaslu juga menggelar  Sosialisasi Politik Uang melaui Seni Teatrikal, yang di gelar di Balai Jagong kompleks GOR Bung Karno Kudus.

TRENDING :  Ribuan PTPS Pemilu 2019 Kudus Dilantik Serentak Hari Ini

“Tiga kelompok teater yang menampilkan karya tearikalnya dengan tema Pemilu yang jujur dan tolak politik uang, kelompok itu adalah teater Satoesh, Teater Dewa Ruci dan teater Apotek,” terangnya.

Menurutnya, pengawasan partisipatif yang diharapkan adalah masyarakat berperan aktif dan berinsiatif ikut melakukan pengawasan di lingkungan masing- masing untuk semua hal yang terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2019 ini.

“Kita sudah serukan dengan tagline CAT (Cegah Awasi Tindak). Intinya tetap mengedepankan pencegahan. Misalnya seperti pemasangan alat peraga kampanye yang tata letaknya melanggar, kan kalau mau dipindahkan tempatnya tidak akan menjadi laporan,” ucap Minan.

TRENDING :  Bawaslu Siap Beri Keterangan Pada Sidang Permohonan Sengketa PHPU Tiga Caleg DPRD Kudus
Peserta dari komunitas sepeda tua Kudus saat berpartisipasi pada konvoi soaialisasi tolak politik uang yang di gelar oleh Bawaslu Kudus, Minggu (31/03/2019) Foto: YM

Ditambahkan olehnya, “sosialisasi sebelumnya telah kami lakukan dengan kalangan Muslimat NU, Aisyiyah, para pelajar, rohaniawan gereja, wartawan dan juga dengan seniman mural serta komunitas pelajar pembuat video dan masih banyak lagi,” kata dia.

Menurut dia, kegiatan-kegiatan tersebut ditujukan mengajak masyarakat untuk mengetahui hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara, baik sebagai pemilih maupun pengawas partisipatif.

Agar pemilu berjalan secara demokratis dan berkualitas, pihaknya juga terus mendorong elemen-elemen masyarakat menjadi agen-agen perubahan di lingkungan masing-masing khususnya menyosialisasikan apa yang mereka peroleh dari Bawaslu.

Minan mengharapkan, dengan adanya pengawasan partisipatif dan pelaksanaan pemungutan suara Pemilu Serentak 2019 sudah dekat, masyarakat Kudus makin jeli dan menjadi pemilih yang baik.

Menurut dia, pemilih yang baik adalah pemilih yang bisa menilai apakah informasi yang berkembang di media sosial maupun media lainnya bisa dipercaya akurasinya atau tidak bisa. “Apabila ada informasi yang masih bersifat sumir atau meragukan, kami sarankan masyarakat untuk mengakses media-media ‘mainstream’.

TRENDING :  Masa Tenang Bawaslu Kudus Copoti Ribuan APK

Disinggung soal kemungkinan maraknya praktik politik uang saat mendekati pemilu, Minan mengatakan panitia pengawas di 9 kecamatan telah membuat agenda untuk mengantisipasi potensi praktik politik uang.

“Masing-masing sudah tiga kali menggelar sosialisasi kepada kelompok-kelompok sasaran. Misalnya, kemarin di Karanglewas dengan kader-kader posyandu dan PKK, sedangkan di Sumbang dengan gapoktan (gabungan kelompok tani), Satuan Perlindungan Masyarakat, dan guru-guru TK,” katanya.

Menurutnya, jika masyarakat menemukan dugaan praktik politik uang bisa dilaporkan k e ke pengawas di tingkat desa.

“Atau laporkan kepada pengawas tempat pemungutan suara (PTPS) yang sudah di lantik beberapa saat lalu,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :