Bos Biro Umroh Kabur, Ratusan Calon Jamaah Protes Keluarga Kembalikan Uang, Ada yang Pingsan

oleh -5,408 kali dibaca
Seorang wanita peserta mediasi pingsan saat mendengar bahwa pihak keluarga yakni ayah dan isteri pelaku, tak dapat mengembalikan uang peserta karena bukan menjadi tanggung jawabnya, Rabu 21/02/2024 (Foto : YM)

Kudus, isknews.com – Ratusan orang yang mengaku sebagai calon jamaah peserta paket perjalanan Umroh dan sudah membayar kepada bos biro perjalanan Umroh dan Haji Khusus, Goldy Mixalmina yang berkantor di Jalan Kyai Telingsing No.44, Desa Demangan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, HM Zyuhal Laila Nova, mereka memprotes kepada keluarga untuk mengembalikan uang mereka.

Pasalnya direktur sekaligus CEO Goldy Mixalmina, HM Zyuhal Laila Nova diduga kabur setelah hingga jadwal pemberangkatan mereka yakni pada tanggal 18 Februari, Zyuhal Laila atau yang sering disapa Haji Lila hingga tanggal tersebut tak menampakkan batang hidungnya untuk melengkapi kelengkapan bagi para jamaah peserta paket di biro perjalanan Umrohnya.

Demi meminta penjelasan, mereka pun mediasi dengan keluarga dari Zyuhal yakni ayah dan isterinya, dengan harapan mendapatkan solusi atau pengembalian uang yang telah terlanjur disetor.

Mediasi yang dilaksanakan di Aula Warunk Upnormal Jl. HM Subchan ZE No.50, Purwosari, Kudus dihadiri oleh Huda ayah Lila dan isterinya. Suasana sempat berlangsung panas, saat sejumlah peserta berapi-api minta agar keluarga segera mengembalikan dana mereka yang telah disetor kepada Lila, anak dan suaminya.

Bahkan seorang peserta mediasi sempat pingsan mendengar bahwa keluarga tetap hanya bisa menunggu kedatangan pelaku Lila.

Dian Vina, salah satu calon jemaah umroh dari Kudus menceritakan, rencananya ia bersama 8 orang keluarganya ingin menunaikan ibadah umroh melalui biro perjalanan tersebut. Tergiur dengan promo yang ditawarkan biro pada Agustus 2023 lalu, ia pun langsung membayar lunas biaya perjalanan umroh satu keluarganya.

Suasana mediasi berlangsung panas, saat para peserta ngotot minta keluarga bertanggungjawab atas dana Umroh yang telah mereka serahkan kepada anaknya Zuhal Layla (Foto: YM)

“Waktu itu (Agustus 2023) langsung saya bayar lunas semua, totalnya 210 juta rupiah, lunas,” kata Dian usai mediasi dengan keluarga Zyuhal di salah satu cafe di Kudus pada Rabu, 21 Februari 2024 sore.

Dian melanjutkan, sebelumnya ia bersama keluarganya dijadwalkan berangkat umroh pada tanggal 18 Februari 2024. Namun sampai hari ini, tidak ada kejelasan kapan akan berangkat umroh.

“Jadi saya dan keluarga saya merasa dirugikan oleh pihak biro tersebut,” ucapnya.

Bahkan saat mediasi dengan pihak keluarga Zyuhal, orang-orang terdekat dari pemilik biro itu pun tidak memberikan solusi apapun. Bahkan menurut Dian, pihak keluarga itu angkat tangan atas permasalahan yang ada.

Sebab itu, dengan tegas, Dian meminta agar uang yang telah dibayarkan untuk umroh, dikembalikan.

“Kami mau uang kembali, kami tidak percaya lagi dengan biro tersebut,” tegasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Syamsiyah. Warga dari Kabupaten Pati itu mengatakan, ada 19 orang yang meminta penjelasan darinya tentang waktu pemberangkatan umroh.

Meskipun dia tidak ikut membayar biaya umroh ke biro, namun Syamsiyah adalah orang yang dipercaya para tetangganya tentang perjalanan umroh tersebut. Terlebih pada tahun 2022, ia bersama suaminya pernah umroh dengan biro Goldy Mixalmina dan terbukti terpercaya serta bagus.

