Kudus, isknews.com – Kirab budaya yang kini telah menjadi tradisi tahunan yakni Sedekah Bumi kembali digelar warga Dusun Honggowangsan, Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus, digelar dengan start dari arena petilasan Mbah Honggowangso di RT 5 RW 5 Desa setempat pada Minggu (11/05/2025) yang kemudian berarak-arakan keliling dusun dengan finish ditempat yang sama.
Acara yang digagas oleh P3B (Pengurus Pemangku Punden dan Belik) Mbah Honggowongso ini berlangsung meriah di kawasan Punden Sumur Bandung, yang diyakini sebagai peninggalan Mbah Honggowongso, seorang santri dari Sunan Muria diawali dengan penampilan Drumband didahului oleh konvoi jip terbuka yang ditumpangi oleh tokoh masyarakat dusun tersebut.
Kirab budaya menjadi puncak acara siang hari, dengan arak-arakan gunungan hasil bumi dari 10 RT di Dusun Honggowangsan. Selain itu, sejumlah siswa SD turut menyemarakkan acara dengan penampilan seni dan budaya.
Dari pantauan media ini, suasana kirab menjadi semakin meriah kala ratusan warga berebut gunungan yang berisi hasil bumi yang telah dibacakan doa oleh pimpinan adat setempat saat gunungan telah mencapai garis finish.

Menurut Ketua P3B Mbah Honggowongso, Mohammad Nur, kegiatan ini rutin digelar setiap tanggal 13 Apit dalam kalender Jawa yang diikuti oleh warga dari 5 RT dari RW 4 dan dan 5 RT dari RW 5 Desa Honggosoco.
“Ini merupakan kirab kedua. Tahun ini lebih meriah karena selain kenduren dan wayangan, ada kirab budaya yang menjadi puncak kemeriahan kirab budaya apitan di dusun ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kirab budaya ini menjadi upaya awal untuk menghidupkan kembali tradisi yang sempat vakum.
“Biasanya kami hanya menggelar wayang kulit tiap tahun. Namun tahun ini kami mulai dengan kirab sebagai wujud pelestarian budaya lokal agar generasi muda lebih mengenal akar budayanya,” tambah Nur.
Tak hanya itu, menurutnya, acara ini juga sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur dan tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut.
“Kami percaya, Sumur Bandung dan punden Mbah Honggowongso bukan hanya situs sejarah, tapi juga simbol spiritual yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Dari tempat inilah kami belajar nilai kebersamaan, doa, dan gotong royong.”
Sore harinya, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Campursari dari PO Haryanto, disusul malam harinya pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Bangun Desa, sebagai refleksi pentingnya persatuan dan gotong royong di tengah masyarakat.
Selain Sumur Bandung, lokasi acara juga mengenalkan dua belik lainnya, yakni Belik Dandang dan Belik Jogo. Sumur-sumur ini diyakini memiliki nilai spiritual dan khasiat penyembuhan.
“Sumur Bandung dan Belik Dandang sudah tercatat di Kasunanan Kudus,” jelas Mohammad Nur.

Dijelaskannya bahwa, seluruh pendanaan kegiatan bersumber dari swadaya masyarakat.
“Ini bentuk cinta kami kepada budaya dan warisan leluhur. Kami ingin anak cucu nanti tetap mengenal akar mereka,” tambahnya.
Mohammad Nur juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua warga yang telah berpartisipasi, serta kepada PO Haryanto dan CV Tegar Raya yang selalu memberikan dukungannya setiap tahun. Semoga kegiatan ini terus dapat dilestarikan dan menjadi berkah bagi kita semua,” tandasnya. (YM/YM)













