Gemuruh Nasdem Tuding RTMM Kudus Berlebihan Lakukan Pemotongan Upah Buruh

oleh -234 kali dibaca
Iustrasi buruh di Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Gerakan Masa Buruh Nasional Demokrat (GEMURUH-NASDEM) Kabupaten Kudus bereaksi terkait adanya praktek pemotongan upah buruh untuk kepentingan organisasi.

Melalui koordinator Departemen Edukasi dan Advokasi Buruh Gemuruh Nasdem,  Nur Wakit, pihaknya menila hal itu merupakan tindakan yang berlebihan dan meminta Satuan Pengawas Ketenagakerjaan (SATWASKER) Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Tenaga KerjaKabupaten Kudus menghentikan potongan upah buruh rokok di Kudus.

“Potongan upah buruh diduga dilakukan oleh Organisasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman (RTMM-SPSI) Kudus. Potongan upah buruh untuk kepentingan organisasi dinilai terlalu berlebihan,” katanya, Kamis (30/06/2022).

Menurutnya, pemtongan tidak hanya sebulan sekali, namun potongan upah dilakukan setiap hari libur nasional.

“Praktis jika dalam kalender masehi terdapat 16 hari libur nasional ditambah 1 hari libur kupatan, maka buruh rokok harus rela upahnya dipotong sebanyak 17 kali dalam setahun,” kata Nur Wakit.

Dijelaskannya, data yang dirilis oleh Disnaker Perindakop UKM Kudus menyebutkan jumlah buruh yang diklaim sebagai anggota RTMM-SPSI Kudus sebanyak 78.897 orang. Nominal sekalipotong Rp. 2.250 per buruh. Jika ditotalpendapatan RTMM-SPSI dalam setahun bisa mencapai lebih dari Rp. 3 Milyar (Rp. 3.017. 810.250,-).

“Berdasarkan ketentuan AD/ART Pasal 21 tentang aturan Pemotongan Iuran, maka pemotongan iuran dilakukan setiap bulan diambil dari gaji buruh. Dengan demikian, organisasi pekerja itu telah melanggar ketentuan yang dibuat sendiri dalam Munas VI FSP RTMM-SPSI tahun 2020,” terangnya.

Disamping itu kata dia, dalam mengelola keuangan yang bersumber dari potongan buruh, diduga tidak transparan dan akuntable. Laporan keuangan yang wajib dilaporkan secara Triwulan belum bisa diakses mayoritas buruh rokok di Kudus.

Diakui, RTMM-SPSI dalam memungut upah buruh kurang dari 1 persen dari gaji yang diterima per-bulan. “Akan tetapi alasan itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan potongan sebanyak 17 kali dalam setahun,” ungkapnya.

Problemnya adalah kiprah Serikat Pekerja yang ada justru belum dirasakan kemanfaatnnya bagi para buruh.

“Oleh karenanya patut diduga, RTMM-SPSI tidak berani melakukan potong 1 persen dari upah buruh perbulan. Bisanya hanya mensiasati potongan upah sebanyak 17 kali dalam setahun,” tuturnya.

Nur Wakit mengatakan, Gemuruh berempati terhadap nasib buruh di Kudus. Kebebasan berserikat dipasung demi loyalitas terhadap satu serikat pekerja.

“Keterlibatan komponen masyarakat kritis terhadap keberadaan Serikat Pekerja RTMM sangat dibutuhkan. Sebab, tidak semua buruh tahu jika upahnya dipotong. Buruh hanya pasrah tanpa mengetahui potongan upah untuk kepentingan apa dan siapa ,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.