Kasus Pengeroyokan Warga Temulus, Polisi Tak Sertakan Bukti CCTV, Berkas Dikembalikan Kejari

oleh -266 kali dibaca
Kasi Pidana Umum Kejari Kudus, M. Bahar (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Perkembangan kasus pengeroyokan yang menimpa ramaja MLF (18) warga Desa Temulus, Mejobo, Kudus Akhir tahun lalu. Kasus yang sempat viral nasional akibat orangtua korban sempat berkirim surat kepada Presiden dan Kapolri mengadukan lambannya pemeriksaan pihak polisi.

Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus mengaku sempat menerima limpahan berkas kasus tersebut dari penyidik Polres Kudus, bulan lalu, namun dianggap belum P21 sehingga harus dikembalikan kepada penyidik Polres Kudus akibat kekuranglengkapan alat bukti.

Menurut Kasi Pidana Umum Kejari Kudus, M Bahar menyampaikan, berkas sudah diserahkan ke Kejari Kudus tetapi belum lengkap.

“Salah satu alat bukti yang belum lengkap itu adalah tidak adanya rekaman CCTV yang diserahkan kepada kejaksaan. Buktinya masih kurang, misalnya tidak adanya rekaman CCTV. ‎Sehingga kami minta untuk dilengkapi,” ujar dia.

Padahal, kata dia, setelah kejadian pengeroyokan di depan kantor Samsat Kabupaten Kudus. Korban sempat di antar para pelaku menggunakan sepeda motor berboncengan ke rumah korbannya.

Sehingga diperkirakan masih ada rekaman CCTV yang mendukung untuk pembuktian kasus pengeroyokan tersebut.

“Korban itu sempat di antar pelaku ke rumahnya, jadi seharusnya rekaman CCTV disepanjang lintasan jalan itu ada,” ucapnya.

Saat ini prosesnya P20, yakni meminta penyidik untuk mengirimkan kembali berkasnya ke Kejaksaan dalam kurun waktu sebulan.

“Pasal yang dikenakan adalah 170 KUHP soal tindak pidana pengeroyokan, berlapis dengan pasal 80 tentang Undang-undang Perlindungan Anak, karena pada saat kejadian korban masih dibawah umur,” kata dia.

Dalam SOP penyidik diminta melengkapi alat bukti dalam waktu 30 hari dari sejak dikembalikan. Jika dalam waktu itu penyidik tidak juga melengkapi berkasnya, maka yang bersangkutan akan memperpanjang lagi selama sebulan.

“Kalau masih belum dilengkapi juga, maka kami akan mengembalikan SPDP ‎(Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan-red). Karena hanya jadi beban kami bila tidak diselesaikan,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kudus, AKP Agustinus David menyampaikan, akan melengkapi berkas terkait kasus pengeroyokan tersebut.

“Kami akan melengkapi berkas penyidikan tersebut,” jelasnya.

‎Pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut kepada penyidik terkait tidak ada rekaman CCTV, padahal keluarga korban memiliki rekaman tersebut dari kamera yang ada di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo.

“(CCTV-red) itu materi penyidikan, nanti kami koordinasikan,” ujarnya.

David berencana mengirimkan berkas kasus pengeroyokan itu dalam waktu dekat.

“Segera kami kirimkan berkasnya ke Kejaksaan,” ujarnya.

Diketahui, sebelumnya kasus pengeroyokan itu mendapatkan perhatian karena orang tua korban, Surachmat (38) membuat surat terbuka melalui video dan meminta bantuan Presiden Jokowi, Kapolri, Ketua MPR dan DPR agar kasusnya dapat ditangani secara profesional.

Surachmat kecewa karena pelaku‎ yang sudah ditetapkan tersangka tidak kunjung ditahan dan terkesan dibiarkan.

“Saya buat rekaman video itu inisiatif sendiri, karena proses hukumnya lamban pelaku tidak ditahan. Berulangkali saya datang ke Polres Kudus juga jawabannya begitu saja,” ujar dia.

Padahal, dalam surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan nomor B/102.d/V/2022/Reskrim pelaku bernama MM sudah ditetapkan tersangka. Penetapan tersangka setelah dilaksanakan gel‎ar perkara pada 7 April 2022.

Adapun kronologis kejadiannya bermula ketika korban hendak membeli rokok di warung dekat rumah. Pelaku kemudian meminta rokok korban ‎tetapi tidak diberi. Kemudian pelaku mengancam bakal membunuh korban.

“Anak saya diancam katanya mau dibunuh‎ kalau ketemu di luar. Seminggu itu anak saya nggak berani keluar rumah,” kata dia saat itu.

Hingga akhirnya kejadian pengeroyokan tersebut setelah anaknya mengantar pulang temannya. MLF sendiri sempat dirawat di rumah sakit selama 11 hari atas penganiayaan itu.

Surachmat juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan memiliki rekaman CCTV saat anaknya diantar para pelaku. Saat sejumlah awak media menemui Kepala Desa (Kades) Temulus terkait hal tersebut. Kades Suharto mengaku memiliki rekaman CCTV saat MLF diantar pulang oleh tersangka dan ditinggal di teras rumahya.

Namun kenyataannya Kejari Kudus belum menerima rekaman tersebut untuk menguatkan dakwaan. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.