Kudus, isknews.com – Kawasan Kecamatan Undaan menjadi pekerjaan rumah terberat bagi pelaksana tugas Direksi Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kudus, Dio Hermansyah. Pasalnya ribuan pelanggan di Kecamatan ini menganggap pelayanan PDAM yang diberikan di wilayahnya tidak optimal terutama terkait kualitas dan kuantitas debit air yang mengalir.
Sebut saja di Desa Glagahwaru, ratusan pelanggan mengeluhkan seretnya aliran distribusi air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Air yang mengalir ke rumah warga tidak lancar, sehari rata- rata hanya sekitar 10- 12 jam, antara pukul 02.00 dinihari hingga pukul 08.00 serta pukul 16.00 hingga 20.00.
“Di luar jam itu air PDAM biasanya sudah tidak mengalir,” ujar Masriatun (48) warga Desa Glagahwaru, Selasa (04/08/2020).

Keluhan lain yang dirasakan pelanggan yaitu, aliran air terkadang keluar kotoran bintik- bintik hitam dan seringkali mengeluarkan bau kapurit menyengat. Walau kondisi seperti itu, gelontoran air PDAM tetap menjadi andalan warga untuk mendapatkan suplai air bersih.
Selama ini kualitas air bawah tanah (ABT) di Desa Glagahwaru tidak layak, berwarna kuning kehitaman, bau tak sedap, serta mengandung ferum.
“Warga tak bisa lagi mengandalkan air bawah tanah karena baunya tidak enak dan berwarna kekuningan, sedang berharap air PDAM kondisinya tidak lancar,” jelas Khoirul Mahdum, warga desa yang juga Kasi Perencanaan Desa Glagahwaru Undaan, Selasa (04/08/2020).
Dari sekitar 1.500 kepala keluarga di desanya, terdapat kurang lebih 600 rumah yang sudah terpasang jaringan PDAM. Pihaknya berharap, distribusi air PDAM bisa semakin lancar karena pelanggan ingin mendapatkan hak yang sama untuk menikmati layanan air bersih.
“PDAM harus berbenah memperbaiki pelayanan dan membangun kepercayaan agar tidak ditinggalkan pelanggan,” pintanya.
Kepala Desa Glagahwaru H Nurdi membenarkan, pasokan air PDAM di desanya tidak mengalir penuh selama 24 jam. Kondisi itu sangat dikeluhkan warga yang menjadi pelanggan PDAM, karena suplai air bersih sangat dibutuhkan warga.
“Memang masih ada warga yang mengandalkan sumur dalam dan sumur Pamsimas, tetapi jumlahnya terus berkurang,” terangnya.
Di Desa Glagahwaru saat ini terdapat dua sumur Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), tetapi hanya satu yang berfungsi.
Salah satu sumur Pamsimas tidak berfungsi karena pompa mati, pipa hancur terkena korosi dan kualitas air yang tidak layak. Desa tak mampu lagi karena perbaikan pompa, penggantian pipa dan pengolahan air dibutuhkan dana besar.
Plt Direktur Utama PDAM Kudus, yang dihubungi terpisah Dio Hermansyah mengakui masih adanya keluhan pelanggan di sejumlah desa di Kecamatan Undaan.
Kini dirinya sedang berkoordinasi dengan seluruh stafnya terkait hal tersebut. Bahkan Dio meminta media memberitakan apa adanya terkait semua keluhan pelanggan. Agar kedepan dia bisa memetakan perbaikan internal PDAM, baik pelayanan maupun infrastruktur.
Menurutnya, terdapat tiga desa yang pasokan airnya belum lancar 24 jam, yaitu Desa Glagahwaru, Desa Kutuk dan Desa Lambangan. Sedang dari 16 desa di Undaan yang belum tersentuh jaringan PDAM tinggal Desa Berugenjang dan Desa Wonosoco.
Sekarang ini jumlah pelanggan PDAM di Undaan mencapai sekitar 12 ribu sambungan rumah (SR). Jumlah pengguna air di Kudus bagian selatan itu masih dapat ditingkatkan hingga 20 ribu pelanggan.
Penambahan pelanggan selama ini terhambat karena ketersediaan air untuk pasokan sangat terbatas.
Hingga kini PDAM Kudus memiliki 63 sumur produksi untuk memasok sekitar 49 ribu pelanggan. Khusus pasokan air pelanggan di Undaan mengandalkan pasokan sumur produksi ABT dari daerah Kecamatan Jati dan perkotaan. Semua sumur saling terkoneksi sehingga
pasokan air ke Undaan semakin besar.
“Air dari sumur produksi sebagian ditampung di reservoir Gang 29 Undaan Lor dan Desa Medini, sebelum disalurkan ke pelanggan,” ungkapnya, didampingi Kabag Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PDAM Kudus, Fatichin.
Untuk mengoptimalkan pelayanan ke seluruh pelanggan, pihaknya berharap tahun depan sudah dapat menyalurkan sumber air permukaan dari Bendungan Logung.
Khusus untuk daerah Undaan PDAM Kudus mempunyai sembilan sumur produksi untuk memasok air bersih ke warga di Kecamatan Undaan, Kudus yang tersalur di 12.700 rumah.
“Idealnya, untuk melayani 12.700 pelanggan PDAM yang ada di Kecamatan Undaan membutuhkan 14 sumur produksi. Namun sembilan sumur produksi sudah disiapkan,” katanya.
Nantinya diharapkan bisa terlayani dari sumber air permukaan Sistem Pengadaan Air Minum (SPAM) Dadi Muria yang rencananya mulai dibangun tahun 2022 mendatang.
SPAM Dadi Muria memanfaatkan air bendung Klambu Grobogan, siap menyuplai air 100 liter per detik atau setara dengan 8 ribu pelanggan.
Dengan adanya penambahan suplai air baku, kualitas pelayanan diharapkan dapat ditingkatkan.
“Kami ingin menjamin ketersediaan pasokan air untuk kebutuhan pelanggan tetap aman,” tegasnya. (YM/YM)











