Kisah Inspiratif Abdul Rouf dari Tukang Jahit Keliling Hingga Sukses Menembus Pasar Nasional

oleh -3,593 kali dibaca
Abdul Rouf, pengusaha konveksi dari Desa Padurenan yang merangkak dari penjahit keliling (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus kini dikenal sebagai sentra dengan para pelaku UMKM terutama di bidang konveksi, baju seragam sekolah, seragam kerja, seragam komunitas, pakaian olah raga, seragam kantor, busana muslim dan jaket almamater.

Di desa ini pula telah menjadi saksi bisu perjalanan inspiratif Abdul Rouf (60) dalam mengembangkan UMKM konveksi. Selama lebih dari tiga dekade, usahanya yang bernama Konveksi Barokah Putra telah berkembang pesat dan menembus pasar nasional.

Kisah ini tidak hanya menggambarkan tekad dan kerja keras, tetapi juga inovasi yang diperlukan untuk bertahan dan sukses di industri konveksi. Ia merintis dari nol yakni menjadi Tukang Jahit Keliling di berbagai kota/kabupaten sejak tahun 1990.

Keterampilan menjahit menjadi andalannya untuk mencari nafkah di kota-kota seperti Malang dengan menjadi pekerja pada beberapa pengusaha konveksi disana sebelum akhirnya kembali ke Kudus.

Kembali ke Kudus, Abdul Rouf masih menekuni dunia usaha sebagai penjahit, kemudian menikah dan dikarunia dua orang anak. mulai merintis usaha ia melanjutkan profesi sebagai tukang jahit dan berusaha menabung untuk membeli kain sendiri.

Dia dan istrinya bekerja keras dengan menjual seragam sekolah keliling untuk menambah penghasilan keluarga.

Tuntutan ekonomi mengharuskan Rouf dan istrinya mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pedagang seragam sekolah keliling.

Setiap hari Rouf bekerja sebagai buruh jahit, sementara istrinya berjualan seragam dari Pasar Kliwon Kudus, menuju Demak, Pati, dan Jepara.

Perjuangan tak kenal lelah sepasang suami istri itu berjalan kurang lebih tiga tahun agar ekonomi keluarga kembali stabil.

“Setelah bisa nabung sendiri, hasilnya saya belikan kain untuk dijahit sendiri. Waktu itu memang tidak banyak, dananya terbatas karena masih banyak keperluan lain. Ya kita jalani saja, barangkali ini jalannya,” tutur dia.

Diakuinya, pengetahuannya tentang bisnis konveksi dengan segala pernik-pernik permasalahan serta manajemen dan pemasaran ia peroleh saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Tenaga Kerja Jawa Tengah pada saat itu yang sedang memberikan penyuluhan kepada warga setempat.

“Sebetulnya dalam pelatihan tersebut saya tidak tercatat sebagai anggota, karena kuota peserta yang dibuka saat itu hanya 12 orang telah habis. Tapi karena saya punya keinginan kuat untuk berwira usaha terkait konveksi itulah saya ngotot minta diikutkan, tanpa diberi uang saku dan transport serta nasi kotak pun ndak papa,” ujar Rouf yang kini telah mebuka workshop keduanya Barokah Putra 2.

Dikatakannya, akhirnya saya dituruti oleh koordinatornya, meski tak dapat uang transport namun penyelenggara masih baik kesaya dengan tetap memberi nasi kotak ke saya saat mengikuti pelatihan itu.

“Dari pelatihan inilah segala ilmu terutama marketing saya dapatkan,” ujarnya.

Pengembangan Usaha dari lokal ke regional, semua berawal setelah menikah, kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak dan beaya untuk membesarkan anak menjadi tantangan pihaknya untuk maju.

“Awalnya modal dari mertua saya, beliau menjual kerbau lalu uangnya dititipkan ke saya untuk modal membangun usaha, lalu kami dirikanlah Konveksi Barokah Putra,” ungkapnya.

Usahanya mulai menjajaki pasar lokal di Kudus dan wilayah sekitarnya seperti Demak, Pati, dan Jepara. Awalnya, usaha konveksi ini fokus pada produksi seragam sekolah dan baju batik, yang sangat diminati pada tahun 2000-an. Dengan puluhan karyawan dan peralatan manual, Rouf berhasil menguasai pasar regional.

Pangsa pasar terbatas, jangkauan pemasaran tidak cukup luas, ditambah persaingan antar usaha yang sama menjadi problem terhadap kemajuan Konveksi Barokah Putra.

