Kudus, isknews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menggelar sosialisasi lanjutan kampanye Measles dan Rubela (MR),yaitu Introduksi MR ke dalam Vaksin Rutin di Hotel Hom Kudus, Selasa (7/11/17).
Pengawas Koordinator ( Wasor) Imunisasi DKK Kudus, Ali Muhtadi mengatakan, Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian kampanye MR, yang tujuannya untuk penguatan imunisasi rutin cakupan tinggi, menjaga mutu vaksin dan menjaga kualitas pelayanan.
Setelah kampanye MR ada kegiatan kedalam imunisasi rutin, yaitu diadakan imunisasi dari usia 9 bulan sampai 18 bulan diberikan sekali, kemudian usia 18 bulan sampai usia 3 tahun diberikan sekali. “Praktisnya satu anak diluar kegiatan kampanye itu mendapatkan imunisasi campak MR sebanyak 2x tersebut, usia 9 bulan dan 18 bulan,” jelasnya.
Sebenarnya sosialisasi introduksi MR pertama telah dimulai 1 Oktober 2017 lalu, karena Kabupaten Kudus telah mencapai target Nasional di bulan sebelumnya, yaitu 25 September 2017. kemudian disusul kegiatan lanjutan saat ini yang dihadiri perwakilan dari rumah sakit pemerintah dan swasta, BKIA, Organisasi Profesi dan Puskesmas.

Untuk Kabupaten Kudus Jumlah sasaran rutin bayi sebanyak 16 ribu-an, sedangkan capaian imunisasi campak dan rubella mencapai 100.2% persen atau melebihi target nasional 95 persen.
Ditambahkan Ali, Kegiatan ini merupakan rangkaian untuk menunjang penyakit Campak Rubella dan Congenital Rubella Syndrome (CRS), dimana Rubella pada kehamilan tidak berdampak langsung pada Ibu. Namun, virus ini dapat mengganggu pertumbuhan janin. Gangguan yang terjadi pada anak yang lahir dari Ibu terinfeksi Rubella disebut mengalami CRS. “Sindrom ini merupakan penyakit serius yang tak bisa dianggap remeh,” terangnya.
“Kelainan cacat bawaan akibat virus Rubella, dikatakan Ali, seperti halnya jantung bocor, cacat katarak, tuli dan ini terjadi manakala ibu hamil pada trimester pertama, nantinya 90 persen jika tidak abortus akan terjangkit Virus MR,” jelasnya.
Untuk indikasi CRS, di Kabupaten Kudus sendiri sejauh ini belum diketemukan, mudah-mudahan tidak ada, karena CRS kemungkinan besar tidak bisa disembuhkan. “Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian Rubella (Congenital Rubella Syndrom) pada tahun 2020,” tegasnya. (AJ)











