Lagi, Sidak Komisi D DPRD Kudus Temukan Alkes Mangkrak di 2 Puskesmas Dawe

oleh

Kudus, isknews.com – Komisi D DPRD Kudus kembali melanjutkan safari sidaknya ke sejumlah Puskesmas di Kudus, dengan agenda peninjauan atas aduan masyarakat tentang tak dioperasikannya sejumlah Alat Kesehatan (Alkes) di sejumlah Pelayanan rawat inap di sejumlah Puskesmas di wilayah Kabupaten Kudus.

Ini menjadi sidak kedua setelah sebelumya para wakil rakyat ini mengunjungi Puskesmas Brayung Mejobo dan Puskesmas Jekulo Kudus dengan agenda yang sama.

Alkes dan bangunan yang tidak difungsikan ini menjadi sorotan Komisi D DPRD setempat, karena dinilai tidak mampu memberikan penanganan pasien secara optimal. Hal itu disebabkan adanya alat kesehatan (alkes) yang mangkrak dan tidak berfungsi dalam beberapa tahun, padahal peralatan itu penting untuk memaksimalkan pelayanan selain harganya cukup mahal.

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Kudus, Mukhasiron saat meninjau Puskesmas Rawat Inap Dawe Kudus (Foto: YM)

Hal itu dikemukakan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Kudus, Mukhasiron saat meninjau Puskesmas Rawat Inap Rejosari dan Puskesmas Dawe, keduanya berlokasi di Kecamatan Dawe Kudus.

TRENDING :  Hebat! DPRD Blora Tetapkan 11 Perda

Didampingi Wakil Ketua Komisi D Pieter M Faruq, Sekretaris Muhtamat, serta anggota Akhmad Yusuf Roni, Endang Kursistiyani, Badawi dan Sandung Hidayat, menyayangkan mangkraknya peralatan radiologi di Puskesmas Rejosari.

Alkes tersebut menjadi bagian pengadaan barang tahun anggaran 2009. Peralatan itu tidak dioperasikan karena belum mendapat izin dari pihak berkompeten yaitu Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

“Sudah diproses izinnya, tetapi sampai sekarang belum keluar,” ujarnya, Senin (16/12/2019).

Sedang anggota Komisi D DPRD Endang Kursistiyani menyatakan, alat radiologi di Puskesmas Rejosari itu sudah pernah dioperasikan tanpa izin
Bapeten.  Oleh pihak Bapeten akhirnya diminta untuk dihentikan pada
2016 karena dianggap tidak layak. Terdapat salah satu komponen pada
alat radiologi yang harus dilengkapi.

TRENDING :  Warga Sedulur Sikep Kecewa Pelayanan Kasar Petugas Puskesmas Undaan
Kepala Puskesmas Dawe, Darsono SKM dan stafnya disamping alat penguji kimia darah yang mangkrak akibat reagen sudah kadaluarsa (Foto: YM)

“Izin sudah diajukan, tetapi belum dikeluarkan Bapeten karena dinilai
belum layak,” ungkapnya.

Endang kemudian menyoroti hasil renovasi bangunan gedung rawat inap Puskesmas Rejosari yang kualitasnya jelek. Hal itu terlihat dari pemasangan keramik lantai yang bergelombang, bagian sambungan yang tidak tertutup rapi, warna lantai yang tidak sama, serta bagian pegangan pintu yang rusak.

Renovasi bangunan Puskesmas Rawat Inap Rejosari yang tengah diupayakan peningkatan statusnya menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Tipe D, dikerjakan CV Raja Kembar dengan biaya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 1,7 miliar.

“Anggaran sebesar itu mestinya menghasilkan kualitas bangunan yang baik,” tegasnya.

TRENDING :  PAD Kudus Diperoleh Melalui Mekanisme Yang Tak Memberatkan Dunia Usaha

Rombongan Komisi D DPRD Kudus juga menyoroti Puskesmas Rawat Inap Dawe. Masalahnya sama, terkait belum difungsikannya alkes pengadaan tahun anggaran 2018 yang dibeli satu paket dengan peralatan kesehatan Puskesmas lain di Kudus senilai sekitar Rp 40 miliar.

Alkes tersebut berupa peralatan Elektro Kardiogram (EKG) untuk pemeriksaan jantung, serta Ultrasonografi (USG) untuk pendeteksi organ dalam tubuh menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi.

Kepala Puskesmas Dawe, Darsono SKM mengatakan, kedua alat EKG dan USG sudah difungsikan. Sedang peralatan lain berupa alat pengujian atau
cek kimia darah belum dioperasikan, karena reagen atau bahan yang menyebabkan atau dikonsumsi dalam suatu reaksi kimia tidak tersedia.

“Reagen untuk cek kimia darah ini harganya cukup mahal,” katanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :