Kisah Relawan MDMC Kudus, Tembus Zona Konflik Myanmar demi Kemanusiaan

oleh -233 Dilihat
Ketua MDMC Kudus Satriyo Yudho Budi Wicaksono yang ditunuk oleh PP Muhammadiyah pusat memimpin bidang Safe and Security Officer dan Logistic dalam Tim MuhammadiyahAid dalam misi kemanusiaan akibat korban gempa di Myanmar (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Di balik gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 hingga 7,9 skala Richter yang mengguncang Myanmar dan sebagian wilayah Thailand pada 28 Maret 2025 lalu, tersimpan kisah heroik dari sekelompok relawan MuhammadiyahAid yang satu diantaranya asal Kudus.

Mereka adalah bagian dari misi kemanusiaan yang dibentuk oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, berjuang menembus medan berat dan zona konflik demi menyalurkan bantuan langsung kepada ribuan korban terdampak bencana.

Adalah Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Kudus, Satriyo Yudi Budi Wicaksono, memimpin misi ini bersama dua rekannya, Syahri “Adhong” Ramadhan sebagai koordinator relawan dan Dwi Kurniawan sebagai relawan data dan media yang dikirim oleh persyarikatan ini selama dua pekan di wilayah konflik Myanmar.

Dalam ekspedisi yang berlangsung sejak 25 April hingga 7 Mei 2025, mereka berhadapan langsung dengan berbagai tantangan, termasuk harus melewati lebih dari selusin pos pemeriksaan militer dan risiko keamanan akibat konflik internal di Myanmar.

Satriyo sendiri di dalam tim memegang peran penting sebagai Safe and Security Officer sekaligus penanggung jawab logistik darurat, memastikan distribusi bantuan berjalan lancar di tengah situasi sulit.

“Kami harus siap diperiksa kapan saja, bahkan perjalanan yang biasanya beberapa jam bisa memakan waktu hingga 13 jam karena banyaknya cek poin militer,” ujarnya.

Sinergi antara MDMC dan Lazismu sebagai pengelola dana umat menjadi kunci keberhasilan misi ini. MuhammadiyahAid mendistribusikan bantuan berupa shelter kits, hygiene kits, alat pembersih reruntuhan, serta bantuan tunai multi-guna senilai lebih dari Rp 550 juta kepada 1.630 keluarga atau sekitar 6.520 jiwa di wilayah Sagaing, Mandalay, Nay Pyi Taw, serta di kamp pengungsi Hinthar dan Sinka dan komunitas Muslim di Amarapura.

Satriyo mengungkapkan, kebutuhan paling mendesak adalah tempat tinggal layak, air bersih, makanan, dan fasilitas ibadah, terutama setelah sedikitnya 12 masjid mengalami kerusakan berat akibat gempa.

“Kami juga sangat terbantu dengan kerja sama organisasi lokal Phoenix, yang membuka akses ke komunitas-komunitas terdampak yang sulit dijangkau,” jelasnya.

Kondisi para pengungsi sangat memprihatinkan. Banyak di antaranya tinggal di pinggir jalan, berteduh di tenda seadanya tanpa sanitasi dan air bersih yang memadai. Meski demikian, mereka menyambut kehadiran relawan Muhammadiyah dengan hangat dan penuh haru.

“Bagi mereka, kehadiran relawan dari Indonesia adalah sumber harapan di tengah ketidakpastian,” kata Satriyo.

Sinergi antara MDMC dan Lazismu sebagai pengelola dana umat menjadi kunci keberhasilan misi ini. MuhammadiyahAid mendistribusikan bantuan berupa shelter kits, hygiene kits, alat pembersih reruntuhan, serta bantuan tunai multi-guna senilai lebih dari Rp 550 juta kepada 1.630 keluarga atau sekitar 6.520 jiwa di wilayah Sagaing, Mandalay, Nay Pyi Taw, serta di kamp pengungsi Hinthar dan Sinka dan komunitas Muslim di Amarapura (Foto: istimewa)

Pengalaman di lapangan juga memperlihatkan bahwa pemerintah setempat belum mampu menjangkau seluruh korban secara maksimal akibat konflik berkepanjangan. Warga pun terpaksa saling bergotong royong membangun tempat pengungsian mandiri untuk bertahan hidup.

Satriyo menambahkan, dukungan dari Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Myanmar dan mitra lokal sangat krusial agar bantuan dapat tersalurkan secara efektif meski menghadapi risiko keamanan.

“Kami bersyukur koordinasi berjalan baik sehingga misi ini dapat rampung dengan sukses,” ujarnya.

MuhammadiyahAid bukan hanya sebuah organisasi kemanusiaan biasa. Tim ini merupakan wujud komitmen Muhammadiyah dalam kerja kemanusiaan global lintas negara dan agama. Laporan lengkap dan dokumentasi misi telah dirilis sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

“Bencana tidak mengenal negara, tetapi kebaikan juga tidak mengenal batas,” tegas Satriyo, menutup kisah perjuangan relawan MuhammadiyahAid Kudus yang terus menyemai harapan di tengah puing-puing bencana dan konflik. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.