PDAM Kudus Target Tekan Tingkat Kebocoran Air di Jaringan Distribusi Sebesar 22 Persen Tahun Ini

oleh

Kudus, isknews.com – Tingkat Kebocoran Air atau yang disebut juga NonRevenue Water (NRW), adalah air yang tidak berekening yaitu selisih jumlah air yang masuk ke sistem (suplai) dengan air yang tercetak di rekening. Perusahaan  Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kudus menargetkan tingkat kebocoran air atau non revenue water (NRW) pada
jaringan distribusi tahun 2020 maksimal 22,10 persen.

Target itu lebih rendah dari realisasi rata- rata NRW 2019 sebesar 23,14 persen. Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, NRW dipatok maksimal 20 persen.

Direktur Utama PDAM Kudus, Ayatullah Humaini mengatakan, pecahnya pipa jaringan akibat faktor alam, terkena galian, besarnya tekanan, flashing atau pengurasan untuk pembersihan pipa dan pengisian jaringan baru, serta ilegal conection (sambungan liar) menjadi penyumbang
tingginya NRW.

TRENDING :  Kasus OTT PDAM Kudus Kini Diambil Alih Penyidik Kejati Jawa Tengah

“Akibat tingginya NRW, potensi pendapatan dari pelanggan sebesar Rp 500 juta lebih per bulan melayang. Itu belum termasuk biaya perbaikan dan perawatan,” ujarnya dihadapan sejumlah awak media yang menemuinya, Senin (13/01/2019).

PDAM Kudus kini memiliki sekitar 49 ribu pelanggan yang dilayani dari 61 sumur produksi. Untuk menekan NRW agar layanan pelanggan tidak terganggu, PDAM telah memfungsikan alat pendeteksi kebocoran atau leak detector yang mampu mendeteksi dua meter di atas pipa bocor.

“Kalau kebocoran segera terdekteksi, maka potensi hilangnya air dapat
dikurangi,” ujarnya.

Direktur PDAM Kudus, Ayatullah Humaini (Foto: YM)

Tetapi saat musim hujan seperti sekarang, petugas sedikit mengalami
kesulitan atau sering terlambat melakukan deteksi. Hal itu karena air
yang keluar dari pipa pecah tertutup dan tersamar genangan air hujan.
Maka pada triwulan pertama biasanya NRW cukup tinggi.

TRENDING :  Sudah Mulus Jalan Tembus Peganjaran – Besito Kudus

Untuk meminimalkan kebocoran, pihaknya telah membentuk tim di wilayah I dan wilayah II dengan anggota antara 7 personil hingga 10 personil. Tim aktif keliling jika ditemukan tanda- tanda adanya kebocoran,
antara lain setelah mendapatkan laporan dari pelanggan.

Deteksi adanya kebocoran terlihat pula saat pembacaan manometer. “Kalau tekanan terbaca lebih rendah pada jam sama dibanding hari
lainnya, dimungkinkan ada kebocoran,” terangnya.

Kebocoran juga dapat dicegah dengan pemasangan alat Pressure Reducing Valve (PRV), yang berfungsi menurunkan atau mengendalikan tekanan air
agar pipa tak mudah pecah.

PDAM kini telah memasang tujuh buah alat PRV di beberapa titik yang potensi tekanannya besar, seperti di daerah Kecamatan Dawe yang memiliki kemiringan cukup tinggi.

TRENDING :  Ingin Lebih Rindang Pohon Palem Segera Digantikan Pohon Angsana

Tak hanya PRV, pihaknya memiliki alat Geopump yaitu pengendali sistem
jarak jauh yang dipasang di panel pompa luar sumur produksi. Alat itu berfungsi mendeteksi gangguan lebih awal jika terjadi kebocoran sehingga gangguan dapat segera tertangani.

“Berbagai upaya kami lakukan, agar tingkat kebocoran tidak terlalu tinggi,” tegasnya.

Selain membentuk tim khusus menangani masalah kebocoran, terdapat pula tim produksi yang bertugas keliling untuk mengontrol kemungkinan adanya gangguan pada sumur produksi, serta pompa yang tidak berfungsi maksimal karena adanya kerak menempel di bagian impeler, filter air dan pipa penghantar.

“Kalau suplai air dari sumur produksi maksimal dan NRW rendah, maka
potensi pendapatan yang kami peroleh lebih besar,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :