Kemarau, Pamsimas Andalan Warga Penuhi Kebutuhan Pasokan Air Bersih

oleh -361 Dilihat

Kudus, isknews.com – Menghadapi musim kemarau yang akan segera menjelang, sejumlah kawasan rawan air bersih saat musim itu tiba, kini mulai harus berbenah. Seperti di sejumlah kawasan paling terdampak kekeringan di Kecamatan Kaliwungu sumur sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) kini menjadi tumpuan harapan mereka.

Sebut saja di Desa Banget, untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Pamsimas dinilai lebih murah dibandingkan layanan air bersih yang diselenggaraan perusahaan daerah. Menjelang kemarau, keberadaan sumur Pamsimas di kawasan tersebut dioptimalkan.

Kepala Desa (Kades) Banget, Slamet Widodo menyebut, tiga sumur Pamsimas masing-masing dibangun tahun 2009-2012 (dua sumur) dan tahun 2012 namun baru dapat dioperasionalkan pada 2018. Lumayan sangat membantu kebutuhan air bersih di wilayahnya, meski jumlah sumurnya dirasa masih belum ideal.

Kepala Desa (Kades) Banget, Slamet Widodo (Kanan) dan pengelola Pamsimas Tolikan saat menunjukkan besarnya debit air Pamsimas di wilayahnya (Foto: YM)

Menurut dia jumlah penduduk di desanya 1.465 kepala keluarga (KK). Satu sumur yang mempunyai debit 2 liter per detik hingga 3 liter per detik rata-rata mampu melayani 200 KK. Kualitas air sumur Pamsinas cukup baik.

”Untuk wilayah kami idealnya dibutuhkan 2 sumur Pamsimas, 2 di Dusun Banget dan 3 di Dusun Kacu sesuai jumlah penduduknya, itu idealnya, kami sedang mengajukan ke Provinsi untuk penambahan sumur Pamsimas agar lebih swasembada air,” imbuhnya.

Dijelaslaskan oleh Kades, beban puncak penggunakan air bersih, pagi pukul 05.00-pukul 08.00, dan sore pukul 05.00-pukul 16.00. Saat itu, kucuran air bersih dari sumur berkurang akibat digunakan hampir bersamaan oleh warga.

Memasuki bulan September, debit air sumur berkurang. Meskipun begitu, warga masih dapat memanfaatkan air dari sumber tersebut. Penurunan debit dari 2 liter per detik menjadi 1,5 liter per detik. Sejak 2014.

“Alhamdulillah warga sudah tidak mengandalkan dropping air ketika kemarau tiba, karena sudah memperoleh pasokan dari sumur Pamsimas, Kata dia.

Senada, pengelola Pamsimas setempat, Tolikan, mengaku akan mengoptimalkan keberadaan sumur Pamsimas. Pihaknya meyakini, dengan tambahan dua unit sumur produksi lagi, kebutuhan air warga Desa Banget dapat teratasi.

”Dibutuhkan dana Rp 600 juta untuk pembuatan satu sumur Pamsimas beserta infrastruktur kelengkapannya,” ujarnya saat ditemui di Balai Desa.

Tolikan mengatakan, Abonemen yang dibebankan ke pelanggan Rp 3.000 per bulan dan jika warga hanya menggandalkan air sumur Pamsimas setiap bulan biaya berlangganan Rp 50 ribu-Rp 100 ribu,” ujar dia.

Terpisah, Camat Kaliwungu, Satria Agus Himawan, mengatakan pilihan penggunaan sumur Pamsimas atau layanan dari perusahaan daerah diserahkan kepada warga.

Pihaknya berharap semua sumber daya air di wilayahnya dapat dioptimalkan menghadapi kemarau tahun ini.

”Kami berkoordinasi dengan semua pihak agar warga memperoleh layanan air bersih secara mencukupi dan dengan kualitas yang baik. Di sejumlah desa di Kaliwungu, keberadaan Pamsimas memang dirasa mampu meminimalkan dampak kekeringan saat kemarau,” tuturnya.

Dari data administrasi yang dimilikinya, desa-desa rawan air bersih di Kecamatan Kaliwungu yang mengandalkan Pamsimas saat kemarau diantaranya adalah Setrokalangan (tiga sumur), Kaliwungu (dua sumur), Kedungdowo (dua sumur) dan Blimbing (tiga sumur).

“Hampir di semua Desa di kecamatan Kaliwungu ada Pamsimas, namun desa-desa tersebut dianggap paling terdampak bila terjadi kemarau panjang,” tandas Satria. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.