Sejumlah Relawan Ulurkan Bantuan Tempat Tinggal Bagi Sutikah

oleh -379 kali dibaca
Sutikah saat bersama petugas Polsek dan Aparat Kecamatan Mejobo mengemasi barang yang ada dirumahnya, setelah diberi waktu 2x24 jam oleh tetangganya, Selasa (08/03/2022) Foto: YM

Kudus, isknews.com – Karena sudah tidak mungkin lagi bisa menempati rumah kediamannya akibat akses masuk satu-satunya kerumah dia telah ditutup dengan pagar tembok oleh tetangganya. Rumah Sutikah (55), yang berada di lingkungan RT 8 RW 2, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, berencana akan dijual.

Sudah ada yang menawar, namun menurutnya nilainya terlalu murah sehingga Sutikah tak bersedia.

“Sudah ada yang nawar, tapi murah. Saya nggak mau,” ujar dia, Rabu (09/03/2022).

Menurutnya, pasaran harga tanah di wilayah tersebut pada kisaran Rp 2 juta per meter persegi sehingga harga rumahnya menjadi Rp 104 juta karena memiliki luas sekitar 52 meter persegi.

“Pasaran di sini ya segitu, Rp 2 juta per meter persegi,” ujarnya.

Sembari menunggu tempat tinggal baru, sementara ini Sutikah ikut keluarganya di RT 1 RW 1, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Sementara itu, Kepala Desa Mejobo, Muh Abdul Khari, membenarkan Sutikah berencana akan menjual rumahnya seluas 52 meter persegi.

“Yang bersangkutan mintanya dijual dengan harga Rp 2 juta per meter persegi,” ujar dia.

Namun, karena sertifikat tanah pernah terbakar saat kebakaran yang pernah menimpa beberapa waktu lalu.

Abdul Kharis berencana akan membantu membuatkan surat duplikat untuk memudahkan proses jual beli.

“Kami akan membantu mengurus surat sertifikat tanahnya untuk membantu proses jual beli‎,” jelas dia.

Informasinya yang bersangkutan juga masih memiliki sisa uang pesangon karena sebelumnya merupakan pekerja pabrik.

Rencana sebagian uang itu juga akan dipakai untuk membangun rumah sebagai tempat tinggal yang baru.

“Informasinya dulu masih ada pesangon Rp 60 juta yang bisa untuk tambahan membeli rumah,” ujarnya.

Bantuan bagi Sutikah juga mengalir dari kepala desa lainnya untuk memberikan tempat tinggal baru.

“Kepala desa yang lain juga sudah menghubungi saya rencana mereka bersedia ikut membantu,” ujarnya.

Tak hanya itu, sejumlah warga masyarakat atas nama kemanusiaan juga memberikan uluran bantuan terhadap kondisi Sutikah.

Namun ada warga yang rela tanahnya dibeli setengah harga. Sehingga rencananya Sutikah dibantu relawan akan membeli lahan dan rumah itu sebesar Rp 55 juta.

“Angkanya sudah sepakat Rp 55 juta, itu harganya di bawah pasaran. Harga pasaran Rp 1,5 juta per meter jadi harusnya Rp 105 juta,” ucapnya.

Beruntung, kata dia, proses negosiasi tidak terlalu sulit karena masih memiliki hubungan keluarga.

“‎Pembayarannya nanti dari Sutikah sendiri, dibantu relawan dan keluarga,” ujar dia.

Sementara waktu, dia mempersilakan kepada Sutikah untuk memilih tempat tidur sementara.

Pihaknya juga memiliki sejumlah kamar yang bisa dipakai untuk tempat beristirahat bagi Sutikah.

“Sudah banyak yang menawarkan, mau tidur dimana tinggal pilih,” kata dia.

‎Terkait rencana rumah yang dijual, pihaknya tidak mengharapkannya. Pasalnya tanpa menjual rumah, sudah bisa mendapat tempat tinggal.

Bahkan lokasi yang sekarang dinilai jauh lebih layak karena sudah tersedia kamar tidur dan kamar mandi.

Sedangkan rumah yang sebelumnya, hanya berlantaikan tanah dan dinding bata tanpa plester.

“Ini rumahnya sudah ada lebih baik, tapi memang belum dibayar. Rencananya besok,” ucapnya.

Seperti diketahui, Rumah Sutikah janda sebatangkara itu kini tak bisa lagi keluar masuk kerumahnya, akibat akses jalan satu-satunya menuju rumah dia kini telah diblokir dengan tembok setinggi 2.30 meter.

Hal itu disebabkan kekesalan Sunarsih (63) tetangga Sutikah yang kesal dengan sikap dan tabiat Sutikah yang seringkali bertikai dengan Sunarsih.

Puncak kekesalan Sunarsih, saat Sutikah menyebut-nyebut nama Alamrhum Suami Sunarsih dan mendoakan dengan hal-hal yang tidak baik. Lalu keluarga Sunarsih memutuskan untuk menutup dengan tembok area yang masih milik Sunarsih dan selama bertahun-tahun telah digunakan sebagai jalan pertolongan oleh Sutikah, dengan memblokir menggunakan pagar tembok.

Upaya perdamaian yang dilakukan Muspika dan tokoh masyarakat untuk membuka pagar tembok selamanya gagal dan hanya memberi kesempatan 2×24 jam bagi Sutikah untuk mengemasi barang-barangnya. Sehingga kini praktis Sutikah tak bisa lagi keluar masuk kerumahnya.(YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.