Dia pun mulai mengikuti pelatihan-pelatihan marketing pengembangan usaha di dalam negeri hingga ke manca negara.

Saat ini, pihaknya mempekerjakan sekira 60 karyawan untuk membantu melayani pesanan jahitan dari para pelanggan. Sekira 35 karyawan di antaranya merupakan penjahit, sementara sisanya merupakan tenaga potong kain, operator mesin, dan pengemasan barang.

“Dalam sehari, tenaga penjahit kita bisa produksi sekira 15 picis baju sesuai orderan. Baik itu berupa jaket, seragam sekolah, almamater, kemeja kerja, kaos olahraga dan lainnya,” tuturnya.

Rouf terus berinovasi dan ekspansi usahanya dalam menghadapi tantangan dan peluang dengan melakukan diversifikasi produk untuk menghadapi persaingan dan memperluas pasar, Rouf mengembangkan berbagai produk baru seperti seragam kerja, jas almamater, jaket, kaos olahraga, toga, dan tas.

Diversifikasi ini membantu Konveksi Barokah Putra untuk tetap relevan dan menarik di pasar yang semakin kompetitif ia lakukan dengan pelatihan dan pengembangan

“Saya berusaha mengikuti berbagai pelatihan marketing dan pengembangan usaha di dalam dan luar negeri untuk meningkatkan kompetensinya,” kata dia.

Pengetahuan yang diperolehnya diaplikasikan dalam strategi pemasaran dan inovasi produk.

Dalam rangka pemasaran produk, transformasi digital menuju UMKM Go Digital, phaknya juga mengadopsi Teknologi Digital dengan bantuan putranya, Rouf mulai menerapkan skema UMKM go digital dengan tanpa menghilangkan sistem penjualan langsung.

“Karena dengan pemanfaatan platform digital membantu memperluas jangkauan pemasaran hingga ke seluruh Indonesia,” katanya.

Dari pantauan media ini di workshop Barokah Putra 1 memang terlihat sejumlah baju seragam orderan yang sedang digarap oleh Konveksi tersebut. Di antaranya, MAN 2 Jepara, MTs Alhamidiyah Demak, UINSUKA Yogyakarta, Stikes Yarsi Mataram (NTB), Politeknik Pontianak.

“Alhamdulillah meskipun tidak menstok produksi, pesanan terus ada, dan beberapa sekolah dan kampus juga mempercayakan seragamnya di sini. Meskipun untuk kampus yang lokal memang belum bisa kita tembus,” tuturnya.

Selain seragam sekolah dan almamater kampus, lanjut Rouf, konveksi miliknya juga sering mendapatkan order dari komunitas maupun kedinasan dari pemerintah daerah. Mayoritas pesanannya berupa kemeja, jaket, kaos olahraga, dan seragam kerja.

“Kita juga mendapatkan orderan seragam wisuda atau toga lengkap, dan memang kebanyakan dari kampus luar Kudus,” tuturnya.

Ia mensyukuri bahwa Konveksi Barokah Putra tidak pernah sepi pesanan, menunjukkan keberhasilan strategi bisnis yang diterapkan oleh Abdul Rouf dan timnya.

“Produk konveksi ini telah menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Jakarta,” katanya.

Usaha konveksi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga Abdul Rouf, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Dengan mempekerjakan banyak karyawan lokal, Konveksi Barokah Putra turut membantu meningkatkan perekonomian Desa Padurenan.

“Sebetulnya saya juga mengalami rasa gelisah saat sejumlah orderan terlihat mendekati habis, akan dapat order dari mana lagi? apalagi saya harus memngupah puluhan pekerja yang menggantungkan hidup disini. Tapi Alhamdulillah dengan berdoa biasanya order itu tiba-tiba datang ke saya,” kata pria yang dikenal dermawan ini.

Saat ini rumah produksi Konveksi Barokah Putra terletak di RT 3 RW 5 Padurenan, Gebog, Kudus tidak pernah sepi pesanan. Setiap harinya bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan pcs dengan mempekerjakan kurang lebih 60 karyawan dibantu dengan lima mesin bordir berbasis komputerisasi.

Kisah sukses Abdul Rouf dan Konveksi Barokah Putra adalah contoh nyata bagaimana ketekunan, inovasi, dan adaptasi terhadap teknologi dapat membawa UMKM ke tingkat yang lebih tinggi.

Desa Padurenan, Gebog, Kudus kini dikenal sebagai rumah bagi salah satu UMKM konveksi yang berhasil menembus pasar nasional, menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang dan berinovasi dalam menghadapi tantangan bisnis. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.