Sebagai pihak ketiga yang menjembatani antara pihak biro dengan 19 calon jemaah, Syamsiyah sering ditanya kapan waktu pemberangkatan. Intens berkomunikasi dengan Zyuhal, pada tanggal 14 Februari Syamsiyah menemani 19 calon jemaah mengikuti manasik umroh dengan biro tersebut.

Dijanjikan berangkat pada 19 Februari 2024, tapi ternyata tidak jadi diberangkatkan hingga saat ini.

“Jadi 19 jemaah ini menuntut uang dari saya, dari mana saya dapatkan uang 400 juta rupiah itu? Saya hanya mengantarkan, mereka juga yang langsung mengirimkan uang ke Lila, ada BRI dan Mandiri,” katanya.

Syamsiyah sangat berharap, Zyuhal segera kembali ke keluarganya dan bertanggungjawab atas masalah yang terjadi saat ini.

“Lyla, tolong kembali, saya tidak lapor polisi, tolong kembalikan uang kami,” harapnya.

Harapan yang sama juga disampaikan Sugiarti. Warga Kudus itu sudah kepalang malu karena tidak jadi berangkat. Padahal informasi keberangkatannya beribadah ke tanah suci Mekah sudah tersebar ke para tetangga dan saudara-saudaranya.

“Saya malu, saya bingung. Mediasi ini juga gak ada solusi apa-apa, saya berharap uang saya dikembalikan,” katanya.

Sugiarti yang berencana berangkat dengan suaminya, mengaku telah membayar lunas biaya perjalanan umroh tersebut. Mengambil paket umroh khusus, ia telah mengirimkan uang senilai 63 juta rupiah untuk 2 biaya dua orang umroh. Namun pada kenyataannya, sampai tanggal yang ditentukan, ia tidak jadi berangkat.

“Mediasi ini tadi juga tidak ada solusi apa-apa, kata-kata minta maaf juga tidak ada,” ungkap Sugiarti dengan kecewa.

Di samping itu, ayah dari Zyuhal, Huda mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa tentang permasalahan anaknya tersebut.

Sebagai orang tua, Huda hanya berusaha menghormati orang-orang yang meminta penjelasan tentang permasalahan yang menyangkut anak kandungnya itu.

“Saya gak tahu apa-apa, saya orang tuanya, saya gak tahu permasalahannya,” katanya sebelum meninggalkan lokasi mediasi petang ini.

Ia mengaku, terakhir komunikasi dengan Zyuhal pada hari Rabu, 14 Februari 2024 lalu saat manasik umroh. Setelah itu ia tidak tahu-menahu anaknya dimana sekarang.

“Persoalan ini saya gak tahu, sama sekali gak tahu. Saya hanya menghormati, Karen itu anak saya, gitu aja,” ucapnya.

Ketika ditanya mengenai solusi apa yang bisa diberikan untuk para calon jemaah umroh yang merasa dirugikan, Huda pun menjawab tidak tahu apa-apa.

“Saya gak tahu apa-apa, saya gak tahu, sungguh gak tahu,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Kota Kudus, yang ikut hadir mengamankan kegiatan mediasi tersebut mengaku menyesalkan kepada para calon jamaah yang tetap bersikukuh tidak mau melapor ke polisi atas kasus gagal berangkatnya mereka Umroh akibat kaburnya Lila.

Menurutnya diperkirakan 192 orang yang menjadi korban dari tak jelasnya waktu keberangkatan umroh tersebut. Bila dikalikan dengan harga paket termurah yakni Rp 22 Juta maka nilai kerugian mencapai angka Rp 4 Miliar lebih.

“Kalau mereka bersedia melapor kan kami punya kewenangan yang cukup luas untuk melakukan pengejaran kepada yang bersangkutan, bahkan kalau hilang Polisi bisa menetapkan dia sebagai DPO,” ujar Kapolsek.

Sejumlah sumber menyatakan, para calon jamaah tak bersedia melapor ke polisi karena takut uang mereka justru tak dikembalikan saat Lila dijatuhi hukuman di Pengadilan misalnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.